Surat dari Perancis: Menghargai Budaya Lain Diawali dengan Mendalami Budaya Sendiri

Oleh Putu Devi Rosalina, Angkatan 2014

devi fb

Penulis (dua dari kanan), bersama teman-teman sekuliah di Perancis, saling mengenal budaya negara masing-masing.

Kuliah di luar negeri tak hanya dapat mendalami ilmu di dalam kelas tetapi juga di luar, terutama ketika bergaul dengan teman-teman sekampus yang berasal dari berbagai negara dan aneka budaya. Mata kuliah Intercultural Management, misalnya, memberikan kami peluang besar untuk belajar perbedaan budaya secara teoritik di kelas dan secara praktik di luar kelas, baik di kampus maupun dalam pergaulan sehari-hari.

Tidak terasa, sudah hampir satu semester saya mengikuti perkuliahan di Perancis. Program yang saya ambil adalah Master 2 Tourism and Hospitality Management di School of Tourism and Hospitality Management, University of Angers, 2 jam naik kereta dari Paris.

Di kelas kami, ada total 32 mahasiswa dari berbagai belahan benua, termasuk dari Asia, Eropa, bahkan Amerika. Tujuh orang di antaranya, termasuk saya, berasal dari Indonesia, sedangkan sebagian besar berasal dari daerah Prancis seperti Brittany, Grenoble, dan Lille.

Saya mengambil program double degree dengan beasiswa dari pemerintah Indonesia lewat Kementerian Ristek Dikti. Saya melamar program double degree Indonesia-Perancis (DDIP) ini sebagai mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud. Teman sekelas saya lainnya di Perancis ada juga yang mengambil program sama dengan beasiswa dari Erasmus Mundus.

Suasana di kelas sangat menyenangkan, ditambah lagi karena adanya percampuran budaya dan latar belakang yang berbeda tersebut. Sebenarnya ini juga tidak jauh berbeda ketika saya di kampus UNUD dulu, karena ada juga mahasiswa asing yang berasal dari Timor Leste dan Korea Selatan.

Menghargai Budaya Lain

Tidak dipungkuri pula, warna-warni perbedaan inilah yang justru menegaskan warna apa pribadi kita sebenarnya. Kita jadi dituntut untut belajar banyak tentang budaya sendiri sebelum memperkenalkannya.

Contoh sederhananya saya harus belajar lebih banyak tentang bumbu genep, lawar, sate lilit dan babi guling ketika harus mempresentasikan tentang makanan khas dari daerah masing-masing di mata kuliah Food and Beverage Management.

Saat itu, saya dan teman saya Galih, kami juga memasak Lumpia Khas Semarang dan dibagikan kepada seisi kelas. Keriangan lainnya lagi adalah saat mata kuliah Intercultural Management. Di sini kami diharuskan mempresentasikan atau membuat role play yang menceritakan bagaimana stereotype dan perbedaan mencolok antara dua negara.

Menarik sekali. Dari ini semua, kami belajar bagaimana belajar dan menghargai budaya lain, dengan terlebih dahulu mendalami dan mengenal budaya sendiri.

Ke Prancis, Belajar Indonesia

Ada lagi hal lainnya yang sangat unik saya, yakni mata kuliah Development of South East Asia. Pelajaran ini menggunakan bahasa pengantar bahasa Prancis dan dengan mendatangkan dosen dari Universitas Sorbonne-Paris.

Hebatnya, dosen kami yang bernama Mr. Sevin Olivier ini sangat fasih berbahasa Indonesia, bahkan pengetahuannya tentang Indonesia sangat mendetil.

Perkuliahan beliau dimulai pada awalnya dengan menjelaskan mengenai bagaimana pada mulanya orang Eropa mendatangi daerah Asia Tenggara, kemudian dilanjutkan komoditas utama, sampai juga dengan penyebaran agama dan tempat peribadahannya.

devi gambar 1

Gambar 1. Sesi Perkuliahan Development of South East Asia

Unik juga ternyata, bahwa bahkan orang asing mengetahui dan ingin tahu lebih banyak tentang budaya Indonesia. Saya sempat terheran ketika Bapak Olivier ini menjelaskan tentang kaja-kelod dan Pura Desa-Puseh-Dalem, Ngaben dan masih banyak lagi, yang bahkan beliau menguasainya sedetil itu (Gambar 2).

Gambar 2. Salah satu Materi dari pelajaran Development of South East Asia

Gambar 2. Salah satu Materi dari pelajaran Development of South East Asia

Bercermin dari Luar

Bali, dengan menjadikan budaya sebagai pondasi utama pariwisatanya, mengharuskannya untuk selalu menegaskan budaya sambil bertahan di tengah gerusan modernisasi. Sayangnya beberapa pelaku pariwisata belum ‘percaya diri’ dengan kemegahan budaya Bali yang padahal orang luar mengaguminya dengan sangat. Mengutip secuil  dari apa yang Michel Picard tegaskan dalam bukunya Pariwisata Budaya, Budaya Pariwisata, bahwa:

“Dengan demikian, orang Bali, oleh karena didorong untuk melestarikan dan mempromosikan identitas budayanya dengan mengacu pada pandangan dunia luar terhadap mereka, pada akhirnya mencari dalam cermin yang disodorkan oleh wisatawan penegasan atas kebalian mereka” (Picard, 2006:291).

Sungguh, terkadang kita tidak akan menyadari betapa menariknya budaya kita sendiri, justru dari mata orang luarlah yang bisa melihatnya lebih jeli.

Saatnya kita bercermin dari luar, merefleksikan bagaimana Bali sesungguhnya, dan menanamkan kekhasan Bali di setiap inchinya.