Prodi Magister Pariwisata Unud Gelar Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Kerta, Payangan, Gianyar

Mahasiswa yang ikut melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Kerta, Payangan, Gianyar, 9 September 2017 (Foto-foto Darma Putra).

Prodi Magister Pariwisata, Fakultas Pariwisata, Unud melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, 9 September 2017. Pengabdian ini mengambil tema “Ekowisata Kebun Raya”.

Kegiatan pengabdian yang dipimpin langsung Kaprodi Prof. I Nyoman Darm Putra, diikuti 90 orang terdiri dari dosen, mahasiswa baru dan lama, serta alumni termasuk ketuanya Wayan Kartimin,M.Par.

Desa Kerta memiliki banyak potensi namun belum dikembangkan secara optimal. Potensi utama yang sudah mulai berkembang adalah Sekar Bumi Tropical Farm dan Kebun Raya Gianyar yang dikelola Pemkab Gianyar dengan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).  Kebun Raya baru saja diresmikan dalam acara soft opening bulan Juli 2017, sekaligus menjadi ikon baru Desa Kerta.

Persiapan perjalanan dari kampus Unud Denpasar.

Diawali Penjajakan

Kegiatan pengabdian sudah diawali dengan peninjauan ke lapangan sebulan sebelumnya, yaitu bulan Agustus 2017, dilaksanakan oleh Ketua Panitia Pengabdian Dr. I Nyoman Sudiarta dan I Nyoman Kariana,S.Sos., staf Administrasi. Mereka bertemu dan berdiskusi dengan Kepada Desa Kerta, Drs. I Made Gunawan, M.Par. Pada saat itu, dibahas program dan acara pada hari-H pengabdian.

Pemilihan Desa Kerta untuk kegiatan pengabdian antara lain karena melihat potensi Desa Kerta yang besar dan belum dikembangkan secara optimal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan ganda, yaitu (1) mempelajari dan mendalami potensi wisata Desa Kerta, dan (2) melihat kekuatan dan kelemahan, dan (3) memberikans saran-saran yang mungkin bisa ditempuh atau ayng disumbangkan Prodi kepada Desa Kerta. Acara pengabdian diisi dengan beberapa diskusi dan peninjauan lapangan.

Diskusi di kantor desa.

Potensi Desa

Diskusi pertama dilaksanakan di Kantor Kepala Desa Kerta Payangan, tempat rombongan diterima pertama oleh Kades Desa Kerta Drs. I Made Gunawan, SH, M.Par. Acara yang dipandu oleh Wayan Kartimin diisi dengan perkenalan dan Kaprodi Prof. Darma Putra dilanjutkan dengan paparan oleh Kades Made Gunawan.

Dalam penerimaan dan diskusi, Dari hasil diskusi kami membahas potensi wisata Desa Kerta seperti potensi pertanian (kopi, kelapa, cengkeh, tanaman gemitir) yang menawarkan pemandangan yang indah serta udara yang bersih jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Jeruk salah satu potensi agrowisata Desa Kerta.

Dari identifikasi potensi yang ada, diketahui bahwa potensi di Desa Kerta adalah pertanian. Akan tetapi, jika hanya sektor agraris yang dikembangkan, maka sektor lainnya bisa tertinggal. Maka dari selain sektor agraris, pengelola juga mengembangkan potensi alam, budaya dan aktivitas yang ada sebagai daya tarik wisata.

Tanah wilayahnya yang subur dan udara yang sejuk membuat berbagai macam tanaman seperti jagung, ketela, kol, jeruk, berbagai jenis bunga, dan pohon-pohon endemik dapat tumbuh subur.

“Kami memerlukan bantuan dari pihak kampus untuk membantu kami mempercepat pengembangan desa kami sebagai destinasi wisata,” ujar Gunawan, alumni Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud.

Merangkai bunga di taman bunga sebagai salah satu daya tarik wisata di Sekar Bumi, Desa Kerta.

Diskusi di Sekar Bumi

Di Desa Kerta terdapat Sekar Bumi Tropical Farm and Florist, dengan dominan tanaman bunga heliconia. Diskusi kedua dilaksanakan di tempat ini antara mahasiswa dan pengelola. Di objek wisata ini terdapat tempat berkemah, adventure tour, ruang meeting untuk kegiatan outbound, cycling, merangkai bunga, dan sebagainya.

Berlokasi di kawasan yang sejuk, Bumi Sekar yang pernah dikunjungi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu merupakan termpat rekreasi get away yang ideal. Selain melakukan kegiatan adventure, wisatawan juga mempunyai pilihan untuk merangkai bunga, florist activities. Sekar Bumi memiliki staf yang bisa memberikan pelajaran merangkai bunga. Rangkaian bunga juga dibaut untuk memenuhi permintaan hotel dan restoran di Ubud dan bahkan di Nusa Dua.

