Catatan Perjalanan: Transit di Changi, Dimanja bagai Raja

Oleh Putu Devi Rosalina *)

Terminal sky train sejuk dan mewah siap mengantarkan penunpang dari satu terminal ke terminal lainnya dengan efektif (Foto Diah Sastri)

Terminal sky train yang sejuk dan mewah siap mengantarkan penumpang pindah terminal dengan efektif (Foto Diah Sastri)

Edutainment, mungkin itu istilah yang bisa menggambarkan perjalanan ini. Dua manfaat berhasil didapat, yakni pendidikan dan hiburan. Walaupun masih dibayangi tumpukan tugas yang belum terselesaikan, rasa antusias dan semangat tetap ikut mengiringi. Terlebih, ini adalah pertama kalinya bagi saya untuk menjelajah Penang-Malaysia dan Singapura, dalam rangkaian study tour, 20-22 Mei 2015.

Berbagai pengalaman unik mewarnai perjalanan ini, seperti seminar di Penang, berkeliling dengan On Hop Bus di Singapura dan menginap di hotel mewah. Namun, yang paling menyentuh hati adalah pesona Gerbang Singapura, Bandara Changi.

Dalam perjalanan menuju seminar Managing Cultural Tourism di Penang, kami terbang dengan Singapore Airlines (dan Silk Air) dengan transit di Changi International Airport sebanyak dua kali, saat dari Denpasar menuju Penang, dan saat kembali lagi ke Denpasar.

Rasa penasaran semakin membayangi pikiran saya, tidak sabar ingin membuktikan dan menjadi saksi langsung akan opini dari banyaknya referensi dan komentar yang sangat mengagungkan Changi.

Bandara yang menghubungkan lebih dari 200 destinasi di seluruh dunia ini mendapatkan peringkat pertama berdasarkan World Airport Awards, bahkan mengalahkan bandara-bandara di Eropa seperti Munich, Jerman.

Bandara terbaik ini juga dikatakan dilengkapi dengan berbagai fasilitas lengkap yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan dan menjamin kepuasan wisatawan. Setibanya di Changi, saya semakin terheran dan mengakui bahwa opini itu benar-benar fakta. Changi sungguh jauh melampaui ekspektasi saya!

Siap dikomentari di segala fasilitas karena semuanya telah tertata (Foto Devi).

Siap dikomentari di segala fasilitas karena semuanya telah tertata (Foto Devi).

Kemewahan Passenger Boarding Bridge. Sambutan awal adalah ketika melangkahkan kaki di Singapura. Kami melewati passenger boarding bridge layaknya memasuki suatu restaurant mewah atau lorong hotel kelas atas. Terdapat lampu magenta di kanan dan kiri atas lorong serta karpet empuk yang mempermanis kesan pertama di Singapura.

Menaiki Kereta Langit. Bandara di Changi sangat luas, dengan estimasi sekitar 1.300 hektar yang disertai dengan empat terminal. Dikarenakan luasnya bandara, dan jarak yang lumayan jauh dari satu terminal ke terminal lainnya, disediakan kereta langit atau sky train.

Beruntung, saya mendapat kesempatan untuk mencoba menaiki sky train ini, sebab kami juga kebetulan harus bergegas ke terminal dua (T2). Disiplin dan terorganisir adalah dua kata yang dapat mendeskripsikan transportasi ekspress ini, yang bahkan disediakan papan informasi elektronik untuk mengetahui berapa menit lagi sky train selanjutnya akan tiba.

Dimanja Bagai Raja. Di Changi, berbagai fasilitas disediakan demi kenyamanan wisatawan. Tidak perlu khawatir baterai telepon genggam berkurang karena ada banyak tempat duduk yang dilengkapi dengan stop kontak. Tidak perlu khawatir kelelahan karena ada mesin pijat gratis.

Terdapat pula ruang duduk untuk belajar, lengkap dengan lampu belajarnya. Bagi yang belum makan, bisa mencicipi berbagai pilihan makanan. Fasilitas lainnya juga ikut mendukung seperti: wifi gratis, fitness, spa, kolam renang, taman bermain anak-anak, bioskop, sampai tur gratis mengelilingi Singapura yang terdiri dari Heritage Tour dan City Light Tour.

Hiburan Mengedukasi. Sesaat sebelum memasuki pesawat, kami secara tidak sengaja melihat sekumpulan anak kecil yang sibuk mewarnai. Ternyata di sana disediakan, crayon beserta kertasnya. Tidak hanya kejenuhan anak-anak yang terhapus, aktivitas ini juga dapat meningkatkan kreativitas mereka sembari menunggu keberangkatan.

20150522_170152

Fasillitas menggambar untuk anak-anak yang menyenangkan. Changi menjadi children friendly airport.

Atraksi Wisata Mini. Perjalanan kami yang singkat membatasi kesempatan untuk berkeliling ke seluruh Singapura. Walaupun demikian, saya masih dapat melihat miniaturnya di Changi. Salah satunya adalah taman kecil yang merupakan replika dari Singapore Botanic Garden. Langsung saja, saya disapa oleh indahnya anggrek-anggrek cantik, ikan-ikan koi di kolam, serta gemericik air yang meneduhkan hati.

IMG_0276

Taman anggrek di tengah bandara Changi. Cantik (Foto Darma Putra).

Kritik untuk Peningkatan Kualitas. Changi seakan belum merasa puas akan berbagai penghargaan yang berhasil diraihnya. Dalam rangka meningkatkan kualitas, terdapat panel di toilet yang memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menilai kualitas pelayanan. Selain itu, saya juga sempat diwawancara oleh staff Changi yang mengarahkan saya untuk mengisi kuesioner terhadap kualitas pelayanan di Changi.

Terhalang Bahasa. Dengan berbagai fasilitas yang mendekati sempurna, ternyata masih terdapat beberapa kelemahan di bandara tersebut, salah satunya adalah penguasaan bahasa Inggris. Ketika kami harus pindah gate, saya menanyakan salah satu petugas bandara, namun sayang sekali, dia tidak dapat menjelaskan dengan baik, bahkan hanya dengan bahasa isyarat. Walaupun hanya segelintir, ini harus menjadi perhatian bagi peningkatan kualitas SDM

Melihat kehebatan Changi, terbesit di benak ‘jika saja Ngurah Rai bisa seperti ini’, setidaknya menjadi appetizer bagi wisatawan sebelum mengeksplorasi Bali lebih jauh lagi. Bandara merupakan pintu gerbang di suatu Negara.

Bandara adalah wajah awal bermunculannya suatu opini dan persepsi. Representasi yang memberikan kesan pertama dan kenangan.

Bandara, seperti sudah disepakati, memanglah sumber first impression that could last forever. ***

*) Penulis adalah mahasiswa S-2 Kajian Pariwisata Universitas Udayana, NIM 1491061017.