Seminar Peranan Angkutan Udara dan Manajemen Logistik Menunjang Industri Pariwisata

Pemakalah Gus Mananda saat mempresentasikan makalah dalam seminar pariwisata, Jumat, 21 April 2017.

Sekitar 17 mahasiswa Prodi MagisterKajian Pariwisata Fakultas Pariwisata Unud mengikuti seminar pariwisata yang berlangsung, Jumat, 21 April 2017, di Ruang Soka, Dinas Pariwisata Provinsi Bali.

Seminar yang berlangsung tepat pada Perayaan Hari Kartini itu diselenggarakan mahasiswa Jurusan S1 Industri Perjalanan Wisata Fakultas Pariwisata Universitas Udayana.

Tema seminar adalah ‘Peranan Angkutan Udara dan Manajemen Logistik untuk Menunjang Industri Pariwisata’.  Dua narasumber yang tampil saat itu yaitu I Gusti Putu Bagus Sasrawan Mananda, SST.Par, MM, M.Par yang merupakan Dosen Program Studi S1  Industri Perjalanan Wisata Fakultas Pariwisata Universitas Udayana sekaligus sebagai praktisi yang juga bergelut dalam industri pariwisata dan Ir. Agung Suryawan Wiranatha, MSc.,PhD yang merupakan Kepala Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kepariwisataan Universitas Udayana.

Seminar ini berlaku gratis bagi mahasiswa Fakultas Pariwisata Universitas Udayana dan juga terbuka untuk umum dengan membayar tiket seminar Rp. 20.000,00.

Seminar diawali dengan penyampaian sambutan oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali yang pada saat itu diwakili oleh Ibu Ni Putu Suryani S.H., M.H salah satu Kepala Bidang Dinas.

Pembukaan seminar.

Sangat Diapresiasi

Pariwisata. Dalam sambutan tersebut beliau merasa sangat bangga kepada panitia sebagai penyelenggara yang telah mempersiapkan acara seminar dengan sangat serius dan juga kepada peserta seminar yang didominasi oleh mahasiswa pariwisata yang telah meluangkan waktunya untuk menghadiri seminar pariwisata ini.

Beliau juga sangat mengapresiasi perihal pemilihan tajuk dalam seminar pariwisata ini, mengingat bahwa peran angkutan udara sangatlah penting dalam menunjang dan memperlancar aktivitas pariwisata.

 Seminar pariwisata ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama diisi dengan penyampaian materi seminar oleh I Gusti Putu Bagus Sasrawan Mananda, SST.Par, MM, M.Par kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua dengan penyampaian materi oleh Bapak Ir. Agung Suryawan Wiranatha, MSc.,PhD

Pukul 09.00 seminar pariwisata resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Pariwisata, Bapak Drs. I Made Sendra, M.Si. Penyampaian materi seminar sesi pertama dipandu oleh Susrami Dewi selaku moderator yang juga merupakan dosen pengajar di Fakultas Pariwisata.

Pada sesi pertama materi seminar disampaikan oleh Bapak I Gusti Putu Bagus Sasrawan Mananda, SST.Par, MM, M.Par materi yang disampaikan mengenai peran angkutan udara terhadap perkembangan pariwisata di Indonesia.

Kementrian Pariwisata Republik Indonesia menargetkan hingga 15 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada tahun 2017. Dalam rangka mewujudkan tercapainya target tersebut pemerintah juga mengimbangi dengan melaksanakan program-program prioritas.

Adapun sepuluh program prioritas pemerintah pada  tahun 2017 ini antara lain digital tourism (e-tourism), homestay (rumah wisata), aksesibilitas udara, branding, top 10 originasi, top 3 destinasi utama, pengembangan 10 destinasi prioritas, sertifikasi kompetensi, SDM dan gerakan sadar wisata, peningkatan investasi pariwisata dan pengelolaan crisis center.

Aksesibilitas udara menjadi perhatian yang sangat menarik. Aksesibilitas udara adalah salah satu faktor sukses untuk mendorong kedatangan wisatawan karena 75% wisatawan mancanegara menggunakan transportasi udara untuk mencapai destinasi.

Melirik perkembangan aksesibilitas udara pada tahun sebelumnya yakni 19,5 juta kapasitas seat pada penerbangan internasional saat ini ternyata hanya efektif untuk mendatangkan 12 juta wisatawan mancanegara saja di tahun 2016. Pada tahun 2017 Kementrian Pariwisata menargetkan sekitar 15 juta wisatawan maka perlu adanya tambahan 4 juta seats untuk memenuhi target tersebut, lalu perlu tambahan 3 juta seats untuk memenuhi target 17 juta wisman di tahun 2018 dan perlu tambahan 3,5 juta seats untuk memenuhi target 20 juta wisman di tahun 2019.

