Prodi S-2 Kajian Pariwisata Unud Gelar Diskusi Kebudayaan dengan Ahli dari Universiti Kebangsaan Malaysia

Kaprodi S-2 Kajian Pariwisata Prof. Darma Putra (kanan) menyerahkan kenang-kenangan buku pariwisata kepada tamu dari Malaysia Prof. Dr. Ab Samad Kechot.

Tiga ahli budaya dan pariwisata University Kebangsaan Malaysia berkunjung ke Prodi Magister Kajian Pariwisata , Fakultas Pariwisata, Unud untuk berdiskusi tentang pembangunan kebudayaan dan pariwisata. Kedatangan mereka disambut oleh Kaprodi S-2 Kajian Pariwisata Prof. I Nyoman Darma Putra bersama staf dan mahasiswa, Senin, 21 Agustus 2017, di Gedung Pascasarjana Unud, Denpasar

Ketiga ahli dari Malaysia itu Prof. Dr. Ab Samad Kechot (Head Consultant UKM Pakarunding), Prof. Dr. Novel Lyndon (Consultant UKM Pakarunding), Dr Mohd Nor Shahizan Ali, dan dua direktur proyek adalah En Andi Muhammad Yusuf (Project Manager UKM Pakarunding) serta Yuriny Adnan (Director Advisory & Project Management UKM Pakarunding).

Dari pihak Prodi S-2 Kajian Pariwisata, selain Prof. Darma Putra, hadir juga beberapa mahasiswa, dan nara sumber dari dosen ISI Denpasar Dr. Kadek Suartaya sebagai budayawan dan akademisi dan Ketua Kadin Gianyar Wayan Gde Ari Arsania sebagai pengusaha pengrajin pendukung pariwisata budaya.

Suasana diskusi kelompok mendalam.

Kerja Sama Akademik

Kaprodi Prof. Darma Putra menyambut baik kehadiran ahli budaya dan pariwisata dari Malaysia sebagai bentuk sharing pengetahuan kebudayaan dan pariwisata yang diharapkan bisa berlanjut pada kerja sama akademik.

“Semoga pertemuan ini bisa dilanjutkan dalam kerja sama riset dan akademik ke depan,” harap Darma Putra.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Prof. Dr. Ab Samad Kechot dalam sambutannya mengawali diskusi. Dia berharap pada masa datang pihaknya dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) bisa mengundang dosen Unud untuk bertukar pikiran dengan dosen dan mahasiswa UKM.

Dr. Kadek Suartaya (tengah) menerima kenang-kenangan dari tim Malaysia.

“Nanti kami mengundang dan akan emmberikan kesempatan Bapak dosen Unud untuk memberikan kuliah kepada mahasiswa kami di Malaysia,” ujarnya.

Pembinaan Dasar Kebudayaan

Kedatangannya ke Indonesia, menurut Prof. Dr. Ab Samad Kechot, adalah untuk melakukan kajian perbandingan dalam pembinaan kebudayaan Malaysia. Mereka mendapat tugas dari Kementerian Pelancongan dan Kebudayaan untuk me-review dasar-dasar pembinaan kebudayaan Malaysia.

Di Indonesia, mereka mengunjungi tiga tempat yaitu Yogya, Solo, dan Bali. Selain itu, ada juga timmnya ayng pergi ke negara lain seperti Australia. Hasil kajian mereka akan dijadikan masukan untuk membuat dasar pembinaan kebudayaan Malaysia.

Tamu dari Malaysia berfoto di depan Gedung Pascasarjana Unud Denpasar. Dari kiri ke kanan: En Andi Muhammad Yusuf (Project Manager UKM Pakarunding), En Yuriny Adnan (Director Advisory & Project Management UKM Pakarunding), Prof Dr Ab Samad Kechot (Head Consultant UKM Pakarunding), Prof Dr Novel Lyndon (Consultant UKM Pakarunding), Dr Mohd Nor Shahizan Ali (Consultant).

