Seminar Strategi Pemasaran Pariwisata Mancanegara: Turis Perancis Terbanyak Kunjungi Subak Jatiluwih

Catatan Yuliska Labawo dan Nonny Aji Sunaryo, Angkatan 2016

Subak Jatiluwih yang masuk warisna budaya dunia UNESCO. Wistawan Perancis yang terbanyak berkunjung ke objek wisata sawah berundak ini (Foto Darma Putra).

Subak Jatiluwih yang masuk warisna budaya dunia UNESCO. Wistawan Perancis yang terbanyak berkunjung ke objek wisata sawah berundak ini (Foto Darma Putra).

Seminar hasil penelitian strategi pemasaran pariwisata mancanegara berbasis wisata subak di Bali, yang merupakan kerjasama Kementrian Pariwisata RI dengan Konsorsium Riset Pariwisata Universitas Udayana Denpasar, dilaksanakan di Sanur Paradise Plaza Hotel, Selasa, 18 Oktober 2016.

Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh perwakilan Kementerian Pariwisata oleh Ibu Budiharjanti Kabid Pemasaran Assiten Deputi Strategi Pemasaran menampilkan pembicara ketua tim peneliti dosen S-2 dan S-3 Pariwisata Unud, Dr. Agung Suryawan Wiranatha. Seminar dihadiri peserta dari pemerintahan yaitu Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Denpasar, environment expert, tourism agency, swasta, praktisi dan akademisi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi daya tarik wisata berbasis subak yaitu Jatiluwih yang sangat popular dan masuk dalam warisan budaya dunia UNESCO, sehingga potensial untuk dipasarkan kepada wisatawan mancanegara (wisman), selain itu mengananalisis karakteristik wisman berdasarkan demografi, geografi, psikografi, persepsi, dan kepuasan juga merumuskan strategi pemasaran pariwisata berbasis subak.

lap-sem

Turis Perancis Terbanyak

Dalam penelitian dari 216 Responden didapati 36 % wisman yang terbanyak mengunjungi Jatiluwih adalah wisman dari negara Prancis. Kunjungan yang dilakukan secara singkat dengan aktivitas; sightseeing, trekking, cycling, birdwatching, adventure, melukat (purification) dan bermeditasi. Pengunjung wisman sebagian besar mendapatkan informasi dari internet.

Pemandangan sawah yang bertingkat menjadi daya tarik utama di Jatiluwih, namun bukan itu saja yang bisa ditemukan ketika berwisata ke Jatiluwih, Dalam seminar ini pembicara memaparkan bahwa di Jatiluwih  terdapat daya tarik alami yaitu perkebunan, sungai, air terjun, hutan tropis, pegunungan, serta air panas, selain itu juga terdapat daya tarik budaya seperti pura, kesenian, kuliner, kerajinan ukir telur, dan salah satu daya tarik lainnya adalah  wisata buatan seperti, monumen warisan budaya dunia,

Bendungan Telaga Tunjung dan produk pertanian. Salah satu produk pertanian yang diunggulkan adalah beras merah yang dapat dijadikan teh, tepung dan minuman dalam botol.

Dr. Agung Suryawan (kiri) saat presentasi hasil penelitian tentang strategi pemasaran wisata berbasis subak (Foto-foto Agugn Dhani)

Dr. Agung Suryawan (kiri) saat presentasi hasil penelitian tentang strategi pemasaran wisata berbasis subak (Foto-foto Agugn Dhani)

Berdasarkan hasil penelitian pada wisman yang mengunjungi Jatiluwih diketahui 94% menyatakan puas atas kunjunganya, 65% menyatakan Jatiluwih unik, dan 80% menyatakan Jatiluwih adalah pariwisata yang berkelanjutan. Bahkan, 88% setuju Jatiluwih menggambarkan spirit dari masyarakat Bali karena merupakan implementasi Tri Hita Karana dan berjalan dengan baik, sehingga wisman yang telah mengunjungi Jatiluwih mau mempromosikan, dan merekomendasikan kepada semua orang bahkan mereka bersedia berkunjung kembali, papar pembicara.

Peserta seminar strategi pemasaran wisatawan mancanegara.

Peserta seminar strategi pemasaran wisatawan mancanegara.

Strategi Pemasaran

Strategi pemasaran pariwisata mancanegara berbasis wisata subak di Jatiluwih meliputi produk dengan cara meyediakan informasi, peningkatan kualitas fasilitas, dan memperkuat brand image Jatiluwih.

Selain itu, perlu juga promosi melalui web atau sosial media resmi Jatiluwih, melakukan penetrasi pasar, harga dengan cara menyediakan informasi biaya yang transparan, distribusi pemasaran dengan cara meningkatkan kualitas infrastruktur transportasi, sumber daya manusia dengan meningkatkan kegiatan pelatihan dan sertifikasi bagi SDM lokal, selain itu pada paket wisata dilakukan diversifikasi jenis paket dengan segmen minat khusus.

Di akhir seminar dibuka forum diskusi antara pembicara dan peserta, salah satu komentar yang sangat menarik perhatian oleh peserta adalah tanggungjawab siapakah dalam  meningkatkan kunjungan wisman Jatiluwih sebagai upaya memenuhi target tahun 2019 yaitu harus mencapai angka 20 juta, di mana kendalanya indeks daya saing pariwisata Indonesia relatif rendah.

Terkait dengan hasil penelitian strategi pemasaran pariwisata yang ada di Jatiluwih perlu adanya perhatian yang pertama adalah dari pemerintah, swasta, dan masyarakat jatiluwih itu sendiri. Solusi yang perlu dilakukan adalah pembenahan infrastruktur berupa perbaikan jalan, pengadaan parkir, suttle bus dan penginapan, sehingga marketing pariwisata berbasis sustainable tourism di Jatiluwih dapat tercapai. (*)