Surat dari Perancis: Memperkenalkan Tarian dan Makanan Bali ke Siswa di Saumur

Oleh Putu Devi Rosalina, Angkatan 2014

Devi (kanan) dan Tika memperkenalkan tari Bali kepada anak-anak sekolah di Saumur (Foto Sylvine)

Devi (kanan) dan Tika memperkenalkan tari Bali kepada anak-anak sekolah di Saumur (Foto Sylvine)

“Every body was completely under the charm and wanted to come to visit Bali! I send you some pictures”.

Kesempatan belajar di Perancis tak hanya memberikan kami peluang untuk mengenal budaya mereka tetapi juga memperkenalkan budaya Bali kepada mereka. Begitulah, Selasa, 18 November 2015 pagi hari, kami mendapat undangan untuk datang ke sebuah sekolah Taman Kanak-kanak di kota Saumur.

Saumur berjarak tempuh sekitar 30 menit perjalanan dengan kereta api dari kota tempat kami tinggal, Angers. Dengan perlengkapan dan materi promosi Bali seadanya, Mbak Tika dan saya bergegas menuju stasiun kereta untuk pergi ke Saumur.

Mbak Tika adalah mahasiswa S3 program doktor Pariwisata Universitas Udayana yang tengah menempuh program doktor di Université d’Angers. Saya mahasiswa Program Magister Kajian Pariwisata Unud yang menempuh program master di universitas yang sama. Kami berdua menempuh program Doubel Degree Indonesia Perancis (DDIP) dengan beasiswa dari pemerintah Indonesia dan Perancis.

Kebetulan kami berdua dibimbing oleh dosen yang sama, yakni Madam Sylvine Pickel Chevalier. Beliau mengundang kami untuk datang ke kota tempat beliau tinggal, dan berkunjung ke sekolah tempat putri sulungnya, Elisia (4 tahun) bersekolah.

Anak-anak belajar menari Bali.

Anak-anak belajar menari Bali.

Perkenalkan Budaya Bali

Madam Sylvine mengundang kami untuk memperkenalkan budaya Bali kepada anak-anak sekolah. Mbak Tika dan saya memutuskan untuk memperkenalkan tarian Bali dan makanan khas Bali. Selain itu, kami juga membawa beberapa foto potensi pariwisata Bali. Selama perjalanan, kami sedikit latihan untuk persiapan menari Bali. Kami pilih Tari Panyembrama.

Sesampainya di Saumur, tidak perlu lama menunggu, kami dijemput oleh Madam Sylvine yang juga sangat bersemangat untuk hari ini. Akhirnya, kami tiba di sana sekitar pukul 9 waktu setempat dan langsung disambut dengan senyum dan tawa riang anak-anak yang antusias dengan kedatangan kami.

Helene, salah seorang guru di sana, menghampiri sambil mengucapkan bonjour dan ‘selamat datang’ kepada kami. Setelah bergegas berganti pakaian dan bersiap, saya pun semakin tidak sabar untuk menunjukkan salah satu elemen budaya Bali yaitu tarian Bali.

Kami ingin melihat bagaimana ekspresi dari anak-anak yang untuk pertama kalinya menyaksikan tari Bali. Kami menunggu di suatu ruangan dan Helene pun kembali menjemput anak-anak untuk memasuki kelas, “It’s going to be a surprise for them,” tambah Helene.

Reaksi Mereka Sangat Lucu

Setelah semuanya siap dan musik mulai dimainkan, saya dan mbak Tika keluar ruangan dan menari di depan mereka. Reaksi mereka sangat lucu sekali, ada yang bengong memperhatikan dengan seksama, ada juga yang mencoba mengikuti gerakan tarian dengan temannya.

Selama sekitar 20 menit kami menari semuanya menyaksikan penuh antusias. Di akhir pentas, Helene bertanya “Est-ce que ça vous a plu? Apa kalian sukaSemua berseru iya. “C’est formidable, luar biasa tambah Helene yang diikuti dengan anggukan anak-anak.

Usai menari kami juga menunjukkan beberapa foto tentang alam dan budaya di Bali, saat saya mendekati anak-anak, salah satu anak yang bernama Tom bertanya:

“Est-ce que vous parlez Français?” [Anda bicara bahasa Prancis]

“Oui, un peu.”[Iya, sedikit]

“Où est Bali? Vous habitez là-bas?”[Dimana Bali? Kamu tinggal di sana?]

“Oui, Bali est très loin d’ici, si tu y vas, tu peux trouver beaucoup de belles vues et temples, et aussi tu peux regarder de danse comme ça.”

[Iya, Bali jauh dari sini, kalau kamu berwisata ke Bali, kamu bisa melihat tari-tarian Bali, banyak pura dan pemandangan alam yang sangat indah seperti di gambar itu]

“Whoa,” sahutnya sambil tersenyum dengan nada heran yang menggemaskan.

Setelah bercengkrama ringan tentang Bali, anak-anak ini juga belajar menari Bali yang dibantu oleh Mbak Tika “satu, dua, tiga, empat dan buka tangannya seperti ini, voila, c’est ça”.

Mereka juga mencoba makanan ringan khas Bali, seperti pulung-pulung ubi. Terakhir, giliran mereka yang menyanyikan lagu terima kasih kepada kami. Tidak lupa, kami juga memberikan beberapa cinderemata khas Bali sebagai kenang-kenangan. Mereka semua tidak sabar dan ingin cepat mencoba memakai, terutama udeng yang silih berganti mereka coba pakai.

Begitulah kiranya pengalaman yang tidak terlupakan untuk hari ini. Beruntung sekali kami diberikan kesempatan oleh Madam Sylvine untuk berbagi dan bercerita dengan anak-anak disela-sela studi kami di sini.

Tidak disangka pula respon mereka pun sangat bersemangat dan luar biasa untuk terbuka dan mau menerima budaya asing. Secara tidak langsung hal ini juga menjadi salah satu bagian dari promosi pariwisata, dengan memperkenalkan budaya dan alam Bali, sehingga kelak, ingatan mereka di hari ini bisa menjadi motivasi di suatu saat nanti untuk mengunjungi dan menyaksikan keindahan pesona Bali.

Mendengarkan lagu sebagai ucapan terima kasih dari anak-anak

Mendengarkan lagu sebagai ucapan terima kasih dari anak-anak

Ingin ke Bali

Kesan anak-anak sekolah itu ingin ke Bali disampaikan oleh A/Prof. Sylvine Pickel Chevalier, seperti tertulis dalam sebuah emailnya yang dikutip di awal tulisan ini. Email itu dikirimnya kepada dosen kami di Bali, Prof. KG Bendesa dan Prof I Nyoman Darma Putra.

Email pendek selengkapnya adalah sebagai berikut:

Dear Bendesa and Darma

I hope that you are doing well. You can be proud of Devi and Sartika, who highly represented today Bali and our beautiful relationship, by being invited into the class of Elisia my eldest daughter (4 year old) to show them a Balinese dance and  to initiate teachers and children. They even bring some balinese food.Every body was completly under the charm and wanted to come to visit Bali !I send you some pictures.

Kind regards

Sylvine

Diam-diam kami senang membaca email itu karena apa yang kami lakukan dengan senang hati telah membuat banyak orang merasa senang. Kami senang bisa memberkenalkan seni budaya Bali kepada segelintir anak-anak Perancis (*)

Email: putudevi31@gmail.com