Seminar Pariwisata: Berlibur ke Bali menjadi Habit bagi Turis Australia

Monash 01

Suasana seminar “Australian Perspectives on Tourism in Bali”. Dari kiri: Prof. Darma Putra, Sandhi Yuliarsa (moderator), dan Dr. Agnieszka Sobocinska (Foto: Putu Indrayana Tirtayasa).

Berlibur ke Bali sudah menjadi habit atau kebiasaan bagi wisatawan Australia. Meski terjadi serangan terorisme dua kali dan merenggut banyak korban warga Australia, serta sejumlah kasus narkoba yang berujung di penjara, namun wisatawan dari Negeri Kanguru tetap mengalir ke Bali.

Demikian disampaikan Dr. Agnieszka Sobocinska, dosen senior National Centre for Australian Studies Monash University, dalam seminar Kamis, 10 Desember, di Prodi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana.

Seminar yang bertema “Australian Perspectives on Tourism in Bali” juga menampilkan pembicara Prof. I Nyoman Darma Putra, Ketua Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud. Lebih dari 250 orang mengikuti seminar internasional ini yang terdiri dari 23 orang mahasiswa dari Monash University, mahasiswa pariwisata S-1, S-2, dan S-3 Unud, dan dosen.

Suasana seminar. Peserta memadati ruangan (Foto Ary Bestari).

Suasana seminar. Peserta memadati ruangan (Foto Ary Bestari).

Berbagai Faktor

Dalam makalahnya berjudul “Beers and Bombs: Australians in Bali”, Agnieszka Sobocinska memaparkan berbagai faktor yang membuat wisatawan Australia senang berlibur ke Bali. Faktor-faktor tersebut termasuk kedekatan geografis, perbedaan alam dan budaya, promosi media dan biro perjalanan, serta paket yang hemat.

Bali sudah mulai dipromosikan secara besar-besaran di media Australia sejak awal 1970-an. Agnieszka Sobocinska menyebutkan bahwa tahun 1971, dua tahun setelah bandara Ngurah Rai dibuka luas sebagai bandara internasional, koran The Sydney Morning Herald menurunkan laporan yang berisi puja-puji tentang Bali yang dapat membujuk warga Australia tertarik ke pulau ini.

“Dalam tulisannya, Sydney Morning Herald mengungkapkan bahwa Bali tak hanya ‘lanskap yang warna-warni yang bisa dijumpai dalam mimpi’ tapi juga kalau pergi ke sana harganya sangat hemat,” kata Agnieszka Sobocinska, mengutip tulisan koran Sydney Morning Herald.

Selain menurunkan tulisan, salah satu koran besar di Australia itu juga memuat banyak iklan paket berlibur ke Bali. Menurut catatan Agnieszka, tahun 1982, paket berlibur dari Australia ke Bali untuk 9 hari/7 malam adalah $490 termasuk tiket pesawat pp, akomodasi, dan makan.

“Ini paket yang hemat sekali, dibandingkan gaji per minggu pekerja Australia waktu itu adalah $340,” ujar penulis buku Visiting the Neighbours: Australians in Asia (2014).

Data yang ada menunjukkan bahwa tahun 2014, dari 3,7 juta turis mancanegara ke Bali, jumlah turis Australia tercatat paling tinggi yaitu, mendekati satu juta orang, tepatnya 991.923 orang.

Terus Populer

Popularitas Bali meningkat terus di Australia, dan wisatawan Australia yang berlibur ke Bali terbukti bisa mendapatkan apa yang diharapkan, buktinya mereka melakukannya berulang-ulang. Agnieszka menyebutkan bagaimana pasangan pengantin baru Australia datang ke Bali untuk wedding party, untuk honeymoon (berbulan madu), dan mengulangi lagi perayaan wedding anniversary-nya di Bali.

“Bukan saja karena murah, tetapi juga karena mereka suka,” katanya.