Untuk mencapai target mendatangkan kunjungan wisatawan pada tahun-tahun berikutnya diperlukan 30 juta seats atau tambahan 10,5 juta seats lagi.

Poster seminar.

Strategi Formulation

Strategi yang tepat dan baik sangat diperlukan guna mewujudkan pencapaian target untuk mendatangkan kunjungan wisatawan. Kerja sama yang baik dan keterlibatan berbagai pihak diharapkan mampu mewujudkan target tersebut. Adapun diantaranya menjalin kerjasama dengan 8 Maskapai Penerbangan, kerjasama dengan Angkasa Pura 1, Angkasa Pura 2 dan Navigasi Udara, serta kerja sama dengan Kementerian Perhubungan. Pencapaian yang diyakini dalam kerjasama tersebut ialah (1) Perjanjian Layanan Udara, untuk memastikan kecukupan Hak Lalu Lintas Udara (2) Bandara dan Navigasi Udara, untuk memastikan ketersediaan Airport Slot Time, (3) Maskapai Penerbangan, untuk merangsang pengembangan rute baru.

Strategi Peningkatan Kapasitas Bandara

Peningkatan kapasitas di bandara diyakini menjadi salah satu strategi yang cukup mampu untuk mewujudkan meningkatnya kunjungan wisatawan. Untuk memenuhi kebutuhan 2017, dapat dilakukan dengan strategi peningkatan kapasitas bandara tanpa pembangunan fisik bandara seperti penataan slot time, perpanjangan operating hours, de-regulasi dan pemanfaatan IT dan SDM. Untuk memenuhi kebutuhan 2018 dapat dilakukan dengan pengembangan fisik bandara terbatas : (1 thn) seperti rapid exit taxiway & apron bali, percepatan overlay/ pekerjaan runway, taxiway, apron : CGK, SUB, TNJ, SRG dan perluasan internasional terminal CGK, MDC, LOP. Untuk memenuhi kebutuhan pada tahun 2019 dapat dilakukan dengan pembangunan bandara baru : (2-3 Tahun) seperti New Yogyakarta, New Bali, New Banten, New BDO dan Revitalisasi Bandara di 10 Destinasi Prioritas.

Strategi Airport Slot Time

Airport slot adalah izin yang diberikan oleh otoritas bandara untuk merencanakan operasi dengan menggunakan berbagai infrastruktur bandara yang diperlukan untuk tiba atau berangkat ke bandara pada tanggal dan waktu tertentu. Infrastruktur bandara yang akan diukur adalah: kapasitas runway, taksi, tempat parkir pesawat, kapasitas terminal (loket check-in, imigrasi, keamanan, pengambilan bagasi, dll), kapasitas ruang udara di daerah mendekati pesawat.

Dalam hal ini, rata-rata bandara di Indonesia masih mengalami keterbatasan dalam airplot slot. Pasalnya, kapasitas airport slot per jam di Indonesia masih berada dibawah standar. International Best Practice : Slot Capacity of London Gatwick Airport menetapkan 55 movements/hour/runway. Sedangkan Bandara Soekarno-Hatta CGK saat ini hanya mencapai 72 movements  untuk 2 runway, sementara itu Bandara I Gst Ngurah Rai DPS hanya 20 movements untuk 2 runway. Maka dari itu perlu dilakukan suatu upaya guna memenuhi airport slots yang masih terbatas saat ini.

Airports Supply – Demand Analysis

Analisis terhadap airports supply – demand analysis juga perlu diperhitungkan guna pencapaian target kunjungan wisatawan yang lebih tepat. Adapun supply dan demand airport yang diperhitungkan antara lain (1) permintaan tinggi, banyak slot yang tersedia = nihil, (2)  permintaan rendah, slot masih tersedia seperti BTH, SOC, LOP, UPG, MDC. Strategi yang dapat dilakukan apabila kondisi seperti ini ialah promosi bersama dan hardselling dengan pemasaran, (3) permintaan tinggi, slot terbatas seperti DPS, JOG, CGK, SUB.

Strategi yang dapat dilakukan apabila kondisi seperti ini ialah untuk memperluas kapasitas slot dan melakukan perluasan bandara jika dibutuhkan, (4) permintaan rendah, slot terbatas seperti BDO, SRG, KNO. Strategi yang dapat dilakukan apabila kondisi seperti ini memelihara rute yang ada, mengoptimalkan kapasitas slot dan melakukan pemasaran.

