Kuliner Lokal Menjadi Salah Satu ‘Primary Attraction’ bagi Wisatawan Berlibur ke Bali

Seminar kuliner di STPBI, Sabut, 12 Desember 2015. Dalam foto tampak dosen dan pimpinan STPBI dan pembicara, bawa tas dari kiri: I Nyoman Darma Putra, Ketut Swastika, Janet de Neefe, dan Putu David (moderator). Direktur STPBI I Made Sujana (dua dari kanan) (Foto STPBI)

Direktur STPBI I Made Sudjana,SE, MM, CHT, CHA (dua dari kanan) berfoto dengan dosen STPBI dan pembicara. Dari kiri: Drs. I Nyoman Urbanus, M.Si, CHT, Drs. Nyoman Gde Astina, M.Pd., Prof. I Nyoman Darma Putra, I Ketut Swastika, Janet de Neefe, Putu David (moderator), dan Anak Agung Gde Wijaya (Foto STPBI)

Kekayaan kuliner lokal telah memperkuat daya tarik wisata Pulau Bali. Kuliner lokal telah mulai menjadi salah satu primary attraction (daya tarik utama) bagi wisatawan untuk berlibur ke Pulau Dewata.

Demikian disampaikan Prof. I Nyoman Darma Putra, Kaprodi Magister Kajian Pariwisata Unud, dalam seminar bertema “Exploring the Heritage of Balinese Cuisine”, di Sekolah Tinggi Pariwisata Bali International (STPBI), Sabtu, 12 Desember 2015.

Pada saat itu, tampil dua pembicara lainnya yaitu Janet de Neefe (penulis buku Balinese food tinggal di Ubud) dan I Ketut Swastika dari Indonesian Cheff Association (ICA).

Seminar yang dibuka oleh Direktur STPBI, I Made Sudjana,SE, MM, CHT, CHA diikuti sekitar 50 peserta, dan dirangkaikan dengan “Balinese Culinary Festival”, menghadirkan makanan khas dari kota/kabupaten di Bali.

Menurut Darma Putra, banyak wisatawan yang berlibur ke Bali karena ingin mencari makanan kesukaannya. Kerinduan akan kuliner yang mendorong mereka untuk datang.

“Banyak turis ke Ubud sengaja untuk mencari nasi ayam Bu Mangku atau babi guling Bu Oka, bukan karena mereka ke Bu Oka atau Bu Mangku karena kebetulan ada di Ubud,” ujar Darma.

kuliner

Resiprokal

Menurut Darma Putra, kuliner dan industri pariwisata memiliki hubungan resiprokal yang saling menguntungkan.

“Kuliner mendukung daya tarik pariwisata Bali, sebaliknya pariwisata Bali memberikan ruang yang luas buat kuliner Bali untuk berkembang,” kata Darma.

Darma menegaskan bahwa sebetulnya kuliner Bali sudah sejak awal merupakan bagian dari perkembangan pariwisata Bali, akan tetapi pada awal perkembangan pariwisata kuliner tidak pernah mendapat perhatian seperti sesemarak sekarang ini.

“Dulu, ikon pariwisata Bali adalah tari kecak dan barong. Nama makanan belum muncul sebagai ikon. Kini makanan seperti babi guling, ayam kedewatan, betutu, ikan bakar jimbaran dan seterusnya hadir sebagai ikon,” tambah Darma.

Kini, kuliner benar-benar merupakan salah satu pilar penting yang mendukung sustainability pariwisata Bali.

“Turis yang datang ke Bali berulang-ulang adalah untuk memenuhi rasa rindu pada masakan Bali. Masakan Bali membuat daya tarik Bali terus menguat,” kata Darma.

Menjawab pertanyaan peserta tentang masakan lokal apa yang kiranya akan bisa menjadi ikon kuliner Bali di dunia internasional seperti pizza dari Itali atau sushi dari Jepang, Darma menyampaikan bahwa ‘babi guling’ sudah dikenal sebagai ikon.

Ketika Anthony Bourdain, selebritis TV acara kuliner dari Amerika, datang ke Bali, dia memfilmkan babi guling Ibu Oka. “Kalau dalam kuliner Indonesia, dari Bali yang dipilih adalah sate lilit,” ujar Darma.

Sausana seminar kuliner Bali di STPBI Bali

Suasana seminar kuliner Bali di STPBI Bali (Foto STPBI Bali).

Buku-buku

Semaraknya perkembangan kuliner Bali dalam konteks pariwisata ditandai dengan lahirnya asosiasi juru masak di Bali, dipelajarinya aspek memasak di sekolah pariwisata seperti BPLP/nama lama STP Nusa Dua, banyaknya festival kuliner di Bali, dan terbitnya banyak buku resep makanan Bali.

