Surat dari Prancis: Seminar Pariwisata Daerah Pesisir di Buologne-Sur-Mer

Oleh Putu Devi Rosalina, Angkatan 2014

Suasana seminar

Suasana seminar daerah Pesisir di Buologne-Sur-Mer (Sumber foto : www.campusdelamer.fr )

Pada tanggal 16 Maret 2016, saya berkesempatan untuk menemani dosen pembimbing saya, Dr. Sylvine, dalam menghadiri Seminar di Utara Prancis, tepatnya di daerah Buologne-sur-Mer.

Seminar selama dua hari ini bertajuk Colloque «Littoral et Tourisme Durable: quelle champ opérationnel?» Seminar ini membahas mengenai daerah pesisir dan pariwisata berkelanjutan dengan memfokuskan pada bidang operasional apa saja yang harus dilibatkan.

Seminar yang diselenggarakan oleh Campus de La Mer ini adalah hasil kerja sama dengan berbagai pihak seperti peneliti dari seluruh universitas di Prancis, pemerintah seperti dinas pariwisata setempat,  serta pengusaha swasta.

Venue seminar adalah di pusat Universitas Saint Louis. Ajang tukar pengetahuan para ilmuwan ini digelar dalam beberapa sesi, di antaranya pemaparan makalah oleh peneliti selama 20 menit yang dipimpin oleh seorang moderator, kemudian sesi parallel membahas mengenai isu terkini, sampai juga kunjungan langsung ke pabrik untuk mengetahui langsung pengolahan ikan sampai didistribusikan ke pasar.

Resort Terbesar Kedua di Perancisr

Pada sesi pemaparan hari kedua, Dr. Sylvine juga membawakan makalah beliau yang dikerjakan dengan Pr. Philippe Violier. Makalahnya Pour un Modèle de Développement Durable des Grandes Stations Touristiques? L’exemple de Saint-Jean-De-Mont.

Beliau membahas mengenai bagaimana model perkembangan berkelanjutan dengan mengambil studi kasus di Saint-Jean-De-Mont yang merupakan tempat Resort terbesar kedua di Prancis dengan jumlah 130.000 kamar.

Mengawali pemaparannya Dr. Sylvine mengungkapkan bahwa:

“Le tourisme semble pouvoir être un important vecteur du développement durable, car il a pour particularisme de vivre de la qualité de l’environnement qu’il est amené à perturber, mais aussi de l’implication des sociétés locales”

“Pariwisata sepertinya menjadi satu faktor penting dari perkembangan berkelanjutan, karena hal tersebut memiliki suatu kekhususan untuk menghidupkan kualitas lingkungan yang kini kian terganggu, begitu pula dengan dampaknya terhadap masyarakat lokal”

Saint-Jean-de-Mont, wilayah ini dibangun pada tahun 1860 pada masa pemerintahan Naopleon III. Masa kejayaan pariwisatanya terlihat pada tahun 1950, ketika dibangunnya Rideau d’immeubles sepanjang 8 km di pesisir pantai.

Di akhir diskusi, Dr. Sylvine mengungkapkan bahwa Resort yang besar mampu menjadi factor perkembangan keberlanjutan jika terdapat keinginan yang kuat dan semangat kebersamaan. Model pengembangannya adalah melibatkan komunitas dengan pengawasan terhadap kinerja pemerintah, pengusaha sebagai aktor fundamental dari pengembangan lokal, serta turis sebagai co-produktor. Diperlukan pula penerapan konsep seperti SME (Système de Management Environnemental – Sistem Manajemen Lingkungan), SMEL (Société d’Economie Mixte Locale – Percampuran  Ekonomi Masyarakat Lokal), dan EMMA (Energie Maîtrisé Mobilité d’Avenir – Mobilitas Pengelolaan Energi di Masa Datang).

selvine sem

Dr. Sylvine di mimbar saat presentasi.

