Seminar Branding: Berbicara dalam Konteks Ideal sekaligus Praktis

Catatan I Putu Sudhyana Mecha, Angkatan 2015, mechaputu@gmail.com

Peserta seminar terutama mahasiswa semangat belajar dari seminar branding.

Peserta seminar terutama mahasiswa semangat belajar dari seminar branding.

Hari Jumat sore, 2 Oktober 2015, Program Studi Pascasarjana Magister Kajian Pariwisata mengadakan seminar nasional yang bertemakan branding, tepatnya “Branding Invidu dan Branding Kolektif dalam Pariwisata Bali”.

Seminar yang berlangsung pk. 15.30-19.00 itu diselenggarakan dalam rangka memperingati Dies Natalis Universitas Udayana (Unud) yang ke-53.

Seminar menampilkan narasumber kualified antara akademisi dengan praktisi, menghubungkan antara teori dengan praktek, serta mensinergikan antara idealisme dengan realitas.

Sungguh beruntung sekali saya pada sore hari itu, bisa mendapat kesempatan yang luar biasa untuk bertemu dan mendengarkan materi yang luar biasa, tentunya dari beliau-beliau yang super luar biasa ini.

Ada empat orang pembicara luar biasa yang berkesempatan mengisi acara seminar ini. Dari kalangan akademisi, ada ibu Dr. Putu Saroyeni dan bapak Prof. Dr. I Gde Pitana. Ibu Dr. Putu Saroyeni merupakan alumnus program Pascasarjana doktor Universitas Indonesia, dimana saat ini beliau juga merupakan salah satu dosen di program pascasarjana Magister Kajian Pariwisata. Bapak Prof. Dr. I Gde Pitana merupakan Deputi Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran Luar Negeri, yang juga seorang Guru Besar Bidang Pariwisata Unud.

Sementara itu, dari kalangan praktisi ada Mr. Joger, selaku pemilik dan pengelola Joger serta ibu Made Masih, selaku pemilik dan pengelola Made’s Warung.

Penampilan mereka dipandu dengan efektif dan efisien oleh Dr. I Nyoman Madiun, dosen STP Nusa Dua yang juga mengajar di Prodi S-2 Kajian Pariwisata Unud. Kehebatan pembicara dan moderator dibuktikan dengan bertahannya sekitar 250-an peserta selama tiga setengah jam mengikuti seminar dengan penuh keriangan.

Positivisme ala Mr. Joger

Kesan pertama yang saya tangkap dari materi seminar yang disampaikan oleh Mr. Joger adalah sisi positif beliau yang selalu dibungkus dengan jokejoke dan “kesesatan”-nya. Lugas, positif, penuh makna, serta jelas arah tujuannya.

Walaupun kelihatannya beliau selalu “serius” bercanda dalam setiap pembicaraannya, saya kira itu hanya bagian dari permainan kata-kata saja. Jika kita mau mencerna setiap pernyataan yang dikemukakan Mr. Joger, beliau selalu mampu menyelipkan esensi positif dan membangun dalam setiap perkataannya. Di situlah the power of words benar-benar bekerja dengan maksimal.

Beliau mampu menggambarkan segala peristiwa yang telah terjadi dalam hidupnya dengan bahasa yang lucu dan menarik, sekaligus mampu membuat para audience berpikir, apa sebenarnya maksud dari kata-kata beliau ini.

Sungguh suatu pendekatan yang out of the box. Sungguh layak sekali julukan “Pabrik kata-kata” kita berikan kepada Mr. Joger, seorang praktisi, jagoan bicara, atau lebih tepatnya saya sebut “seniman” pariwisata sejati.

Positioning, Differentiation, Branding

Sebelumnya, saya sudah pernah beberapa kali mengikuti semintar tentang branding. Pendekatan yang dilakukan setiap pembicara dalam seminar tentu berbeda-beda, tergantung dari background serta konteks apakah yang menjadi tema acara.

Pada kesempatan kali ini, saya beruntung sekali bisa mendapatkan ilmu baru. Yeah, materi tentang branding yang ditelaah berdasarkan pendekatan dari ilmu pariwisata. Ibu Dr. Saroyeni dan Bapak Prof. Dr. Pitana menjelaskan mengenai branding pariwisata kekinian, mulai dari tingkat daerah (dalam kasus ini Bali), hingga sampai tingkat nasional, dan internasional. Beliau-beliau mampu menggambarkan realita pariwisata yang telah terjadi hingga saat ini, sekaligus memodelkannya ke dalam teori pariwisata yang sudah sering kita bahas di kelas.

Namun, ada poin yang menarik perhatian saya kali ini. Dalam melakukan branding, ternyata ada beberapa langkah penting yang harus kita ketahui terlebih dahulu. Ketika langkah-langkah ini mampu kita rumuskan dan eksekusi dengan baik, maka proses branding yang akan kita lakukan ini pasti lancar dan mampu menarik siapapun.

Langkah-langkah yang saya maksud di sini antara lain adalah positioning, differentiation, dan barulah kemudian branding itu sendiri. Positioning adalah mencari posisi, berusaha menempatkan brand kita sesuai dengan identitas dan tujuan yang ingin kita capai.

Differentiation adalah yang menjadi ciri khas kita, sesuatu yang menjadi pembeda kita dengan yang lain. Kemudian, yang terakhir, barulah kita melakukan branding, berdasarkan positioning dan differentiation yang telah kita rumuskan. Seperti itulah gambaran teori yang mampu saya serap dalam kesempatan kali ini.

Namun, sebagus dan seakurat apa pun setiap teori yang mampu kita terima, entah itu dalam semintar kali ini ataupun dalam kesempatan lain, tentu tidak akan seindah apabila kita mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan, menurut saya seharusnya kita bisa berbuat lebih, mampu mempraktekkan setiap teori yang didapat ke dalam setiap denyut kehidupan kita. Inilai kualitas yang sesungguhnya, ketika konteks ideal dan praktis mampu berjalan sinergis.