Surat dari Perancis: DDIP yang Berawal dari Mimpi

Putu Devi Rosalina, Angkatan 2014

Di depan Presidence de L'universite d'Angers

Di depan Presidence de L’universite d’Angers

Pertama kalinya mendengar beasiswa Double Degree Indonesia Perancis (DDIP) di tahun 2010, tentunya saya sangat tertarik. Tapi saat itu, saya masih merasa hanya mimpi. Ada banyak persyaratan yang harus dilengkapi dan saya masih jauh dari itu. Namun, apa salahnya mencoba, pikir saya.

Syukurlah, setelah perjuangan panjang, rumit, terkadang melelahkan, mimpi itu jadi kenyataan.

DDIP merupakan program dari Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana bekerja sama dengan Université d’Angers dan Université Paris-Sorbonne. Penerima beasiswa ini akan dibiayai selama satu tahun oleh DIKTI untuk belajar di Perancis dengan nantinya mendapatkan dua gelar sekaligus yaitu M.Par dan M.Rech atau M.Pro.

Di Depan La Tour Eiffel

Di Depan La Tour Eiffel

Langkah Pertama

Langkah pertama saya untuk mendapatkan beasiswa ini adalah mencari informasi sebanyak mungkin. Sekretariat Prodi S-2 Kajian Pariwisata adalah tempat pertama yang saya tuju.

Saya ingat sekali, waktu itu saya banyak bertanya dengan Pak Nyoman Kariana, beliau menjelaskan banyak informasi penting sambil menyerahkan brosur yang berisi detail tentang DDIP.

Setelah itu, saya juga mengunduh buku panduan DDIP di Internet. Dari itu saya jadi tahu apa saja yang menjadi persyaratannya, seperti calon dosen, kefasihan berbahasa Inggris dan Prancis, serta LoA (Letter of Acceptance) dari universitas di Perancis.

Untuk melengkapi persyaratan calon dosen, saya melamar ke beberapa perguruan tinggi swasta. Setelah dengan sabar mengunggu, akhirnya Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional (STPBI) memanggil saya untuk ujian tulis, tes wawancara kemudian micro-teaching. Waktu berlalu dan saya berhasil diangkat menjadi dosen honor di STPBI. Di sini, saya bertemu dengan Pak Dewa Oka, Pak Laba dan Bu Ayu Sulasmini, mereka yang paling sering saya repotkan untuk surat menyurat sebagai keperluan administrasi beasiswa.

Persyaratan berikutnya adalah penguasaan bahasa Inggris. Oleh karena itu, saya mengambil persiapan IELTS di IALF. Di sinilah saya bertemu dengan Mbak Diah Sastri, yang juga ternyata mendaftar di Kajian Pariwisata Unud. Saya juga mendapatkan banyak informasi dari Mbak Diah karena koleganya pernah mendapatkan beasiswa ini. Selain itu, saya juga mengambil TOEFL ITP di Lab bahasa UNUD. Beruntung, nilai IELTS dan TOEFL saya melampaui persyaratan.

Kursus Bahasa Perancis

Sembari menunggu informasi lebih lanjut dari DIKTI, saya menyibukkan diri untuk mengisi diri sambil perlahan melengkapi persyaratan lainnya. Saya mulai kursus bahasa Perancis di Alliance Française (AF) Bali.

Di sini saya bertemu dengan Pak Lesmana, guru yang sangat saya kagumi, dari mulai cara mengajarnya, kesabarannya sampai kerendahan hatinya. Pak Lesmana juga yang memberikan informasi kepada saya terkait DDIP sampai memperkenalkan saya dengan calon penerima beasiswa yang saat itu sedang kursus di AF.

Setelah beberapa bulan saya kursus di AF, Pak Lesmana memberikan tawaran untuk mengajar bahasa Indonesia di sana. Saya merasa sangat beruntung sekali, karena ini sekaligus pembelajaran bagi saya untuk mempraktekan bahasa Perancis. Singkat cerita, pada tanggal 30 Juni 2015, saya berhasil mendapatkan Delf B1.

Setelah persyaratan calon dosen dan penguasaan dua bahasa asing, kali ini Leter of Acceptance (LoA), yakni surat yang menyatakan bahwa kita diterima di perguruan tinggi tujuan.

