Studi Trip : Implementasi CBT dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Monkey Forest di Padangtegal Ubud

Turis sedang happy bercanda dengan kera di Monkey Forest Ubud (Foto-foto Darma Putra)

The Sacred Monkey Forest Sanctuary atau dikenal dengan Monkey Forest Ubud terletak di Desa Padangtegal, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar dengan jarak tempuh sekitar 25 kilometer dari Kota Denpasar Bali.

Kami, mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata, Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, melakukan studi lapangan ke Monkey Forest Ubud, Jumat, 1 Desember 2017. Kegiatan yang diikuti 44 mahasiswa dan dipimpin Kaprodi Prof. I Nyoman Darma Putra itu bertujuan untuk mendalami pelaksanaan pengelolaan daya tarik wisata berbasis masyarakat (CBT).Daya tarik wisata alam yang memiliki lahan seluas 12,5 ha ini merupakan habitat dari 731 monyet ekor panjang (spesies macaca fascicularis). Konon, hutan dan keberadaan monyet ini sudah diketahui sejak tahun 1181 di bawah kepemimpinan Sri Aji Jayapangus yang digunakan sebagai tempat perburuan kerajaan.

Kera di Monkey Forest Ubud.

Kawasan tersebut dilestarikan oleh raja dan pada abad ke-14 M pura dan perkampungan Padangtegal ini dibentuk.

Studi Lapangan

Studi lapangan yang diikuti oleh mahasiswa Program Studi Magister Kajian Pariwisata dimulai pukul 09.00 hingga pukul 12.00 di Monkey Forest Ubud. Kunjungan ini dilakukan untuk mengenali dan memahami contoh nyata penerapan CBT (Community-Based Tourism) pada sebuah daya tarik wisata ( baca juga  Studi Lapangan )

Peserta field study berfoto usai diskusi.

Pemaparan materi diberikan oleh I Nyoman Buana selaku General Manager yang berlangsung di Exhibition Gallery. Materi yang disampaikan meliputi gambaran umum, sejarah, filosofi pengelolaan yang berlandaskan Tri Hita Karana, analisis SWOT, struktur organisasi, peruntukan daya tarik wisata, perbedaan dengan destinasi serupa di daerah lain, implementasi 3 pilar kompetensi sumber daya manusia, kegiatan di destinasi, informasi tentang kehidupan monyet (makanan dan pengawasan populasi), daftar penghargaan, dan informasi tiket masuk ke Monkey Forest Ubud.

GM Monkey Forest Nyoman Buana saat memberikan penjelasan.

Penyampaian materi diakhiri dengan sesi tanya jawab dengan mahasiswa, kemudian dilanjutkan dengan berkeliling di area Monkey Forest Ubud.

Murni Dikelola dan Milik Masyarakat

Monkey Forest Ubud merupakan salah satu daya tarik wisata yang murni dikelola dan dimiliki oleh masyarakat Desa Adat Padangtegal.

Adi saat diskusi.

Konsep pengelolaan yang diterapkan adalah Tri Hita Karana yang berarti tiga cara untuk mencapai kesejahteraan lahir dan bathin. Tiga cara tersebut meliputi keharmonisan hubungan dengan sesama manusia (pawongan), hubungan dengan alam sekitar (palemahan), dan hubungan dengan Tuhan (parahyangan).

Implementasi dari konsep tersebut menghasilkan manfaat berupa biaya untuk kegiatan upacara, biaya perbaikan dan pembangunan pura, membuka lapangan kerja dan kesempatan berusaha, penyertaan modal di LPD (Lembaga Perkreditan Desa), subsidi upacara ngaben dan biaya rawat inap, beasiswa untuk masyarakat yang belajar di Fakultas Pertanian, Kehutanan, Kedokteran Hewan, Peternakan, kursus-kursus (bahasa Inggris dan komputer), klinik pengobatan desa, penataan kawasan desa, dan perluasan kawasan hutan.

Peserta mendengarkan ceramah.

Klausa tentang Monkey Forest Ubud telah dimasukkan ke awig-awig desa pada tahun 2013 (Bab VI Pasal 95) dengan tujuan agar kawasan dijaga agar bisa diwariskan ke generasi di masa yang akan datang.

