Seminar Agama, Pariwisata, dan Seni Pertunjukan antara Unud dan University of San Diego

13323889_10204892751636957_1657636603_o

Duduk di depan dari kiri: Prof Sutjiati Beratha, Prof Lance Nelson, Prof David Harnish, dan Prof I Nyoman Darma Putra, berfoto bersama usai seminar (Foto Widhi Kurniawan).

University of San Diego (USD) Amerika berkunjung ke Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana dan menggelar seminar bersama, Kamis, 2 Juni 2016. Sekitar 35 mahasiswa USD datang didampingi dua dosen yaitu Prof. David D. Harnish dan Prof. Lance Nelson.

Seminar yang dibuka oleh Dekan FIB Prof. Sutjiati Beratha itu menampilkan tiga pembicara yaitu dua dosen dari USD dan seorang dari Unud yaitu Prof I Nyoman Darma Putra, dosen FIB sekaligus Kaprodi Magister Kajian Pariwisata Unud.

Dalam sambutannya, Prof Sutjiati Beratha menyambut baik seminar dan berharap kerja sama kedua lembaga bisa berlanjut dalam riset bersama, pertukaran dosen, dan pertukaran mahasiswa.

“Kami siap menerima tamu dari San Diego setiap tahun, seperti biasanya kami terima mahasiswa dari luar negeri lainnya,” ujar Prof. Sutjiati Beratha yang awal tahun ini menerima kehadiran mahasiswa dari University of Melbourne untuk kuliah di Unud untuk dua minggu dengan sistem blok, satu mata kuliah selama 16 kali pertemuan, berlangsung sekitar 2,5 minggu.

Tiga Pembicara

Seminar yang diikuti sekitar 75 peserta dari kalangan mahasiswa dan dosen dari Unud dan San Diego itu menampilkan tiga pembicara yaitu Prof. David D. Harnish dan Prof. Lance Nelson dari San Diego Amerika dan Prof. I Nyoman Darma Putra dari Unud.

Dalam makalahnya berjudul “Balinese performing arts abroad” (Seni Pertunjukan Bali di luar negeri), muskologist Prof. David Harnish membahas tentang perkembangan seni gamelan Bali di seluruh dunia. Dia mengatakan bahwa gamelan Bali tidak saja ada di Bali tetapi juga sudah berkembang dan dimainkan di berbagai negara, termasuk di Amerika, Australia, dan juga di Cina.

“Pentas kolosal Bali pertama berlangsung di Paris tahun 1931, dan berhasil memikat hati banyak orang Eropa” ujar David Harnish, yang melakukan riset tentang kesenian di Bali dan Lombok.

Menurut David, selain promosi oleh para sarjana asing yang tertarik gamelan ketika berada di Bali, popularitas gamelan Bali di lua rnegeri juga terjadi karena kehadiran seniman Bali mengajar gamelan di luar negeri. “Mereka juga sering mengadakan pentas bersama,” kata David, sambil menyebutkan beberapa contoh kelompok gamelan Bali di luar seperti Sekar Jaya (Amerika) dan Sekar Jepun (Jepang).

Jangan Jual Tanah

Dalam makalah berjudul ‘Popular Reactions to Overdevelopment in Bali Tourism”, Darma Putra menyampaikan gerakan popular anak muda untuk mengajak masyarakat untuk tidak menjual sawah. Gerakan yang populer dengan selogan ‘Not for Sale’ dipelopori oleh Gde Sayur dari Ubud dan mendapat dukungan luas serta publikasi media secara luas.

Menurut Darma Putra, Kaprodi S-2 Kajian Pariwisata ini, seruan agar orang Bali tidak menjual tanah dan sawahnya muncul dari kekhawatirna kain sempitnya tanah pertanian di Bali. “Gerakan ini menarik karena secara tidak langsung menunjukkan komitmen Bali untuk mempertahakan status Bali dengan warisan budaya,” katanya sambil menyebutkan Cultural Landscape of Bali sebagai warisan budaya dunia UNESCO ditetapkan tahun 2012.

Seminar berlangsung sehari penuh dan diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan. Dekan Prof Sutjiati menyerahkan buku biografi Seniman Bali kelas dunia (Biografi I Wayan Beratha) yang ditulis Darma Putra dkk tahun 2014. I Wayan Beratha adalah maestro karawitan Bali, ayah kandung dari Prof. Sutjiati.

13340641_10209200105021134_440985800_o

Prof. David Harnish gembira menerima hadiah buku dari Kaprodi Prof I Nyoman Darma Putra. Buku hadiah ini adalah terbitan Prodi Magister Kajian Pariwisata.

Pada saat itu, Darma Putra juga menyerahkan buku yang baru yang disuntingnya kepada David Harnish. Buku tersebut berjudul Recent Development in Bali Tourism: Culture, Heritage, and Landscape in An Open Fortress (2015) disunting I Nyoman Darma Putra dan Siobhan Campbell, diterbitkan Program Studi Magister Kajian Pariwisata Unud.

Malam harinya, acara dilanjutkan dengan menyaksikan pementasan musik gitaris Balawan di Denpasar. David Harnish menguraikan proses kreatif Balawan dan jenis musik hybrid yang dimainkan Balawan dengan unsur gamelan, jazz, dan metal. (*/dp)