Delapan Dosen Baru Perkuat Prodi S2 Kajian Pariwisata

Rapat dosen S-2 Kajian Pariwisata, Jumat, 14 Agustus 2015.

Rapat dosen S-2 Kajian Pariwisata, Jumat, 14 Agustus 2015.

Delapan dosen baru tamatan dalam dan luar negeri memperkuat Prodi S2 Kajian Pariwisata Unud mulai semester ini.

Demikian disampaikan Kaprodi Prof. Darma Putra dalam rapat dengan tim pengajar Jumat, 14 Agustus, menjelang awal kuliah mahasiswa baru mulai 1 September.

“Ada dosen yang baru menyelesaikan doktor di Perancis, Inggris, dan Jepang,” ujar Darma Putra. Dari dalam negeri, ada yang menyelesaikan doktornya di UI, UGM, dan dari S3 Pariwisata Unud sendiri.

Mereka adalah generasi baru dosen yang akan memperkuat Prodi S-2 Kajian Pariwisata Unud, menggantikan beberapa dosen yang sudah pensiun.

Mahasiswa Baru

Dalam rapat program studi itu dibahas pembagian tugas mengajar dan jadwal perkuliahan. Darma Putra menjelaskan bahwa tahun ini, Prodi menerima mahasiswa baru 46 orang, berasal dari berbagai daerah seperti Sumatera dan Kalimantan. Mahasiswa baru yang diterimaitu memiliki berbagai latar belakang akademik seperti ekonomi, sastra, dan hubungan internasional.

Semua mahasiswa baru akan mengikuti matrikulasi antara 24-28 Agustus, yang akan diisi dengan kunjungan lapangan ke Bagus Agrowisata, Pelaga, Badung Utara.

“Tujuan matrikulasi adalah penyetaraan pengetahuan mahasiswa tentang kepariwisataan sehingga mereka siap menerima kuliah-kuliah yang bersifat multidisiplin ini,” ujar Darma.

Pada kesempatan itu, Kaprodi juga menjelaskan rencana program Joint Curricullum in Tourism (JCiT) yang dirintis oleh Kementerian Ristek Dikti dengan memberikan kepercayaan kepada tiga program master pariwisata dari perguruan tinggi yaitu Unud, UGM, dan STP Trisakti Jakarta.

Dalam program JCiT ini, akan terjadi pertukaran mahasiswa dari ketiga perguruan tinggi peserta dan dengan dua universitas di Jerman.

“Program JCiT diharapkan mulai tahun 2016/2017,” ujar Darma Putra. Program ini merupakan rintisan untuk internasionalisasi Prodi S-2 Pariwisata karena akan ada mahasiswa dari Jerman yang akan bergabung dengan mahasiswa lokal.

Internasionalisasi itu antara lain ditandai dengan pembelajaran untuk setidaknya lima mata kuliah akan dilakukan dengan bahasa pengantar bahasa Inggris.***