Seminar Strategi Pemasaran Pariwisata Mancanegara Berbasis Subak di Bali

Catatan Tomi Agfianto, Angkatan 2016

Dr. Agung Suryawan (kiri) saat presentasi hasil penelitian tentang strategi pemasaran wisata berbasis subak (Foto-foto Agugn Dhani)

Dr. Agung Suryawan (kiri) saat presentasi hasil penelitian tentang strategi pemasaran wisata berbasis subak (Foto-foto Agung Dhani)

Atas undangan dari dosen kami, Dr. Ir. IGA Oka Suryawardani, M.Mgt., Ph.D., kami, mahasiswa Kajian Pariwisata Universitas Udayana Angkatan 2016, mengikuti seminar “Strategi Pemasaran Pariwisata Berbasis Subak di Bali bagi Wisatawan Macanegara”, di Denpasar, Selasa, 18 Oktober 2016.

Seminar yang diselenggarakan dan dibuka oleh Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata itu menampilkan pembicara Dr. Ir. AAP Agung Suryawan W., M.Sc., dosen “Tourism Destination”, di Prodi Magister Kajian Pariwisata Udayana.

Dalam presentasinya, Dr. Agung Suryawan memaparkan tentang target jumlah kunjungan wisatawan manca negara ke Indonesia pada tahun 2019 adalah 20 juta orang sedangkan target pada tahun 2016 adalah 12 juta.

“Dari sini dapat kita simpulkan bahwa ada kenaikan target pemerintah di tahun 2019 sekitar 67%,” ujar Dr. Suryawan.

Suasana seminar pariwisata.

Suasana seminar pariwisata.

Inovasi dan Terobosan

Agung Suryawan menjelaskan bahwa 50% dari target kunjungan, sekitar 10 juta wisatawan mancanegara, menjadi tanggung jawab Provinsi Bali. Oleh karena itu, harus adanya inovasi dan terobosan yang kuat agar wisatawan tertarik mengunjungi Indonesia khususnya Bali, sehingga target tersebut bisa tercapai.

“Diperlukan usaha memaksimalkan pariwisata yang ada di Bali sehingga kegiatan pariwisata di Bali tidak hanya terpusat di Bali selatan seperti Nusa Dua, Kuta, Seminyak, dan Sanur,” tambahnya.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengembangkan dan memasarkan Jatiluwih sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Tabanan.

Jatiluwih adalah salah satu destinasi wisata yang terkenal di daerah tabanan dengan keunggulan landscape teras persawahan yang indah dan alami. Di sini dapat ditemukan petani yang sedang membajak sawah dengan alat tradisional kerbau dan lain sebagainya.

Suasana smeinar strategi pemasaran mancanegara berbasis subak.

Suasana smeinar strategi pemasaran mancanegara berbasis subak.

Alternatif Wisata

Ini merupakan salah satu alternatif wisata yang mampu menarik wisatawan mancanegara untuk mengunjungi Tabanan ataupun Bali pada umumnya. Wisatawan mancanegara pada saat ini lebih memilih wisata alam (nature tourism attraction) daripada wisata buatan (man-made tourism attraction). Tetapi dalam perjalanannya Jatiluwih sebagai salah satu daya tarik wisata alam di Bali, Jatiluwih masih mempunyai kekurangan yang saat ini menjadi PR bagi para stakeholder dan pengelola destinasi wisata Jatiluwih.

Dalam penelitian kuesioner kepada 216 responden wisman, Dr. Agung Suryawan menggunakan sistem analisis ISM Driver Power vs Dependence dan terdapat beberapa hal yang perlu ditindaklanjuti diantaranya adalah Penataan jalur tracking dan view point di DTW Jatiluwih.

Yang tidak kalah pentingnya dan harus segera ditindaklanjuti adalah tentang Peningkatan kualitas SDM Pariwisata di DTW Jatiluwih. Karena berdasarkan data responden yang nampak adalah hal tersebut masih kurang bagi pengunjung atau wisman.

Selain pengambilan data responden Agung dan team melakukan observasi langsung di DTW Jatiluwih dan menghasilkan beberapa kesimpulan nilai kurang dari Jatiluwih yaitu diantaranya adalah Terbatasnya informasi tentang subak dan jatiluwih tersebut, kurangnya inovasi atau pengemasan pemasaran yang profesional dan juga belum tersedianya pendukung fasilitas (ancillaries) seperti ATM dan jaringan Internet.

Menerima Masukan

Selain memaparkan seminar hasil tersebut, Dr. Agung Suryawan dan Team menerima masukan dari undangan yang hadir baik dari tokoh Pariwisata, akademisi maupun praktisi yang hadir dalam hal tersebut.

Ada beberapa masukan dan saran yang muncul dalam seminar tersebut. Tentang target wisatawan mancanegara yang 50% dibebankan kepada Bali, ditanyakan kepada perwakilan Kemenpar RI, apakah target yang dibebankan kepada Bali itu berbading lurus dengan dana yang akan diberikan dari pemerintah pusat kepada Bali?

Dalam hal ini dana perbaikan dan dana pemeliharaan. Alasannya karena sangat tidak sesuai apabila hal tersebut berbanding terbalik atau bahkan pemerintah tidak memberikan bantuan dana kepada Bali.

Saat ini pihak Kemenpar sedang berkonsetrasi terhadap pengembangan 10 Bali Baru di Indonesia. Dikhawatirkan bahwa akan terjadi ketimpangan dalam pemberian bantuan dana tersebut yang seharusnya Bali mendapatkan dana lebih dalam hal pengembangan.

Selain masukan dalam hal pendanaan ada juga salah satu stakeholder tour operator yang menjelaskan keluhannya dikarenakan masih kurangnya aksesbilitas ke Jatiluwih padahal mereka selalu diminta sumbangan bantuan dalam hal perbaikan jalan.

Keluhkan Akses

Ternyata implementasinya adalah uang perbaikan tersebut hanya digunakan untuk memperbaiki jalan utama menuju Jatiluwih saja, tanpa memperbaiki jalan – jalan kecil yang ke arah objek wisata di Jatiluwih. Contohnya, keluhannya ketika membawa Miss Philippine saat mengunjungi Jatiluwih, Miss Philippine berkomentar bahwa “kenapa akses menuju salah satu wisata yang masuk daftar  “culture landscape of Bali Province by UNESCO” sangat susah?”

Selain keluhan terhadap aksesbilitas, juga ada keluhan dalam hal pengelolaan lahan parkir. Karena dalam penyediaan parkir Jatiluwih masih sangat kurang. Mereka (tour guide/driver) harus berebut lahan parkir atau datang lebih pagi untuk bisa mendapatkan lahan parkir dan tidak mengalami kemacetan di sekitar DTW Jatiluwih (*).