Seminar Bersama Pembangunan dan Perencanaan Pariwisata Bali dan Malaysia

Pembicara dalam dalam seminar dari kiri ke kanan: Dr. Widiastuti, Dr. Mohamad Zin Mohamed, dan Prof. Darma Putra (Fot0-foto Putu Pande Indrayana Tirtayasa).

Pembicara dalam seminar dari kiri ke kanan: Dr. Widiastuti, Dr. Mohamad Zin Mohamed, dan Prof. Darma Putra (Foto-foto Putu Pande Indrayana Tirtayasa).

Pembangunan pariwisata Malaysia dan Bali menghadapi persoalan yang sama, yaitu ketimpangan kemajuan antara satu daerah dengan daerah lainnya dan masalah carrying capacity (kapasitas daya tampung).

Demikian terungkap dalam seminar bersama antara Prodi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana dan The Department of Urban and Regional Planning. International Islamic University Malysia (IIUM), di aula Gedung Pascasarjana Unud, Selasa, 19 Januari 2016.

Seminar diikuti sekitar 60 peserta, terdiri dari mahasiswa dan dosen pariwisata Unud dan tamu dari mahasiswa dari Malaysia yang sedang melakukan study tour di Bali. Selama di Bali, mahasiswa Malaysia yang dipimpin Dr. Mohamad Zin Mohamed juga melakukan anjangsana ke kantor-kantor pemerintah di Denpasar untuk mendapat gambaran tentang pembangunan dan perencanaan pariwisata Bali.

“Kami juga akan ke Lombok,” ujar Dr. Mohamad. Sepulang dari study tour, mahasiswa harus menyelesaikan laporan studinya dengan memperkayanya dengan perspektif perencanaan dari hasil kunjungan ke Bali dan Lombok.

Tema Seminar

Seminar bersama yang bertema “Development and Planning of Tourism in Bali and Malaysia”, menampilkan tiga pembicara yaitu Prof. Darma Putra, Dr. Widiastuti (dosen Unud), dan Dr. Mohamad Zin Mohamed dari IIUM Malaysia.

Dr. Mohamad Zin menyampaikan bahwa pemerintah Malaysia terus berusaha meningkatkan jumlah kedatangan wisatawan ke negeri itu sebanyak-banyaknya.

“Kami merasakan kesumpekan dan kepadatan lalu-lintas, sepertinya sudah ada masalah carrying capacity,” ujar Dr. Mohamad. Dia juga menyinggung rencana reklamasi di Penang sebagai usaha untuk meningkatkan ruang pembangunan pariwisata untuk meningkatkan ruang carrying capacity.

Ihwal carrying capacity untuk Bali, Darma Putra menjelaskan keterbatasan sudah terasa terutama di Bali Selatan. Hal ini akan semakin terasa jika dilihat dari target pemerintah Pusat mendatangkan 20 juta wisatawan dalam lima tahun mendatang (2019), dan Bali diharapkan bisa mendatangkan 10 juta.

“Dengan kedatangan sekitar 4 juta turis asing tahun 2015 ini saja sudah padat, apalagi 10 juta, Bali akan benar-benar sumpek jika infrastruktur tidak ditingkatkan,” kata Darma.

Tentang ketimpangan pembangunan pariwisata di Bali disampaikan Darma Putra dengan memberikan ilustrasi kepadatan pariwisata di Bali Selatan, sementara di Bali Utara dan Bali Barat masih relatif sepi.

“Selatan sudah sangat padat, sementara ada lagi rencana reklamasi, akan semakin timpang Utara Selatan,” ujar Darma Putra.

fb4

Suasana seminar di Aula Gedung Pascasarjana Unud.

IMG_0985

Peserta seminar.

 Pariwisata dan Harmoni Bertetangga

Dalam pemaparannya, Darma Putra juga tingginya kunjungan wisatawan Malaysia ke Bali. Tahun 2014, turis Malaysia ke Bali sebanyak 225.572 orang menempati urutan ketiga setelah Australia (991.923) dan Cina (586.300).

“Tahun 2015 turun sedikit untuk turis Malaysia mungkin karena gangguan penerbangan dari kabut asap dan abu letusan gunung, namun trend umum menunjukkan peningkatan. Peran negara tetangga sebagai pasar wisatawan memang penting sekali,” ujar Darma.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Dr. Mohamad Zin yang mengatakan ramai sekali kunjungan warga Indonesia ke Malaysia. Warga Indonesia di Sumatera banyak yang bepergian ke Penang, karena dekat. Selain untuk berwisata, banyak juga yang berkunjung untuk berobat.

“Malaysia sedang gencar mengembangkan medical tourism, bersaing dengan Thiland,” katanya.

Fenomena berwisata di antara negara tetangga menunjukkan dua hal secara bolak-balik. “Lancarnya aktivitas wisata menunjukkan hubungan kedua negara harmonis, sebaliknya harmonisnya hubungan negara bertetangga akan memperlancar aktivitas pariwisata,” ujar Darma.

Berfoto bersama usai seminar.

Berfoto bersama usai seminar.

Arsitektur Tradisional

Dr. Widiastuti dalam makalahnya banyak menyoroti perkembangan arsitektur dalam pembangunan pariwisata.

“Arsitektur tradisional Bali memberikan banyak inspirasi untuk pembangunan fasilitas pariwisata seperti hotel dan restoran dengan nuansa khas Bali,” katanya.

Tak hanya arsitekturnya memberikan kekhasan tetapi juga pengaturan ruang atau spasial seperti bagian yang sakral dan yang profan.

“Dalam mengadopsi dan mengadaptasi arsitektur tradisional Bali dalam bangunan fasilitas pariwisata, wujud fisik bisa diwujudkan sedangkan roh atau spiritnya tidak,” kata dosen arsitektur Fakultas Teknik Unud lulusan Perancis itu.

Dalam diskusi, juga didialogkan ihwal strategi Bali dalam melestarikan warisan budaya untuk kepentingan budaya dan pariwisata.

Kunjungan Pertama

Kunjungan mahasiswa dari Malaysia ke Prodi Magister Kajian Pariwisata merupakan yang pertama tahun ini. Tahun lalu, Prodi menerima kunjungan dari Timor Leste dan dari Monash University Australia.

Study visit sangat baik bagi kami untuk diskusi, untuk membuka wawasan mahasiswa,” kata Darma Putra.

Selain menerima kunjungan, mahasiswa Prodi Kajian Pariwisata juga mengadakan kunjungan ke luar seperti Australia, Korea, dan Malaysia (*)