Pariwisata Pesisir

Pada sesi Paralel, saya mengambil kelas La connaissance de la valorization Touristique des espaces littoraux et maritimes. Sesi ini secara umum membahas mengenai bagaimana peningkatan kualitas daerah pariwisata di pesisir dan maritim. Terdapat lima narasumber, diskusinya antara lain mengenai: definisi dari pariwisata keberlanjutan di daerah pesisir yang justru bisa menjadi kompetisi atau saling melengkapi, kemudian dilanjutkan dengan aktivitas sportif dengan analisis komparatif di daerah dilindungi, lalu pembahasan aktivitas sportif dilihat dari segi ekonomi dengan studi kasus ecoutourism di Pulau Noirmoutier, dilanjutkan pula dengan kerja sama antar pelaku pariwisata dan perubahan iklim di pesisir Opale. Diakhiri dengan pemaparan dari Maroko mengenai adanya keambiguan antara pariwisata keberlanjutan atau bahaya keberlanjutan dengan studi kasus di Tétouan-Ceuta di Western Mediteranian.

Berkunjung ke Pabrik Ikan

Buologne-Sur-Mer memiliki komoditas terbesar berupa hasil laut seperti ikan, untuk itu, kami juga diajak untuk melihat langsung bagaimana proses pengolahan ikan di dua perusahaan, yakni Corrue & Deseille yang berbasis tradisional dan Vent du Nord – Boucan’Or yang berbasis industrial.

Saat itu saya dan Dr. Sylvine memilih untuk berkunjung ke Corrue & Deseille. Pabrik ini ternyata didirikan secara turun temurun selama 4 generasi, dengan memiliki pekerja sebanyak 44 karyawan. Kami menyaksikan langsung bagaimana mengolah ikan hasil tangkapan nelayan, mulai dari memotong dan membersihkannya, kemudian bagaimana proses pengasinan, pemberian bumbu, dan pengasapan, sampai terakhir pengemasan.

Gambar 3. Proses Pengolahan Ikan di Perusahaan Corrue & Deseille

Proses Pengolahan Ikan di Perusahaan Corrue & Deseille

Mengintip Pariwisata di Buologne Sur Mer

Usai seminar, kami berkeliling di sekitar kota kecil ini. Berbekal secarik peta dan saran dari Resepsionis Hotel, kami berjalan menuju pantai sekitar 1 km dari hotel. Berjalan di kota Buologne terasa amat menyenangkan ditemani dengan suara burung yang selalu mengudara dan desiran angin di Pantai. Tidak terasa, kami sampai di Pantai Buologne, beberapa penduduk setempat juga terlihat bercengkarama dan menikmati pemandangan bersama keluarga. Di dekat pantai, juga terdapat Nausicaä Centre National de la Mer yang juga merupakan Aquarium Umum terbesar di Eropa.

suasana di pantai (1)

Suasana di Pantai

Bangunan di Buologne sangat khas dan berbeda dibandingkan kota lainnya di Prancis. Bangunan yang disebut sebagai Quai Gambetta’s Four ini dirancang oleh arsitek bernama Pierre Vivien antara tahun 1951 dan 1955, yang didirikan untuk membangun kota baru setelah perang. Bangunan dengan tinggi 40 m ini tergolong berkualitas tinggi dan yang terbaik di masanya.

Suasana di Pusat Kota

Suasana di Pusat Kota. Berada di tengah kota Buologne seperti berada di tahun 1950-an, seakan menjelajahi museum hidup.

Berbicara mengenai pariwisata tentunya tidak terlepas dengan masyarakat lokal. Masyarakat lokalnya sangat ramah dan ringan tangan. Bahkan, kami menemukan pengalaman unik saat pertama kali menginjakkan kaki di Buologne. Ada orang lokal yang berbaik hati menawarkan tumpangan untuk sampai ke hotel, bahkan memberikan saran untuk mengunjungi beberapa tempat di sekitar. Ini sangat jarang terjadi mengingat budaya Eropa yang cenderung individualis.

Berplesiran ke Kota Buologne tidak saja memberikan pengalaman yang mengesankan dan mendapat bekal ilmu, tetapi juga mengamati langsung bagaimana potensi suatu daerah dapat dikemas menjadi sangat menarik. Buologne yang seakan seperti kota tua justru menjadi unik karena penegasan dan preservasinya akan hal itu.