Beruntung sekali saya kenal dengan Pak Budarma, yang saat itu sedang studi S3 di Université d’Angers. Beliau membantu banyak hal tentang administrasi di Angers dan mengarahkan untuk berkoordinasi langsung dengan Ibu Sylvine.

Setelah menyampaikan proposal dan kefasihan berbahasa asing, akhirnya saya berhasil mendapatkan LoA tersebut. Pak Budarma sangat bersemangat dan optimis untuk saya, beliau bukan hanya memberikan informasi tentang persyaratan administrasi tetapi juga memberikan informasi mengenai persiapan keberangkatan, walaupun sesungguhnya saya sendiri belum yakin akan mendapatkan beasiswa ini.

Semakin Jelas

Kabar tentang DDIP sayup-sayup terdengar, sampai pada akhirnya Kaprodi kami, Prof. Darma Putra menginformasikan tentang beasiswa ini di sela-sela kunjungan kami ke Nusa Dua. Mulai saat itu, semuanya terlihat semakin jelas, sampai akhirnya pada tanggal 29 Juni 2015 ada e-mail dari DIKTI untuk mengunggah berkas administrasi.

Untuk keperluan administrasi dan teknis pendaftarannya saya dibimbing oleh Prof. Darma Putra dan diarahkan untuk berkoordinasi dengan Pak Bayu Prasetyo dan Pak Zainal. Pada tanggal 10 Agustus 2015, muncul pengumuman untuk wawancara, beruntung sekali, saya dan Lyan lolos di tahap ini.

Pengumuman selanjutnya adalah pada tanggal 29 Agustus 2015 dengan kemudian dikirimkan undangan lokakarya pra keberangkatan pada tanggal 2 September 2015. Saya bisa bernafas lega, walau hanya sebentar, karena setelah ini masih ada lagi yang harus dilengkapi seperti paspor, visa, BGF (Bourse de Gouvernement Française), Guarantee Letter, SP Setneg, tiket dan attestation de logement yang kira-kira memerlukan waktu sekitar 1 bulan untuk melengkapi berkas tersebut dengan bolak-balik Jakarta-Bali.

Akhirnya Berangkat

Sampai akhirnya, hari yang dinanti itu tiba, tepat tanggal 21 Oktober 2015, saya berangkat ke Perancis. Sesampainya di Perancis, rintangan yang dihadapi tidak hanya jetlag, menyesuaikan budaya dan bahasa, tetapi ditambah lagi dengan berbagai urusan administrasi lainnya.

Beruntung sekali ada Ester dan Mbak Sartika yang membantu dan mengarahkan saya untuk itu, sehingga semuanya lancar dan cepat selesai sesuai harapan.

Bersama Mbak Sartika untuk urusan Bank

Bersama Mbak Sartika untuk urusan Bank

Proses saya menuju mimpi ini tidak ternilai harganya. Jatuh bangun, sempat merasa putus asa dan ingin berhenti. Namun, beruntung selalu ada orang-orang baik yang bersedia membantu. Bahkan, hal kecil sekalipun, selalu ada bimbingan dan arahan orang lain yang memperlancar segalanya.

Terima kasih banyak pula untuk keluarga atas doa dan dukungannya serta rekan-rekan di AF dan STPBI, alumni DDIP sebelumnya, Erinda Moniaga, Mbak Ita dan Muhammad Akzar yang semuanya selalu saya repotkan dengan berbagai pertanyaan.

Bersama Ester Anggarani Ke Belle Beile untuk Logement

Bersama Ester Anggarani Ke Belle Beile untuk Logement

Topik Riset

Tugas saya selanjutnya adalah menyelesaikan studi di Université d’Angers dengan mengambil topik Enhancing Tourists’ Satisfaction on Cross-Cultural Communication: Case Study Munduk Village-Bali. Topik ini juga sudah pernah dipresentasikan di Kelas Seminar di Unud dengan mendapatkan persetujuan dari Prof. Darma Putra, Prof. Antara dan Pak Dr. Dewa Oka. Terakhir, jalan saya masih panjang, ini baru permulaan, masih banyak yang harus saya usahakan dan perjuangkan lagi. Mohon doa dan dukungan untuk seterusnya.

Il n’y a point de bonheur sans courage, ni de vertu sans combat (There can never be happiness without courage, nor virtue without struggle) – J.J. Rousseau –

Email: putudevi31@gmail.com