Studi Lapangan S-2 Kajian Pariwisata Unud: Jatiluwih kian Populer, Pendapatan terus Meningkat

IMG_6364 - Copy

Wisatawan asing mengalir ke Jatiluwih setiap hari. Hal ini kiranya akan berlanjut sesudah jalan ke objek wisata itu halus mulus (Foto-foto Darma Putra, Agustus 2016)

Daya tarik wisata hamparan sawah indah Jatiluwih kian populer terbukti banyak dikunjungi wisatawan setiap hari. Pendapatan tahun 2015 sudah tembus Rp 3 milyar dari tiket masuk dan dana parkir.

Demikian disampaikan oleh Ketua Program Studi Magister Kajian Pariwisata Pascasarjana Unud, Prof. I Nyoman Darma Putra, di sela-sela study lapangan di DTW Jatiluwih, Jumat, 12 Agustus 2016.

Studi lapangan diikuti 40 mahasiswa S-2 Kajian Pariwisata baru yang baru saja usai mengikuti matrikulasi menjelang perkuliahaan dimulai 1 September. Kunjungan ke Jatiluwih juga diikuti mahasiswa angkatan sebelumnya dan sejumlah staff dan dosen.

IMG_6282 - Copy

Mahasiswa S-2 Kajian Pariwisata Unud trekking diantar pemandu lokal.

Sesampai di lokasi, mahasiswa melakukan trekking di lintasan persawahan diantar pemandu lokal, setelah itu melakukan dialog dengan Badan Pengelola DTW Jatiluwih, Pekaseh Subak, dan Perbekel setempat.

 Jalan Mulus ke Warisan Budaya UNESCO

Lebih jauh Darma Putra menyampaikan meningkatnya popularitas Jatiluwih terjadi sesudah wilayah persawahan seluas 303 hektar itu ditetapkan oleh UNESCO sebagai bagian dari warisan budaya dunia dengan label Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy tahun 2012 lalu.

Selain itu, peningkatan kunjungan wisatawan ke Jatiluwih juga terjadi karena jalan ke daerah ini kian mulus.

IMG_6369 - Copy

Jalan mulus walau sempit, wisatawan mengambil foto saat tiba di Jatiluwih.

“Walau masih relatif sempit, jalan menuju ke Jatiluwih dari arah Timur dan Selatan sudah mulus halus,” ujar Darma, yang dua bulan lalu ke sana masih merasakan jalan compang-camping karena dalam proses pengaspalan.

Pengerjaan jalan dan got di beberapa titik kini masih dilaksanakan namun dibandingkan beberapa bulan lalu, jalanan menuju Jatiluwih sudah beraspal-hotmix sehingga perjalanan ke DTW ini cukup lancar.

Hadirnya Badan Pengelola DTW Jatiluwih juga ikut membuat popularitas dan kunjungan meningkat. Badan ini dibentuk tahun 2013, terdiri dari lima unsur yaitu Pemkab Tabanan, Desa Dinas Jatiluwih, Desa Adat Jatiluwih, Desa Adat Gung Sari, dan Subak.

IMG_6311 - Copy

Petani membajak sawah dengan ternak sapi.

Pendapatan

Meningkatnya kunjungan wisatawan ke Jatiluwih tercermin dari angka kunjungan dan pendapatan. Tahun 2014, jumlah kunjungan mencapai 165.144 orang terdiri dari wisatawan asing dan domestik, dengan pendapatan Rp 2,915 milyar. Ada juga pendapatan dari dana parkir yang mencapai Rp 240,582 juta.

Tahun 2015, dengan jumlah kunjungan relatif sama, pendapatan pengelola mencapai Rp 2,970 milyar. Jika ditambah pemasukan parkir sebesar Rp 213 juta lebih, jumlah pendapatan tembus Rp 3 milyar.

Harga tiket masuk ke DTW Jatiluwih dibedakan atas empat yaitu Rp 20 ribu, Rp 15 ribu untuk dewasa dan anak-anak wisatawan asing; dan Rp 10 ribu dan Rp 5 ribu untuk dewasa dan anak-anak domestik.

Dana pendapatan dari DTW ini dibagi secara persentase dengan kelima unsur dari Badan Pengelola. “Dana operasi dan promosi yang diambil dari pendapatan itu,” ujar I Nengah Sutirtayasa,SE, Manajer Operasi DTW Jatiluwih, dalam dialog dengan mahasiswa S-2 Pariwisata Unud.

Secara umum, masyarakat setempat mulai merasakan dampak pendapatan itu. “Dua tahun lalu balai desa ini masih terbuka dan kondisi rusak, kini sudah bertembok dan berlantai keramik cerah,” ujar Darma Putra, terkenang saat mengantar mahasiswa ke tempat yang sama tahun 2014 lalu.

Menurut keterangan, pembangunan dilaksanakan dengan menggunakan dana desa dan pendapatan desa termasuk dari hasil kelola objek wisata Jatiluwih.

IMG_6357 - Copy

Saat dialog dengan badan pengelola Jatiluwih, perbekal, dan pekaseh.

Turis Asing lebih Banyak

Wisatawan yang berkunjung ke Jatiluwih kebanyakan dari luar negeri. Untuk tahun 2014, misalnya turis asingnya 147.574 orang, sedangkan domestiknya 17.570.

“Kalau dari luar negeri, kebanyakan dari Eropa terutama Perancis,” ujar Nyoman Sutama, Ketua Pekaseh Subak Jatiluwih.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, Jumat 12 Agustus 2016, suasana di Jatiluwih ramai sekali. Wisatawan berdatangan dan melakukan trekking di sela persawahan. Suasana sejuk karena pagi harinya turun hujan, tapi cahaya terang dan mendung yang silih-berganti tidak menyurutkan niat wisatawan untuk melenggang di lintasan trekking.

Jatiluwih terletak di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut sehingga sejuk, dan hampir setiap hari (khususnya sore) mendung atau gerimis turun.

Wakil dari mahasiswa S-2 Kajian Pariwisata, Cok Devi menyampaikan melakukan trekking di Jatiluwih sangat mengesankan, medannya menantang karena di luar lintasan yang memakai paving kondisi pematang alami agak linci dalam hujan dan pemandangannya memesona.

“Saya jatuh dua kali karena licin, tapi pengalaman trekking ini meriangkan,” ujarnya disambut ketawa mahasiswa lain dalam acara dialog.

IMG_6330 - Copy

Trekking tak hanya di track ber-paving, tapi juga di lintasan pematang, yang tentu licin saat hujan.

Kendaraan turis parkir di tepi jalan yang sempit, tetapi pengaturan parkir dan lalu-lintas oleh petugas membuat pergerakan kendaraan cukup lancar.

“Kami akan terus melakukan penataan semaksimal mungkin,” ujar Nengah Sutirtayasa. Mereka bertekad untuk menjaga DTW untuk lestari dan tetap menjadi warisan budaya dunia UNESCO. (*)