Prof. I Gde Pitana: Kuliner, Segmen Pasar Wisata yang sedang Berkembang

Prof. Pitana menyerahkan buku kepada Prof. Adrian Vickers, I Made Sudjana dari Sekolah Tinggi Pariwisata Internasional Bali, dan peserta lainnya sesudah peluncuran (Foto-foto Agus Darmika).

Kuliner merupakan segmen pasar pariwisata yang sedang berkembang. Tahun 2019, pemerintah menargetkan 5,4 juta wisman yang datang untuk menikmati wisata kuliner.

Demikian disampaikan Prof. I Gde Pitana, Deputi Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata, dalam kuliah umum di Prodi S-2 Kajian Pariwisata Fakultas Pariwisata Unud, Rabu, 13 Maret 2017.

Peluncuran buku dan kuliah umum dibuka oleh Prof. I Nyoman Darma Putra, Kaprodi S-2 Kajian Pariwisata yang mewakili Dekan Fakultas Pariwisata Unud.

Kuliah umum diawali dengan peluncuran buku Wisata Kuliner Atribut Baru Destinasi Ubud (2016) karya bersama Putu Diah Sastri Pitanatri dan I Nyoman Darma Putra. Acara dihadiri sekitar 200 peserta, terdiri dari mahasiswa, dosen, dan kalangan umum. Hadir juga Prof. Adrian Vickers, dari University of Sydney, penulis buku Bali A Paradise Created (2011[1989/]).

Uang untuk Makan

Mengutip data UNWTO, Pitana menyampaikan bahwa 15,80 % dana wisatawan digunakan untuk makan minum. “Potensi pendapatan dari wisata kuliner cukup besar,” ujarnya.

Prof. I Gde Pitana (kiri) saat memberikan kuliah umum, Diah Sastri (tengah) usai paparan isi buku, dan Prof. I Nyoman Darma Putra.

Tiga jenis aktivitas wisata kuliner yang digemari wisatawan adalah mengunjungi food festival, ikut dalam food tours, dan belajar memasak (cookery workshop). Pitana menyebutkan bahwa di Bali ada food festival yang digelar di Ubud.

Kuliner sebagai Ikon

Guru besar pariwisata Universitas Udayana itu menyampaikan, makanan merupakan ikon bangsa atau negara yang efektif untuk promosi pariwisata.

“Kalau mendengar pizza, orang akan langsung ingat Itali. Sup tom yum mengingatkan Thailand, sushi identik dengan Jepang,” ujarnya.

Pitana menyampaikan Indonesia kaya akan kuliner. Pemerintah berusaha mendapatkan ikon kuliner untuk promosi pariwisata Indonesia.

“Sudah dipilih 30 ikon kuliner Indonesia, dari Bali diangkat sate lilit,” katanya.

Dari 30 itu, pemerintah akan memilih 5 makanan sebagai ikon kuliner untuk promosi Indonesia. Selama ini, sudah ada empat calon yaitu sate, soto, rendang, nasi goreng.

”Masih kurang satu lagi, mohon diberikan masukan,” cetus Pitana.

Tentang popularitas makanan Indonesia, Prof Pitana mengutip peringkat yang dikeluarga CNNGo (cnn travel) yang merilis 50 makanan terenak di dunia.

“Yang mengagumkan adalah rendang. Rendang termasuk peringkat pertama terenak, nasi goreng nomor dua, sedangkan sate urutan ke-14 terenak,” ujar Pitana.

Kementerian Pariwisata aktif mempromosikan kuliner Indonesia, seperti yang dilakukan di Perth beberapa waktu lalu, ada Festival Cabe dan Avokado.

“Kami juga melakukan promosi makanan Indonesia di Amsterdam dan London,” ujar Pitana yang yakin sekali bahwa kuliner mempunyai potensi besar untuk promosi pariwisata Indonesia.

Suasana kuliah umum dan peluncuran buku.

Destinasi Wisata Kuliner Unggulan

Dalam rencana pengembangan lima tahun sejak 2016, pemerintah mengembangkan lima destinasi wisata kuliner unggulan setiap tahun. Tahun 2016, misalnya, dimulai dengan pengembangan destinasi unggulan di lima provinsi yaitu Jogya, Solo, Semarang, Bali, dan Bandung.

Tahun 2017 juga dikembangkan lima provinsi lainnya, demikian sampai 2019.

“Target pemerintah adalah menjadikan daerah yang dikembangkan itu sebagai the best gastronomy destination,” ujar Prof. Pitana.

Mantan Kadis Pariwisata Provinsi Bali itu menyebutkan bahwa, Bali ditargetkan menjadi the best gastronomy destination in Asia tahun 2018.

“Potensi Bali besar, sekarang ini saja sudah bisa mencapai the best wedding destination dan spa in Asia, untuk kuliner optimistik bisa. Kita harus bangga dengan kuliner lokal,” tambahnya.

Disampaikan bahwa SDM memang merupakan tantangan dalma pengembangan kuliner, selain itu adalah promosi, akses, dan hygiene.

Daftar kuliner pilihan Indonesia.

Tanya Jawab

Dalam tanya jawab, Adrian Vickers menyampaikan apresiasi terhadap buku yang diluncurkan karena mengedepankan tokoh lokal dalam pengembangan kuliner Ubud.

“Kalau bisa muncul penulis buku kuliner dan cheff yang berasal dari orang lokal,” ujar dosen University of Sydney itu.

Pitana menyampaikan permintaan akan chef sangat tinggi, dan sulit mencarinya. “Kalu kita mau promosi dan meminjam dari hotel, pasti sulit karena mereka harus bekerja dan tidak mendapat pengganti,” ujar Pitana.

Peluncuran buku dan kuliah umum berlangsung lancar, sukses, dan ditandai dengan banyak pertanyaan dalam diskusi. Ada juga pujian untuk buku yang diluncurkan. “Bagus bukunya. Masih langka yg menulis tentang kuliner,” ujar Prof. Sulistyawati.

Peserta dari Ubud, ingin mengetahui latar belakang pemilihan topik kuliner di Ubudm sedangkan yang lain menanyakan Prof. Pitana sejauh mana pemanfaatan diaspora Indonesia di berbagai negara dalam promosi pariwisata lewat kuliner di luar negeri (*).