Karyawan terdiri dari 131 orang dari lingkungan masyarakat dan 79 orang dari outsourcing. Karyawan dari lua rini bersifat sementara dan bertujuan untuk transfer skill dan sepirit kerja. Maksudnya, agar pegawai lokal bisa belajar keterampilan kerja dari tenaga outsourcing.

Menyiapkan makanan kera.

Perbedaan dengan Objek Serupa

Monkey Forest Ubud memiliki beberapa perbedaan dibandingkan dengan destinasi serupa lainnya. Hal tersebut dapat dilihat dari tidak dipungutnya biaya parkir (free parking fee), tidak menerima tipping dari wisatawan, tidak ada photo service, dan pemandu yang tidak multitask.

Harga tiket masuk untuk wisatawan asing dan domestik dikenakan biaya sebesar Rp 50.000, sedangkan untuk penduduk Bali (KTP Bali) Rp 30.000. Biaya tiket sudah termasuk biaya parkir, asuransi dan fasilitas yang ada di Monkey Forest Ubud.

Peserta field study

Pihak pengelola berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik dan tidak menerima tipping dari wisatawan untuk segala bantuan yang dibutuhkan oleh wisatawan selama berada di destinasi ini. Photo service tidak disediakan oleh pengelola mengingat wisatawan sudah memiliki gadget maupun smartphone yang dapat digunakan untuk mengabadikan berbagai aktivitas mereka.

Pemandu yang tersebar di beberapa titik dalam destinasi ini juga hanya berfokus kepada pengunjung dan perilaku monyet di destinasi demi memberikan pelayanan yang terbaik.

Pihak pengelola Monkey Forest Ubud telah merancang pengembangan destinasi berupa perencanaan area parkir di bagian timur menjadi Monkey Forest Park dengan fasilitas tempat olahraga, central parkir dan tempat pertunjukan art and culture.

Beberapa kendala juga dihadapi oleh pihak pengelola, seperti carrying capacity yang ideal untuk menampung pengunjung dengan jumlah monyet yang terus tumbuh dan kompetensi karyawan (aspek sumber daya manusia).

Kaprodi Prof Darma Putra menyerahkan kenang-kenangan berupa lukisan.

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kurangnya kompetensi yang dimiliki karyawan (khususnya dalam berkomunikasi menggunakan bahasa asing kepada wisatawan) adalah dengan menyediakan brosur dengan 11 bahasa (Inggris, Spanyol, Rusia, Cina, Perancis, Arab, Jepang, Italia, Jerman, Indonesia dan Korea), buku tentang pelinggih dan patung, papan petunjuk do and don’t pengunjung yang tersebar di area destinasi dan lobby, serta buku yang berisi tentang beberapa pertanyaan dari wisatawan (Frequently Asked Question) sehingga memudahkan dalam penyediaan informasi.

Memenuhi Tiga Pilar

Penerapan CBT pada Monkey Forest Ubud secara umum telah memenuhi 3 pilar sustainability (keberlanjutan), yakni dari segi sosial budaya, lingkungan dan ekonomi.

Kegiatan sosial budaya yang dilakukan dapat dilihat dari terselenggaranya kegiatan upacara keagamaan, larangan bagi wisatawan untuk mengunjungi bagian inti pura (kecuali untuk kepentingan sembahyang atau menggunakan pakaian persembahyangan umat Hindu), dan memberikan kesempatan bagi masyarakat lokal untuk bekerja di destinasi.

Wisatawan berkunjung ke Monkey Forest, 1 Desember 2017.

Dari segi lingkungan, pengelolaan destinasi ini terlibat dalam konservasi hutan dan konservasi kera. Masyarakat membeli tanah untuk dihijaukan (bukan dibuat untuk bangunan) karena mereka sadar bahwa monyet terus bertumbuh dan lahan semakin berkurang. Tentu hal tersebut berbanding terbalik dengan para investor yang membeli tanah untuk membangun hotel, restoran, toko souvenir, dan lainnya.

Dari segi ekonomi, manfaat yang diberikan dari kegiatan pariwisata ini adalah memberikan manfaat ekonomi dalam hal pembiayaan kegiatan upacara, biaya perbaikan dan pembangunan pura serta peningkatan ekonomi masyarakat lokal yang bekerja di Monkey Forest Ubud.

Beberapa perencanaan pengembangan tentu dapat diterapkan dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan tersebut (Penulis: I Nengah Laba, I Gusti Agung Mirah Sanjiwani, Fransiska Fila Hidayana, Diyah Kartika).