Kabar Alumni: Komang Ratih Tunjungsari, Angkatan 2011

Komang Ratih Tunjungsari

Komang Ratih Tunjungsari

Komang adalah mahasiswa angkatan tahun 2011, lulus tahun 2013 program Double Degree Indonesia Perancis (DDIP). Dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional (STPBI) ini sekarang (2015) kuliah di IMI University Centre Switzerland.

 Kuliah sambil Les Intensif

Kesempatan untuk dapat mengikuti program Double Degree Indonesia-Perancis yang diselanggarakan oleh DIKTI dengan pemerintah Perancis serta Universitas Udayana merupakan sebuah pengalaman yang sangat kaya akan pengetahuan akademik dan pengetahuan non-akademik.

Setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat pada pagi pukul 08.00 sampai dengan pukul 12.00, saya bersama 12 kawan yang berasal dari berbagai daerah di nusantara digembleng oleh para dosen pariwisata yang mumpuni di bidangnya. Pada siang hari pukul 14.00 sampai dengan pukul 17.00, kami diharuskan bergumul dengan pelajaran bahasa Perancis. Belum lagi hari Sabtu pun kami harus tetap belajar bahasa Perancis di Alliance Francaise Bali dari pagi pukul 08.00 sampai dengan pukul 14.30.

Itu tidak dilakukan semata hanya untuk lulus ujian sertifikasi bahasa Perancis yang bernama DELF, tapi juga untuk persiapan keberangkatan serta pengenalan budaya Perancis. Memang sulit dan berat pada awalnya. Tapi ketika dijalani bersama-sama dengan teman-teman yang akhirnya menjadi seperti keluarga, semuanya terasa mungkin. Meskipun belajar bahasa secara intensif, perkuliahan di kampus tetaplah nomor satu.

Setelah melewati beberapa ujian untuk dapat menembus persyaratan untuk belajar di Perancis, akhirnya saya dan lima orang kawan berhasil menapakkan kaki di Angers, sebuah kota kecil di sebelah Barat Daya Paris dan perlu waktu 1 jam 45 menit dengan menggunakan kereta cepat untuk menuju ke sana. Nama universitas kami waktu itu adalah Université d’Angers.

Adaptasi dengan lingkungan baru

Beradaptasi dengan cuaca, budaya hidup serta budaya pendidikan yang baru dalam waktu yang bersamaan memang tidak mudah, tetapi sangat mungkin jika kita berkeinginan yang sangat besar untuk dapat bertahan hidup. Setidaknya, Saya mencoba menikmati proses adaptasi tersebut secara bertahap.

Pertama, dengan budaya Perancis yang terkenal sangat konservatif dengan bahasa. Akan tetapi, ketika mencoba untuk berbincang dan berdiskusi dengan beberapa orang Perancis, dengan dibantu perjalanan sang waktu, maka sedikit demi sedikit stereotype itu dapat memudar. Dalam artian, kita dapat menerima perbedaan pola pikir tersebut dan memanfaatkannya untuk pergaulan sehari-hari.

Kedua, dengan perbedaan waktu dengan tanah air di Indonesia yang menyebabkan komunikasi dengan keluarga, kolega dan teman-teman pun sedapat mungkin diatur dengan baik. Komunikasi sangat penting dalam masa penyesuaian, jadi cobalah untuk berkomunikasi agar segala pendapat dan buah pikiran dapat dicurahkan. Pepatah ‘waktu adalah uang’ memang sangat aplikatif sekali ketika hidup di negeri orang.

Jam kerja di Perancis maupun negara-negara Eropa lainnya sangat dihargai, ketika harus pulang pukul 5 sore, maka setelah pukul 5 sore tentunya tidak akan dilayani oleh toko maupun tempat publik seperti bank dan stasiun sehingga ketika hendak mengurus rekening bank, asuransi, ataupun urusan administrasi Negara lainya, sebaiknya memperhatikan betul jadwal buka, jadwal istirahat, dan jadwal tutup instansi-instansi tersebut.

Ketiga, dengan budaya pendidikan yang sangat dipengaruhi dengan perbedaan pola pikir dalam penulisan tugas akhir. Kita di Indonesia terbiasa dengan format penulisan pendidikan Amerika dan Australia kemudian diarahkan untuk mengikuti pola penulisan à la Perancis yang menurut saya pribadi relatif tidak melibatkan banyak analisis dalam memaparkan hasil penelitian dalam level penulisan tesis.

Sempat mengenyam pendidikan selama 1 semester dengan bahasa pengantar bahasa Perancis, membuat saya belajar untuk memahami pola pikir tersebut. Enam bulan berikutnya kuliah dilangsungkan dengan bahasa Inggris karena saya mengambil program internasional dan dipertemukan lagi dengan teman-teman dari berbagai belahan dunia seperti Rusia, China, Polandia, dan Aljazair.

Hindari Kebut Semalam

Bertukar pikiran dengan dosen pembimbing sebaiknya dilakukan secara teratur dan berjadwal agar tidak berkutat dengan sistem kebut semalam yang tidak memberikan hasil maksimal. Lokasi penelitian saya ketika itu di Bali mengenai motivasi dan persepsi wisatawan. Saat sebelum berangkat ke Perancis, saya sudah sempatkan untuk berdiskusi dengan dosen pembimbing agar dapat mengumpulkan hasil penelitian lebih awal. Hal ini untuk mengantisipasi padatnya jadwal kuliah dan dibarengi dengan keharusan menulis tugas akhir.

Disiplin dengan waktu namun sesekali berpetualang ke daerah maupun negara sebelah ataupun mengeksplorasi hal-hal yang baru dari sekitar dapat menghalau rasa bosan dan rindu akan kampung halaman.