Penguat Budaya Bali

Dalam diskusi itu, banyak digali mengenai hubungan kebudayaan Bali dengan modernisasi, globalilsasi dan pembangunan kepariwisaaan. Ditanyakan bagaimana kebudayaan Bali bisa bertahan dalam menghadapi kemajuan pariwisata.

Atas pertanyaan itu, Dr. Kadek Suartaya mengatakan bahwa masalah komersialisasi budaya sempat menjadi isu serius di Bali tahun 1970-an. Dari sana kemudian dicarikan solusi untuk membuat kategori seni wali, bebali, dan balih-balihan.

“Yang dipentaskan untuk turis dan untuk pariwisata itu adalah kategori terakhir yaitu balih-balihan, hiburan,” ujar dosen ISI alumnus doktor Kajian Budaya Unud itu.

Tari Rejang, tari sakral (Foto Darma Putra).

Mengenai bentuk seni yang dikomersialkan itu merupakan imitasi dari seni sakral. “Yang sakral tetap ada, yang dikomersialkan itu adalah yang imitasi, seperti barong imitasi,” ujar dalang sendratari yang sering pentas ke luar negeri.

Mengenai seni kerajinan, Gde Ari juga menyebutkan hal yang sama, bahwa patung-patung Bali dibuat berdasarkan inspirasi agama.

“Ada patung Garuda Wisnu, misalnya. Tapi, ini yang suvernir, bukan yang disakralkan. Keduanya berbeda,” kata Ketua Kadin Gianyar itu.

Menurut Ari, kesenian Bali memang mendapat inspirasi dari agama Hindu oleh karena itu, dia menjadi khas, dan menarik pembeli, sebagai suvenir dari Bali.

“Seperti halnya tarian, suvenir patung atau material culture lainnya dari Bali juga ada yang sakral dan yang profan, yang terakhir inilah yang menjadi bagian dari suvernir turistik,” ujarnya.

Diskusi berjalan lancar mengalir cepat seperti kekurangan waktu. Pada kesematan itu juga dibahas mengenai pengaruh teknologi, globalisasi, kebijakan pemerintah terhadap seni budaya lokal. Juga dibahas mengenai minat generasi muda menekuni kesenian daerah baik untuk seni pertunjukan maupun seni kerajinan.

“Jika ada yang perlu diketahui lagi, silakan hubungi kami,” ujar Darma Putra yang memandu diskusi.

Darma juga menyampaikan bahwa dalam diskusi itu, peserta dari Unud juga mendapatkan beberapa pemahaman mengenai tanggung jawa pemerintah Malaysia dalam membangun kebudayaan yang secara komparatif bisa disaring untuk diteraokan di Indonesia.

“Pemerintah Indonesia barusan mengesahkan undang-undang Pemajuan Kebudayaan. Diskusi tadi memberikan isnpirasi untuk bagaimana mengimplementasikan secara baik agar kebudayaan kita juga berkembang dalam menghadapi berbagai tantangan.

Tari Barong, kategori hiburan (foto Darma Putra)

Kenang-kenangan

Usai diskusi, Kaprodi Prof. Darma Putra menyerahkan kenang-kenangan buku kepada tamu dari Malaysia. Kedua buku yang diserahkan adalah terbitan Prodi S-2 Kajian Pariwisata, yaitu buku Wisata Kuliner Atribut Baru Destinasi Ubud (2016) tulisan Diah Sastri Pitanatri dan I Nyoman Darma Putra dan buku Recent Developments in Bali Tourism: Culture, Heritage, and Landscape in an Open Fortress (2015) suntingan I Nyoman Darma Putra dan Siobhan Campbell.

Sebagai gantian, tamu dari Malaysia memberikan kenang-kenangan kepada para narasumber dalam FGD.

Acara diakhiri dengan foto bersama. Mereka berjanji untuk menjaga dan meneruskan jaringan akademik untuk kerja sama yang lebih produktif pada masa depan (dp)