Prodi S-2 Kajian Pariwisata Unud Gelar Pengabdian tentang Pariwisata Berbasis Masyarakat di Pantai Pandawa

img_3114

Suasana dialog pariwisata berbasis masyarakat di Desa Kutuh, Kuta Selatan (Foto Darma Putra)

Prodi Magister Kajian Pariwisata Pascasarjana Unud melaksanakan Program Pengabdian Masyarakat di Desa Kutuh, Kuta Selatan, Badung, Jumat, 30 September. Tema pengabdian ini adalah “Mendalami Pariwisata Berbasis Masyarakat Pantai Pandawa” diisi dengan observasi, peninjauan, dan diskusi antara mahasiswa dan masyarakat Desa Kutuh.

Acara dihadiri oleh mahasiswa dan dosen sekitar 55 orang, dan Bendesa Adat Kutuh dan pengurus. Dialog berlangsung di Wantilan Pura Gunung Payung, kawasan yang sedang dikembangkan sebagai “Gunung Payung Cultural Park”

Dalam pengantarnya, Kaprodi S-2 Kajian Pariwisata Unud, Prof. I Nyoman Darma Putra menyampaikan bahwa Desa Kutuh berhasil tampil sebagai desa dengan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat yang fenomenal.

“Pantai Pandawa adalah contohnya, dikembangkan dengan sistem bottom up, dari bawah,” ujar Darma Putra.

img_0863

Dari kiri: AAG Raka Dalem, IB Pujaastawa, Bendesa I Made Wena, dan Kaprodi I Nyoman Darma Putra.

Perkembangan Pantai Pandawa

Acara diskusi diisi dengan pemaparan oleh Bendesa Adat Dr. I Made Wena,M.Si. yang menjelaskan tentang usaha warga masyarakat Kutuh membuka Pantai Pandawa sebagai daya tarik wisata serta strategi pengembangannya. Materi kedua disampaikan Ir. AAG Raka Dalem,M.Sc. dengan topik “Aspek Lingkungan dalam Community Based Tourism”.

Bendesa Dr. Made Wena menjelaskan bahwa awalnya Desa Kutuh terisolasi, maka dengan kegigihan bersama membangun potensi wisata di desanya.

img_0860

“Kami membelah tebing pascajatuhnya Orde Baru, ternyata bisa menjadi pantai yang menarik dan favorti bagi wisatawan,” ujar Dr. Made Wena. Ketika zaman Orde Baru, keinginan masyarakat membelah tebing tidak bisa dilaksanakan karena berbagai hambatan.

Usaha masyarakat berhasil, buktinya kunjungan wisatawan ke Pantai Pandawa per tahun meningkat terus, tahun 2015 tercatat pengunjung mencapai 1,6 juta.

img_3109

Bendesa Dr. I Made Wena

Potensi Lainnya

Setelah Pantai Pandawa berkembang, Desa Kutuh secara kreatif mengembangkan potensi lainnya dan dikelola secara terintegrasi di bawah desa adat. Desa Kutuh membentuk apa yang disebut dengan BUMDA (badan usaha desa adat) yang mengelola sembilan usaha wisata di seluruh wilayah Desa Kutuh seperti Pantai Pandwa, Unit Usaha Wisata Gunung Payung, Unit Usaha Transportasi, dan  unit atraksi paragliding.

Popularitas Pantai Pandawa  dan unit usaha lainnya membuat pendapatan desa Kutuh meningkat. Tahun 2016 target untung adalah Rp 13 Milyar. “Optimistik tercapai karena hingg Agustus, sudah terkumpul laba Rp 8,4 Milyar,” ujar Dr. Made Wena.

Gunung Payung Cultural Park akan diresmikan Desember 2016, dengan aneka daya tarik yang komplit, mulai dari tari kecak dengan sinar laser dan latar belakang laut. “Indah saat full moon,” ujar Dr. Made Wena.

Di sekitar Gunung Payung juga ada hutan kera sehingga masyarakat yakin tempat ini akan tertarik ke Gunung Payung selain ke Pantai Pandawa yang jaraknya terpisah 3 km dan sedang dibangun jalan yang menghubungkan kedua pantai dan tiga pura.

Warung penduduk lokal yang menawarkan minuman termasuk kelapa muda.

Warung penduduk lokal yang menawarkan minuman termasuk kelapa muda.

Orientasi Pelestarian Alam

Ir AAG Raka Dalem menyapaikan agar pengembangan destinasi wisata diusahakan berorientasi pelestarian alam berserta isinya. Setelah memuji pengembangan wisata Desa Kutuh, Raka Dalem menyajikan berbagai alternatif peningkatan daya tarik, misalnya pelepasan tukik penyu karena ini menarik sebagai atraksi dan memiliki target pelestarian alam.

“Tapi, harus dilaksanakan dengan tepat,” ujar Raka Dalem yang banyak menekuni ekowisata dan filosofi Tri Hita Karana dalam pengembangan wisata.

Wisata lain yang bisa dikembangkan misalnya wisata kupu-kupu. “Namun, dalam pengembangan wisata itu, risikonya juga harus diperhatikan. Jangan sampai pengembangan wisatawan melihat kupu-kupu tapi wisatawanya digigit ular,”  ujar Raka Dalem.

Mahasiswa peserta dalam dialog pariwisata berbasis masyarakat.

Mahasiswa peserta dalam dialog pariwisata berbasis masyarakat.

Dalam acara diskusi pariwisata berbasis masyarakat di Desa Kutuh, mahasiswa dan masyarkat saling isi mengisi dalam hal pembangunan pariwisata berbasis masyarakat.

Acara diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan dari prodi S-2 Kajian Pariwisata Unud yang memberikan buku terbitan Program Studi berjudul Pariwisata Berbasis Masyarakat Model Bali yang satu bab-nya berisi uraian tentang kesuksesan Desa Kutuh dalam membangun pariwisata berbasis masyarakat yang ditulis oleh Dr. I Nyoman Tingkat dan I Nyoman Darma Putra (dp).