Sebagai destinasi, Bali memberikan apa yang diharapkan oleh wisatawan Australia saat berlibur ke Bali. “Ada budaya yang berbeda, alam yang indah seperti pantai. Fasilitas wisata yang tersedia termasuk belakangan trend health tourism seperti yoga dan detox,” kata Agnieszka.

Dia menambahkan bahwa siswa Australia, yang tamat sekolah juga suka memilih perayaan lulus mereka dalam program yang disebut schoolies di Bali. “Berlibur ke Bali seperti sudah menjadi habit bagi wisatawan Australia,” ujarnya.

Dalam diskusi, banyak pertanyaan diajukan peserta, seperti kebiasaan turis Australia yang suka ke pub, minum bir, keliling naik motor tanpa baju lengkap, dan bagaimana persepsi Australia terhadap budaya lokal. Selain itu, ada juga ada pertanyaan tentang pertimbangan ke Bali itu karena murah atau karena daya tarik budaya Bali.

Gerakan ‘Not for Sale’

Pemakalah kedua, I Nyoman Darma Putra membahas perkembangan mutakhir pariwisata Bali melalui gerakan popular ‘Not for Sale’. Gerakan yang diinisiasi oleh pelukis Gde Suanda alias Sayur diawali tahun 2010 dengan cara memasang instalasi seni dari bambu dengan tulisan ‘Not for Sale’, dipasang di lahan sawah miliknya di Ubud.

“Gerakan ini pada awalnya didorong oleh rasa prihatin inisiator dan timnya atas fenomena masifnya penjualan tanah (sawah) Bali untuk pembangunan hotel atau vila,” ujar Darma.

not-for-sale bale bengong

Suasana di rice terrace di Ceking (Foto Balebengong/Internet).

Menurut Darma Putra, frase ‘not for sale’ adalah ungkapan yang bernilai 3-S yaitu ‘smart, sharp, serious’ dalam menyampaikan pesan. “Buktinya instalasi ini menarik perhatian banyak orang, mendapat liputan media yang luas, dan berdampak,” kata Darma.

Salah satu dampak yang dicatat Darma adalah ketika instalasi ‘not for sale’ dipasang di teras sawah indah di Ceking, Tegallalang, karya itu diberangus sebelum berusia 24 jam, dan petani diajak bernegosiasi. Dalam negosiasi itu disepakati para petani mendapat kontribusi Rp 2 juta per bulan.

“Sebelumnya, para petani yang sawahnya menjadi objek wisata, tidak mendapat hasil. Gerakan not for sale membuat petani lebih diperhatikan,” kata Darma mengutip hasil wawancaranya dengan Sayur.

Seni untuk Protes

Menjawab pertanyaan apakah penggunaan seni di Bali bergeser dari seni murni untuk artikulasi kepedulian sosial atau protes, Darma mengatakan bahwa sejak awal seni di Bali disampaikan untuk mengartikulasikan kritik sosial, hanya saja dulu dilakukan dengan lebih simbolik karena lemahnya freedom of expression, sedangkan sekarang lebih eksplisit.

“Selain kebebasan berekspresi lebih longgar, sekarang ini persoalan lebih banyak untuk diangkat menjadi wacana publik, tak heran seniman pun menggunakan seni untuk protes,”tambah Darma, penulis buku A literary mirror: Balinese reflections on modernity and identity in the twentieth century (Leiden, KITLV Press/Brill, 2011) dan Tourism, Development and Terrorism in Bali (Ashgate 2007, bersama Michael Hitchcock).

Kunjungan Kedua

Kunjungan akademik mahasiswa dari The National Centre for Australian Studies, Faculty or Arts, Monash University, Australia, ke Unud merupakan yang kedua kalinya. Tahun 2014, mereka datang dan juga diisi dengan seminar akademik.

Peserta antusias mengikuti seminar karena topik yang dibahas menarik dan relevan bagi mereka. Bagi mahasiswa Australia, mereka mendapat kajian situasi pariwisata Bali dewasa ini, sedangkan bagi mahasiswa Unud mereka mendapat kajian tentang persepsi turis Australia terhadap Bali. 

Antusiasme peserta bisa dilihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan peserta.