Objek Sekar Bumi dikelola oleh swasta penduduk setempat, didukung oleh petani setempat, yang ikut menanam bunga-bungan termasuk heliconia. Hal ini tampak dalam tepian jalan menuju ke Bumi Sekar banyak ditanam bunga. Bumi Sekar bisa menjadi magnet penting untuk menarik wisatawan ke Desa Kerta. Dari kunjungan ke Bumi Sekar, wisatawan tertarik melihat daya tarik yang lain.

Diskusi di Sekar Bumi

Kebun Raya

Kebun Raya ini memiliki taman tematik, dengan tema “Taru Pramana dan Usada, Banten Bali Pulina (Tanaman upakara dan tanaman obat, yang digunakan dari zaman Bali kuno)”. Kebun raya ini memiliki luas wilayah sekitar 9,7163 ha dan ketinggian tempat 650-710 mdpl. Sebagian besar dari luas wilayah tersebut merupakan hutan “pingit” atau hutan yang dikeramatkan sehingga tidak akan ada pengurangan vegetasi didalamnya.

Diskusi terakhir dilaksanakan di Kebun Raya Gianyar, dengan menampilkan pengelola dan dosen Unud ahli ekowisata Ir. A..A. Gde Raka Dalem, M.Sc. (Hons). Dalam diskusi ini terlontar banyak pertanyaan dan saran pengelolaan Kebun Raya.

Diskusi Eko Wisata Kebun raya dengan narasumber Anak Agung Raka Dalem.

Kades Made Gunawan menjelaskan bahwa pembentukan Kebun Raya Gianyar ada tiga yaitu (1) menjaga kelesatrian lingkungan yang bersinergi dengan nilai-nilai agama dan adat istiadat; (2) melakukan konservasi tumbuhan asli Gianyar terutama tumbuhan upakara dan usada (bahan obat-obatan); dan (3) pelestarian tanaman yang memiliki nilai sejarah dan ilmiah di area Hutan Pingit (suci).

Dalam diskusi muncul banyak gagasan termasuk saran untuk kemungkinan mengembangkan tanaman herbal dan masakan sebagai tematik tambahan Kebun Raya. Tanaman itu bisa dijadikan bahan untuk memasak dan kelak bisa ditawarkan sebagai paket wisata cooking class.

Peserta diskusi.

Hal ini bisa saja dilaksanakan karena tematik tidak mesti satu asal dapat mendukung tujuan pendirian Kebun Raya.

Menanggapi tentang masih minimnya infrastrukur di desa untuk pengembangan wisata, Raka Dalem menyampaikan bahwa untuk ekowisata desa, dengan peminat khusus, tidak apa kalau jalan dan jalur ekowisata minim.

“Bahkan yang minim itu malah yang alami, asal bisa dilalui. Kalau tracking dibuat dengan beton, nilai pengalaman ekowisata yang dirasakan wisatawan bisa berkurang,” ujarnya Raka Dalem yang sedang menempuh gelar doktor Pariwisata di Unud.

Pohon cinta

“Pohon Cinta”

Mahasiswa berkesempatan melakukan tracking ringkas di Kebun Raya Gianyar, dengan ajrak sekitar 1 km, diantar pemandu lokal. Di Kebun Raya ini pernah dilepas sejumlah burung dan rusa oleh Presiden Megawati beberapa tahun lalu. Binatang itu masih berkeliaran di dalam.

Salah satu hal populer menarik dari Kebun Raya adalah pohon besar yang dililit akar tunjang sampai menembus batang, seperti orang bercinta. Di bawahnya terpasang tanda ‘pohon cinta’.

Kaprodi I Nyoman Darma Putra menyerahkan tong sampah secara simbolik diterima oleh Kadesa M Made Gunawan.

Rencana Kerja Sama

Walau kegiatan poengabdian sudah selesai secara formal, ke depan Kades Desa Kerta berharap dapat dijalin kerja sama dengan Unud untuk mempercepat pengembangan desanya menjadi desa wisata.

“Kami berharap agar bisa disusun rencana kerja sama, agar masyarakat kami lebih siap untuk mengembangkan potensi alam di sini,” ujar Made Gunawan.

Kaprodi Prof. I Nyoman Darma Putra juga akan menindaklanjuti keinginan kerja sama ini. Kebetulan sudah ada dosen Fakultas Pariwisata yang sudah intensif melakukan penelitian di Desa Kerta yang sudah siap untuk menjadi koordinator untuk menangani kerja sama dengan Desa Kerta (dp)