Seminar Sinergitas Pertanian-Pariwisata: Merajut Sinergi lewat Agrowisata

Catatan Putu Diah Sastri Pitanatri, Angkatan 2014

Seminar01(1)

Suasana seminar nasional sinergitas antara pariwisata dan pertanian.

Suatu hari orang akan memerlukan bantuan dokter, notaris, atau arsitek, tetapi memerlukan bantuan petani setiap hari bahkan tiga kali sehari.

Semangat kutipan itu tercermin dalam seminar nasional yang mengusung tema “Sinergi antara Sektor Pertanian dan Pariwisata”, yang digelar oleh Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Jumat, 9 Oktober 2015.

Lebih dari untuk memenuhi kebutuhan makan pagi siang, dan dinner, pertanian juga bermanfaat untuk mendukung industri wisata. Dalam seminar nasional ini dibahas hubungan resiprokal antara pariwisata dan pertanian melalui promosi agrowisata.

Pertanian menambah dapat memenuhi kebutuhan konsumsi dan daya tarik pariwisata, sedangkan pariwisata dapat memberikan nilai tambah pada sektor pertanian dalam berbagai bentuk.

Seminar dibuka oleh Rektor Universitas Udayana Prof.Dr.dr. Ketut Suastika,Sp.PD.KEMD, didampingi Deputi Menteri Bidang Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata Prof Dr. I Gde Pitana, MSc., dan Ketua Program Studi Sosial Ekonomi Ir Wayan Widyantara, MP .

Tampil sebagai keynote speaker adalah Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Spudnik Sujono Kamino.

Seminar menghadirkan narasumber dengan berbagai kepakaran termasuk pakar ekonomi-pariwisata Prof. Dr. Komang Gede Bendesa M.A.D.E, pakar pertnian dan pariwisata Prof. Dr. Ir. Nyoman Antara M.Eng, praktisi pariwisata I Gusti Agung Prana, I Made Gunawan SP, SH, dan I Made Sarjana SP, MSc,, Ir. IGA. K. Sudaratmaja, M.Si. dan Dr. I Wayan Budiasa SP., MP.

Selain itu juga terdapat 12 paper lainnya yang tidak dipresentasikan namun sebagai bahan proseding serta buku promosi agrowisata yang akan diterbitkan oleh Kementerian Pariwisata.

Pariwisata Versus Pertanian

Perkembangan pariwisata yang sedemikian pesatnya di Bali sering dianggap sebagai penyebab utama tersisihnya sektor pertanian. Alih fungsi lahan, masyarakat petani yang termarginalisasi serta krisis air merupakan sebagain kecil dikritisi sebagai akibat perkembangan pariwisata yang pesat di Bali.

11951773_10207132360128804_4851068436066700478_n

Bagus Agro di Pelaga

Masyarakat petani yang miskin pun sering diversuskan dengan kaum kapitalis yang hanya menggeruk keuntungan melalui pariwisata. Namun apakah perkembangan kedua sektor ini harus saling tumpang tindih?

Prof. Pitana, dalam sambutannya mempertanyakan jika tanpa pariwisata, mampukah Bali berkembang seperti saat ini? Apakah sektor yang paling berkontribusi terhadap rendahnya tingkat penggangguran Bali yang jauh di bawah tingkat pengganguran nasional?

Jika kemiskinan, pengangguran sampai jalan rusak adalah tanggung jawab sektor pariwisata, maka dimanakah peran sektor-sektor lainnya? Oleh sebab itu, jangan hanya memandang pariwisata sebagai sebuah dikotomi namun mari bersama-sama memikirkan bagaimanakah caranya agar masyarakat petani dan sektor pertanian juga dapat menikmati “kue” dari pariwisata.

Sinergitas Inovatif dan Berkelanjutan

Transisi dominasi pembangunan dari pertanian ke pariwisata seperti yang disampaikan leh Prof. Bendesa menyebabkan adanya push and pull factors transisi petani menjadi pekerja di sektor pariwisata. Akibatnya penurunan area persawahan dan urbanisasi menyebabkan unbalance growth dari sisi investasi, produktivitas, pendidikan, pengupahan dan wilayah kedua sektor tersebut. Oleh sebab itu sinergi dibutuhkan agar kedua sektor tersebut dapat berjalan harmonis, saling memperkuat satu sama lain.

