Industri Pariwisata dan Dunia Diplomatik Indonesia-Australia Terjalin dalam Relasi Resiprokal

Peserta seminar (Foto-foto Darma Putra)

Peserta seminar (Foto-foto Darma Putra)

Hubungan diplomatik yang harmonis antara Indonesia dan Australia memberikan kondisi yang baik untuk berkembangnya industri pariwisata, demikian juga perkembangan industri pariwisata yang baik mendukung hubungan diplomatik kedua negara semakin harmonis. Keduanya terjalin dalam relasi resiprokal yang saling tergantung dan saling mendukung.

Demikian terungkap dalam joint international seminar bertema “Contacts and Impacts: Bali, Tourism and Australia-Indonesia Relations”, Kamis, 8 Desember 2016, di Aula Pascasarjana Universitas Udayana kampus Jl. PB Sudirman.

Seminar dilaksanakan sebagai bagian dari anjangsana mahasiswa dan dosen Monash University Australia ke Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud. Saat itu, hadir 20 mahasiswa dan tiga staf dosen dari Monash University. Mereka adalah mahasiswa dari the National Centre for Australian Studies (NCAS), Monash University. Peserta dari Unud sekitar 75 mahasiswa S2 dan S3 serta dosen.

Dr. Jemma Prudey saat menyampaikan makalah persepsi Australia-Indonesia dan sebaliknya.

Dr. Jemma Prudey saat menyampaikan makalah persepsi Australia-Indonesia dan sebaliknya.

Tiga pembicara tampil dalam seminar yaitu Dr. Jemma Prudey dan Dr. Danu Tanau keduanya dari Monash yang membahas topik hubungan Indonesia-Australia, dan Prof. I Nyoman Darma Putra dari prodi Magister Kajian Pariwisata Unud membahas pentingnya pasar Australia bagi pertimbuhan pariwisata Bali.

Relasi Resiprokal

Dalam makalahnya yang berjudul “There is No Ivory withouth a Crack: OZ Tourist in Recent Development of Bali Tourism”, Darma Putra menegaskan bahwa relasi antara dunia diplomatik dan industri pariwisata memiliki hubungan yang resiprokal.

“Keduanya saling membantu, membutuhkan, saling mendukung,” ujarnya.

Kalau hubungan kedua negara, dalam hal ini Australia dan Indonesia, baik maka industri pariwista berjalan lancar, sebaliknya kalau hubungan diplomatik tegang, wisatawan akan khawatir bepergian.

“Pariwisata yang membuat kontak people to people akrab, bisa mendukung hubungan diplomatik agar senantiasa baik,” ujar Darma Putra.

Menurut Darma, pariwisata Bali berkembang sejak tahun 1920-an atas inisiatif pemerintah kolonial Belanda. Sesudah kemerdekaan, sektor pariwisata dikembangkan pemerintah Indonesia, namun dalam perkembangannya peran pasar Australia sangat besar.

Foto bersama usai seminar bagian dari membangun persahabatan.

Foto bersama usai seminar bagian dari membangun persahabatan.

Selalu Tertinggi

“Negara tetangga ini selalu menyumbangkan jumlah terbanyak di antara pasar internasional,” ujar Darma. Mengutip data enam tahun terakhir, jumlah turis Australia selalu tertinggi. Tahun 2015 jumlahnya 966.869 orang, jauh di atas urutan kedua yang ditempati turis Cina sebanyak 688.469 orang.

“Tahun 2016, kemungkinan besar angka turis Australia berkunjung ke Bali akan melampaui satu juta, sebuah tonggak bersejarah,” katanya.

Seperti kata pepatah, ‘tak ada gading yang tak retak’, demikian pula dengan turis Australia. Hubungan bertetangga sering agak terganggu seperti adanya ancaraman ‘boycott Bali’.

Ada beberapa ancaman boikot muncul seperti saat pasca-jajak pendapat Timor Timur, saat kasus ganja Corby, dan eksekusi kasus heroin Bali Nine.

“Boikot mungkin berdampak seketika tetapi hanya sekejap. Untuk jangka panjang, boikot tidak ada dampaknya, buktinya turis Australia kian ramai ke Bali,” tutur Darma.

Setelah ledakangan bom 2002 dan 2005, yang mengesankan Bali tidak aman, justru kehadiran turis Australia ke Bali yang memberikan pesan positif ke seluruh dunia.

“Turis Australia saja berani ke Bali, berarti aman, tidak ada alasan bagi turis negeri lain tidak berani datang,” ujar Darma.

Dr. Jemma (tengah) dan Dr. Danu  (kanan) menerima kenangan buku dari Darma Putra.

Dr. Jemma (tengah) dan Dr. Danu (kanan) menerima kenangan buku dari Darma Putra.

Perkuat Relasi melalui Tourism

Jemma Prudey dalam makalah “Australia and Indonesia: Perceptions, connections and encounters” menyampaikan bahwa hubungan baik kedua negara bisa diperkuat lewat travel and tourism.

Mengutip data dari data penelitian, Jemma menyebutkan bahwa 49% orang Australia menyebutkan bahwa travel and tourism adalah sarana untuk memperkuat hubungan kedua negara. Point ‘travel and tourism’ menempati persentase tertinggi dibandingkan 15 point lainnya, termasuk pertukaran pelajar/mahasiswa (43%) dan terendah kerja sama kota kembar atau sister city (6%).

Menurut Jemma, sebanyak 42% orang Australia tertarik berlibur ke Indonesia selain Bali (beyond Bali). 

“Ini tanda mereka tertarik mengenal daerah lain sesudah atau selain Bali,” ujar editor buku Linking People, Connections and Encounters between Indonesians and Australians (2015).

Data lain menunjukkan bahwa 51% orang Australia memandang Indonesia adalah partner dagang yang penting, namun hanya 29% yang setuju bahwa Indonesia adalah ‘tetangga yang baik’ (good neighbour), sisanya 38% netral dan 25% tidak setuju.

Poster seminar, design by Epistula Communications Bali (http://www.epistulacommunications.com/ )

Poster seminar, design by Epistula Communications Bali (http://www.epistulacommunications.com/ )

Pererat Persahabatan

Kunjungan mahasiswa Monash Australia ke Indonesia khususnya mahasiswa yang mengambil mata kuliah ‘Australia dan Asia’ yang diajarkan di  the National Centre for Australian Studies (NCAS) antara lain untuk mengenal Indonesia lebih baik dan mempererat persahabatan.

Kunjungan ke Prodi Magister Kajian Pariwisata tahun 2016 merupakan yang ketiga kalinya.

Di akhir acara, Darma Putra menyerahkan kenang-kenangan kepada Jemma dan Danu buku terbitan Prodi Magister Kajian Pariwisata berjudul Recent Developments in Bali Tourism: Culture, Heritage, and Landscape in an Open Fortress (2015).