Seminar “Marine Tourism” Bahas Relasi Masyarakat Bali dengan Lingkungan Pantai

IMG_2145

Upacara melasti di pantai Petitenget, Kabupaten Badung, Maret 2016 (Foto-foto Darma Putra)

Kandidat doktor dari Australia menyampaikan bahwa relasi masyarakat Bali dengan lingkungan pantai dan laut (marine environtment) tampak pada empat dimensi yaitu laut sebagai tempat melaksanakan ritual penyucian (cleansing), sumber mata pencaharian, untuk rekreasi, dan tempat tinggal kekuatan supernatural.

Thomas Wright dari the University of Queensland menyatakan hal itu dalam seminar akademik di Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud, Kamis, 13 Juli 2016, diikuti sekitar 50 peserta terdiri dari mahasiswa dan dosen. Seminar dipandu oleh Ngurah Budiasa, mahasiswa S-3 Pariwisata Unud yang sehari-hari adalah dosen STP Nusa Dua Bali.

Dalam makalah berjudul “Balinese Relationships to Marine Environments in the Context of Tourism: Preliminary Insights”, Thomas menyampaikan bahwa lingkungan pantai semakin penting bagi Bali dalam konteks perkembangan industri pariwisata.

Dalam presentasinya, dia menguraikan secara ringkas dimensi hubungan masyarakat Bali dengan marine environtment seperti pelaksanaan melasti (upacara penyucian), laut sebagai tempat masyarakat mencari nafkah mulai dari menjadi nelayan tradisional dan menjual jasa  yang berkaitan dengan pariwisata.

FullSizeRender

Thomas Wright kiri, Ngurah Budiasa kanan.

Berkepentingan pantai Lestari

Masyarakat Bali dan industri pariwisata, menurut Thomas, berkepentingan untuk pelestarian dan kelestarian pantai. “Hal ini tampak dari mulai tumbuhnya gerakan untuk pembersihan pantai jika ada sampah-sampah menumpuk,” kata Thomas, yang mengadakan penelitian selama setahun di Bali, di tiga pantai yaitu Berawa, Batubolong (Kabupaten Badung), dan Perancak (Bali Barat).

Thomas juga menyampaikan bahwa dalam target pemerintah Indonesia mencapai angka kunjungan wisatawan 20 juta dalam lima tahun ke depan, pantai sebagai tempat rekreasi akan semakin penting.

“Kebersihan dan kesuciannya tentu harus tetap dijaga agar pantai sebagai tempat ritual dan pariwisata berjalan dengan baik,” katanya.

IMG_5877

Diskusi berlanjut usai seminar, Thomas dan salah seorang peserta.

Dari penelitian ini, Thomas akan menulis disertasi untuk diajukan di kampusnya Brisbane, di Australia. Selama melakukan penelitian di Bali, dia berada dalam bimbingan akademik Prof. I Nyoman Darma Putra, Kaprodi Magister Kajian Pariwisata Unud.

“Saya berterima kasih, Thomas berbagai pengalaman dan metode risetnya kepada akademisi dan mahasiswa di Unud,” ujar Darma Putra yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya Unud.

IMG_5876

Peserta seminar relasi orang Bali dengan lingkungan pantai.

Seminar berlangsung sekitar dua jam, hidangan berupa kudapan yang disajikan adalah masalah lokal seperti pisang dan kacang rebus dan dibungkus dengan daun sehingga ramah lingkungan.

“Kudapan ini untuk menghargai makanan lokal dan mengurangi penggunaan sampah plastik,” tutur Thomas (*).