“Buku masakan Bali tak hanya berisi resep tetapi juga ulasan mengenai budaya Bali,” tambah Darma sambil menyebutkan beberapa judul buku seperti Fragrant Rice: My Continuing Love Affair with Bali (2006) karya Janet de Neefe dan Balinese Food: The Traditional Cuisine & Food Culture of Bali (2014) karya Vivienne Kruger.

Masih banyak buku lain tentnag kuliner Bali termasuk karya Heinz von Holzen dan Bondan Winarno. , dan lain-lain termasuk penulis nasioal Bondan Winarno. Karya mereka membuat masakan Bali dikenal luas.

Buku Vivien berjudul Balinese Food: The Traditional Cuisine & Food Culture of Bali (2014) sesuai judulnya tak hanya mengenalkan kuliner Bali tetapi juga aspek kebudayaan Bali yang menghidupkan kuliner tersebut.

Janet juga menulis artikel tentang makanan Bali di majalah maskapai penerbangan, membuka cooking class di Ubud, dan menjadi tamu dalam acara food di televisi internasional seperti di Australia.

“Peran mereka patut dihargai sebagai ornag yang mempromosikan kuliner Bali ke dunia internasional. Promosi kuliner adalah promosi pariwisata dan budaya Bali,” tambah Darma.

Janet dalam makalahnya menyampaikan bahwa makanan merupakan sumber budaya dan identitas.

“Apa yang kita perbuat dan apa yang kita makan adalah budaya atau apa yang hendak kita perbuat tentang budaya,” ujar Janet, penggagas Ubud Writers and Readers Festival tahun 2004.

“Bali kaya akan kuliner, ini perlu dipertahankan sebagai sumber identitas Bali,” kata Janet.

Banyak Sambel

Menyinggung kekayaan kuliner Bali, Ketut Swastika mengatakan bahwa untuk sambel saja Bali memiliki 147 jenis, hampir 150. “Begitu juga jenis masakan dan dissert (jajan) yang sudah banyak diperkenalkan di hotel-hotel,” kata mantan cheff Four Seasons Hotel.

Pengenalan makanan Bali di dunia pariwisata perlu memperhatikan banyak hal termasuk memastikan rasanya lezat, warnanya bagus, dan dekorasinya harus benar. Aspek kebersihan dan kesehatan proses pembuatan dan penghidangan, menurut Swastika, juga sangat penting.

Perkenalan kuliner di dunia pariwisata juga berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Ketut Swastika yang terlibat dalam festival kuliner dalam ajang tahunan Denfest (Denpasar Festival) mengatakan bahwa kian lama kian banyak pedagang kuliner yang mau tampil berjualan di Denfest.

“Kami panitia memperhatikan sekali kebersihan dan hygiene-nya. Pedagang kita bina dalam menangani kebersihan, misalnya menyediakan dua tempat sampah yaitu sampah kering dan basah,” kata Swastika.

Pembinaan itu kemudian menjadi kebiasaan bagi mereka ketika berjualan di masyarakat. ‘Kalau dagangan enak, kebersihan terjaga, konsumen akan datang lagi,” kata Swastika.

Pembukaan Festival Kuliner oleh Direktur STPI Bali I Made Sujana (tengah), didampingi Ketua Yayasan Dharma Widya Ulangun, Drs. Nyoman Gde Astina, M.Pd, (sebelha kirinya) dan Janet de Neefe (sebelah kanan). (Foto STPBI)

Pembukaan Festival Kuliner oleh Direktur STPI Bali I Made Sudjana,SE, MM, CHT, CHA (tengah), didampingi Ketua Yayasan Dharma Widya Ulangun, Drs. Nyoman Gde Astina, M.Pd. (sebelah kirinya) dan Janet de Neefe (sebelah kanan) (Foto STPBI)

Festival Kuliner

Dalam acara festival kuliner di STPBI, digelar makanan khas dari berbagai kabupaten. Menurut ketua panitia, Komang Trisna Pratiwi, SST.Par., M.Par., M. Rec., kegiatan ini selain untuk mempromosikan kekayaan kuliner Bali juga memberikan kesempatan kepada para siswa untuk melaksanakan event festival.

“Kami berharap agar mahasiswa juga memiliki rasa bangga pada kekayaan kuliner Bali,” kata Trisna, alumni Double Degree Indonesia-Perancis (DDIP) Program Studi Magister Kajian Pariwisata Unud.