Seminar Pariwisata: Ubud Miliki Suasana Tradisi dan Fasilitas Modern yang Memikat Wisatawan Pensiunan

Dr. Paul Green (kaos hitam) berfoto bersama peserta usai seminar, Selasa, 24 Januari 2017.

 

Ubud memiliki kombinasi antara suasana tradisional dan fasilitas modern yang menjadi daya tarik bagi wisatawan pensiunan (retirees) internasional untuk tinggal dalam jangka waktu lebih lama daripada turis biasa.

Demikian disampaikan Dr. Paul Green, dosen antropologi pariwisata dari School of Social and Political Sciences, University of Melbourne, dalam seminar pariwisata di Prodi S-2 Kajian Pariwisata Unud, Selasa, 24 Januari 2017. Paul Green berada di Unud dalam rangka persiapan mengajak mahasiswa University of Melbourne melakukan kuliah pariwisata intensif di Unud, Juli 2017.

Seminar International retirement migration and tourism in Southeast Asia dipandu dosen Politeknik Negeri Bali I Ketut Sutama diikuti sekitar 50 peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, dan umum.

Paul menyebutkan bahwamigrasi internasional pensiunan awalnya berlangsung di internal wilayah Eropa dan Amerika, belakangan meluas secara global.

Di Asia Tenggara, selain Ubud, beberapa kota yang menjadi pilihan bagi pensiunan atau wisatawan usia  lanjut untuk menetap yaitu Penang, Langkawai, Kualalumpur (Malaysia), Phuket, Chiang Mai, Bangkok (Thailand), dan beberapa destinasi di Filipina.

Dr. Paul Green saat presentasi.

Pendekatan Etnografis

Paul melakukan penelitian tentang migrasi para pensiunan di Asia Tenggara sejak 2011 secara longitudinal (riset berlanjut dalam waktu panjang), pendekatan etnografis, dan mewawancarai 101 retiree.

Warga negara yang menjadi turis lanjut usia yang melakukan migrasi ke Asia Tenggara, menurut Paul, berasal dari berbagai negara seperti Australia, Jepang, Amerika, dan negara-negara di Eropa.

“Ketika muda mereka bekerja keras, ketika lanjut usia, mereka ingin menikmati hidup dengan santai di luar negerinya. Di negerinya biaya hidup kian tinggi,” ujar Paul.

Berdasarkan penelitiannya, Paul menyampaikan bahwa tiap-tiap destinasi di Asia Tenggara memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Wisatawan lanjut usia memilih destinasi tertentu karena berbagai faktor, misalnya pengalaman liburan sebelumnya, hubungan emosional, dan infrastruktur fisik dan non-fisik seperti kemudahan visa.

Dr. Paul Green.

Daya Tarik Ubud

Keputusan retiree memilih Ubud untuk berlibur lama, menurut Paul, adalah karena dua alasan berikut. Pertama, adanya hubungan emosional di mana wisatawan sudah ‘fall in love’ (jatuh cinta) pada Ubud pada liburan mereka sebelum-sebelumnya.

Bagi wisatawan, Ubud memiliki daya tarik magis, ideal sebagai tempat tinggal untuk menemukan ‘jati dirinya’ (one’s self) di sana.

Kedua, Ubud memiliki suasana tradisional dan tersedianya fasilitas modern. Citra tradisi berkaitan dengan budaya dan citra Ubud sebagai desa agraris, dengan alam dan pesona persawahan yang indah.

Peserta dalam tanya jawab.

Pada saat yang sama, Ubud menyediakan fasilitas modern yang memenuhi kebutuhan retiree seperti restorant, café, dan supermarket.

“Kombinasi tradisional dan modern adalah faktor penting daya tarik Ubud,” ujar Paul.

Selain itu, Paul juga menyampaikan tersedianya pembantu rumah tangga juga menjadi daya tarik wisatawan la njut usia tinggal di Ubud. “Pembantu bisa merawat mereka dengan baik,” ujar Paul.

Peserta seminar.

Empat Hal yang Perlu Diperhatikan

Paul menyampaikan pangsa pasar wisatawan pensiunan kian kompetitif, oleh karena itu, setiap destinasi jika ingin memenangkan persaingan global perlu memperhatikan empat hal yang menjadi kebutuhan wisatwan lanjut usia.

Keempat hal itu adalah kelancaran lalu lintas, fasilitas kesehatan, bahasa, dan fasilitas berstandar internasional lainnya.

“Wisatawan lanjut usia rentan akan sakit, jika mereka perlu pertolongan, jangan sampai dihambat oleh kemacetan lalu-lintas,” ujarnya.

Di Penang, menurut Paul, tersedia fasilitas kesehatan modern, tidak ada masalah traffic, wisatawan boleh membeli properti di sana secara legal. Namun, menurut Paul, di Penang wisatawan kurang memiliki hubungan emosional, kurang tertarik pada budaya lokal.

Anak-anak latihan menari di Puri Ubud sebagai daya tarik wisata.

Meningkat

Menurut Paul, jumlah warga dunia yang lanjut usia kian meningkat, dan kehadiran mereka merupakan pangsa pasar wisatawan lanjut usia.

Paul memuji munculnya beberapa fasilitas wisata untuk wisatawan usia lanjut di Bali seperti Sada Jiwa, utara Mengwi, Kabupaten Badung, yang dikelola secara holistik, yang mulai populer di kalangan wisatawan Inggris, Amerika, dan Jepang.

“Di sana mereka bisa diajak terlibat berbagai kegiatan sosial dan budaya, wisatawan senang karena merasa diperhatikan,” ujar Paul (*).