Dalam pemaparannya Sputnik Sujono Kamino, menyebutkan bahwa sebenarnya sektor pariwisata dan pertaninan memiliki keterkaitan yang sangat erat satu sama lain. Sektor pertanian berkontribusi sebagai penyedia bahan baku untuk kebutuhan hotel dan sebaliknya pariwisata berkontribusi terhadap peningkatan harga jual dari bahan baku tersebut.

Festival Budaya Pertanian

Kaitan erat antara pertanian dan pariwisata dipertegas oleh Sudaratmaja sebagai Kadis Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Badung melalui pemaparannya mengenai agrowisata di daerah Plaga. Festival Budaya Pertanian yang telah dilaksanakan selama tiga tahun berturut-turut oleh Pemkab Badung tidak hanya menjadi media promosi hasil pertanian namun juga secara signifikan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Saat petani tidak hanya sebagai produsen namun juga sebagai seller maka saat itulah pertanian mampu sebagai generating income yang sangat strategis. Pembudidaan asparagus dengan branding “Bali” juga terbukti mampu menembus pasar ekspor dengan kisaran harga sampai dengan Rp. 150.000 per kilonya.

Selain Desa Plaga, Desa Umabian, Tabanan, juga menjadi case study sinergitas pertanian dan pariwisata. Disebutkan oleh Agung Prana, dijadikannya desa ini sebagai desa wisata telah membuat mayarakat memiliki perkerjaan ”tambahan” sebagai pengelola pariwisata.

Perbaikan infrastruktur, pengembangan sekaa tari dan tabuh sampai dengan penciptaan lapangan kerja di desa merupakan sebagai kecil dari manfaat yang didapatkan masyarakat melalui pengembangan pariwisata. Masyarakat petani mendapatlkan income tambahan melalui penyewaan kamar di rumahnya.

Melalui kegiatan ini, mayarakat bahkan mampu mendapatkan sampai dengan 5 juta rupiah per bulan.

Pengembangan Desa

Sarjana dan Gunawan pun mempertegas bahwa promosi agrowisata di Desa Kerta, Gianyar berpotensi terhadap multipurpose development of village yang berpotensi terhadap pengembangan wilayah pedesaan sekaligus peningkatan nilai tambah ekonominya tanpa harus mengubah authenticity dari desa tersebut.

Pemberdayaan masyarakat pertanian, seperti disampaikan Prof. Ketut Satriawan, sebagai pilar pendukung pariwisata menjadi sangat penting sebagai dasar pembangunan karena merupakan model pemberdayaan masyarakat yang memberikan lebih banyak peluang bagi masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam berbagai kegiatan pembangunan, dalam hal ini pariwisata.

Keberpihakan berbasiskan masyarakat lokal ini, menurut Budiasa, akan menciptakan sustainability dan sinergi antara dua sektor yang sebenarnya dapat berjalan secara selaras.

Kesempatan Luas

Saat pertanian dapat berjalan sinergis dengan pariwisata maka kesempatan masyarakat lokal mendapatkan manfaat dari pariwisata akan semakin luas. Pariwisata yang dikelola secara lokal tidak hanya akan memperkuat budaya lokal namun juga memperbaiki kualitas hidup maysarakat baik dari segi pendidikan, kesehatan maupun kesejahteraan.

Dibutuhkan peran serta dukungan dari berbagai pihak sehingga harmonisasi ini dapat menjadi berkelanjutan. Bagaimanapun juga once in a while you will need a doctor, a notary and an architect but we need farmers at least three times a day. Support local farmers, buy local products!

Masanobu Fukuoka dalam bukunya The One-Straw Revolution (1975) dengan bijak mengingatkan bahwa “The ultimate goal of farming is not the growing of crops, but the cultivation and perfection of human beings”.

email : diahsastri@gmail.com