Setelah pemaparan materi seminar oleh narasumber pertama, selanjutnya dibuka sesi tanya jawab. Para peserta memanfaatkn sesi tanya jawab dengan sangat baik. Sekitar 3(tiga) orang mahasiswa dipersilahkan untuk mengajukan pertanyaan. Acara berikutnya yaitu hiburan dan games serta penyampaian kesan oleh peserta seminar selama mengikuti seminar hingga pada sesi pertama berakhir.

Sesi Kedua

Setelah penyampaian kesan usai maka acara selanjutnya dilanjutkan dengan pemaparan materi seminar oleh narasumber kedua oleh Ir. Agung Suryawan Wiranatha, MSc.,PhD. Kepala Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kepariwisataan Universitas Udayana yang juga pengamat terhadap perkembangan pariwisata ini menyajikan materi yang mengenai manajemen logistik untuk menunjang industri pariwisata.

Dewasa ini, logistik telah menjadi suatu tren yang baru. Pada umumnya logistik hanya terkait dengan produksi dan distribusi barang, akan tetapi saat ini logistik juga telah menyentuh produksi jasa. Sistem logistik mencakup arus barang, jasa dan informasi di sektor produksi dan mencakup jasa pada sektor pariwisata. Logistik pada pariwisata berfokus pada pergerakan wisatawan, bagaimana wisatawan melintasi wilayah geografis yang luas, ke dan dari suatu destinasi maupun di suatu destinasi.

Sistem Logistik Pariwisata

Bapak Agung Suryawan menyampaikan bahwa sebagai sebuah sistem, logistik dalam pariwisata terdiri dari beberapa aktivitas yang saling berinteraksi secara kompleks untuk menghasilkan produk pariwisata yang dapat diterima oleh pasar pariwisata. Aktivitas tersebut meliputi  hospitality biro perjalanan, sarana transportasi dan daya tarik wisata.

Logistik pada hospitality yaitu bagaimana mengoptimalkan pergerakan barang, informasi dan wisatawan. Produknya meliputi layanan makanan dan minuman dan layanan akomodasi. Seberapa tinggi kualitas dan seberapa rendah harga layanan makanan dan minuman akan bergantung pada logistik dalam mempertahankan kualitas produk dari para supplier hingga pada proses mempersiapkan makanan kepada wisatawan.

Logistik pada biro perjalanan yaitu bagaimana mengoptimalkan perpindahan wisatawan. Dalam perpindahan wisatawan ini biasanya para biro perjalanan akan mengarahkan wisatawan ke jalur-jalur tertentu atau channel-channel yang memang sudah.

Logistik pada transportasi menyangkut ruang, waktu dan transformasi yang berhubungan dengan perpindahan barang, orang, informasi. Kepuasaan wisatawan dalam perpindahan wisatawan dari satu tempat ke tempat yang lainnya selama aktivitas wisata menunjukkan bahwa logistik transportasi telah terorganisir dengan baik.

Logistik pada atraksi wisata, logistik ini mengalir untuk tujuan menawarkan atraksi wisata kepada wisatawan dengan cara seefisien mungkin. Atraksi wisata adalah segala sesuatu yang dapat menarik calon pengunjung dan memotivasi mereka untuk melakukan perjalanan ke suatu destinasi. Logistik dalam hal ini antara lain presentasi, promosi dan pemasaran atraksi wisata yang harus dirancang secara menarik dan terorganisir dengan baik sehingga wisatawan akan merasa mendapatkan “value for money”, yang artinya pengeluaran yang telah wisatawan keluarkan sebanding dengan kepuasaan dan pengalaman yang wisatawan dapatkan.

Beliau juga menyampaikan bahwa dalam destinasi pariwisata, logistik merupakan optimasi arus material, wisatawan, informasi, pengetahuan dan modal dalam area tertentu untuk tujuan menyediakan produk-produk pariwisata yang berkualitas. Logistik dalam pariwisata bertujuan untuk memberikan penawaran pariwisata yang berkualitas tinggi dan untuk meningkatkan efisiensi bisnis dari semua perusahaan dalam industri pariwisata.

Dalam pariwisata hanya melibatkan dua jenis logistik yaitu logistik yang bersifat makro dan logistik yang bersifat mikro. Logistik makro merupakan optimalisasi perpindahan material, wisatawan, informasi, yang diarahkan menuju destinasi wisata. Logistik makro memberikan kesempatan untuk mengoptimalkan perpindahan barang menuju destinasi, meningkatkan pemanfaatan kendaraan transportasi.

Logistik yang bersifat mikro yaitu melibatkan perusahaan pariwisata yang terorganisir dan perusahaan terkait lainnya di suatu destinasi, dalam hal ini ditekankan pula bahwa perusahaan mampu memberikan layanan berkualitas dengan harga terjangkau (Ida Ayu Dyana Prawerti, Angkatan 2016)