Prodi Magister Kajian Pariwisata Tamatkan Sembilan Magister, Lima dari Timor Leste

Sembilan lulusan Magister Kajian PAriwisata UNud berfoto bersama Kaprodi Prof I Nyoman Darma Putra (tengah) usai acara pelepasan calon wosudawan di Pascasarjana Unud, Kamis, 17 November 2016.

Sembilan lulusan Magister Kajian Pariwisata Unud berfoto bersama Kaprodi Prof I Nyoman Darma Putra (tengah) usai acara pelepasan calon wisudawan di Pascasarjana Unud, Kamis, 17 November 2016.

Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud pada periode wisuda Desember 2016 menamatkan sembilan mahasiswa bergelar master. Mereka ikut dilepas dalam acara pelepasan calon wisudawan di Pascasarjana Unud, Kamis, 17 November 2016.

Dalam acara itu dilepas toal 317 calon wisudawan terdiri dari 293 master dan 24 doktor. Mereka akan mengikuti acara wisuda di tingkat universitas, 3-4 Desember 2016, di kampus Bukit Jimbaran, bersama sarjana S-1, master, dan doktor lainnya.

Kesembilan lulusan Prodi Magister Kajian Pariwisata itu adalah lima orang dari Timor Leste yaitu Isaura Dos Santos Correia, Lindalva Magno De Araujo, Elsa Ximenes Lopes, Zeferino Martins, dan Barbara Jeronimo Doutel Sarmento.

Sementara empat lainnya dari Indonesia yaitu Ni Made Riana Putri Satrigraha, Putu Eka Wirawan, Ika Pujiningrum Palimbunga, dan I Gusti Ngurah Arya Astana.

Tidak bisa Mengejar

Usai mengikuti acara pelepasan calon wisudawan., Kaprodi Magister Kajian Pariwisata Unud Prof. I Nyoman Darma Putra menyampaikan bahwa ada beberapa mahasiswa yang sudah tamat tetapi tidak bisa mengejar waktu wisuda periode ini karena waktunya mepet.

Dari yang sudah lulus itu, ada dua mahasiswa menempuh program double degree Indonesia Perancis (DDIP) yaitu Devi Rosalina dan Asti Asparini. “Mereka akan mengikuti wisuda periode berikutnya,” ujar Darma Putra.

Selain melaksanakan program DDIP, Prodi Kajian Pariwisata Unud mulai semester ganjil September 2016 ini membuka kelas internasional, menerima 5 mahasiswa dari University of Applied Sciences Jerman, dan mengirim 5 mahasiswa ke Jerman, untuk selama satu semester.

“Untuk program joint curriculum ini, mahasiswa kita yang ke Jerman mendapat subsidi dari Direktur Belmawa Ristek Dikti,” ujar Darma Putra.

Mahasiswa S-2 Kajian Pariwisata Unud berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari Aceh dan Papua. Beberapa mahasiswa dari luar, ketika kuliah di Bali berkesempatan mencari pekerjaan sambilan di dunia pariwisata.

Kesan-kesan

I Gusti Ngurah Arya Astana menyampaikan bahwa dia sangat berkesan menggali ilmu di S2 pariwisata di mana banyak pengalaman baik secara keilmuan maupun pengalaman pratek dalam mengenal lebih dalam tentang pariwisata.

“Kuliah di sini  membuka wawasan saya tentang Dunia pariwisata,” ujar pegawai negeri di Dinas pendapatan Provinsi Bali.

Ngurah Arya menyampaikan terima kasih kepada Pemda Provinsi Bali yang memberikan beasiswa secara full untuk mengenyam pendidikan S2 ini.

“Setelah tamat ini saya justru bersemangat untuk bisa bertugas di Dinas Pariwisata Provinsi Bali,” ujarnya.

Dari Papua

Lain lagi kesan Ika Pujiningrum Palimbunga, alumnus dari Papua. Ika menyampaikan bahwa dia bangga sekaligus merasa beruntung dapat menempuh pendidikan dan mendapatkan ilmu pariwisata selama kuliah di Magister Kajian Pariwisata. 

“Ini merupakan sebuah ‘tiket emas’ untuk mengembangkan pariwisata di daerah asal saya, Papua,” kata Ika.

Selain itu, kata Ika, ilmu yang dia terima tentunya berguna untuk kedepannya menjadi dosen Pariwisata, di Fakultas Pariwisata, Universitas Papua, di Waisai, Raja Ampat, Papua Barat.

Berfikiran Dewasa

Menurut Ni Made Riana Putri Satrigraha, pada awalnya agak sulit memang menjabarkan kesan apa yang dia peroleh selama kuliah ini. Sebab tidak semua kesan yang saya peroleh dapat diungkapkan kata per kata, kalimat per kalimat.

“Tapi yang pasti saat pertama saya masuk kuliah, saya merasa ada hal yang berbeda dari suasana kuliah S1 yg saya tempuh di fakultas Hukum Univ Udayana. Mulai dari suasana kampus, teman-teman bahkan para dosen, yang berasal dari berbagai disiplin ilmu, yang membuat saya bisa belajar banyak hal,” kata Riana yang sehari-hari bekerja di di Hotel Cattleya Suite, daerah Petitenget.

Bagi Riana, di kampus ini juga dia merasa belajar bagaimana menjadi seorang mahasiswi yang lebih berpikiran dewasa dalam segala hal dan dapat berpikir dari dua arah. “Saya memang berharap di kampus inilah saya menemukan jati diri saya yang sebenarnya,” katanya.

Riana yang bekerja di hotel sebagai Human Resources Manager, sangat merasa suatu keharusan baginya untuk memperdalam pengetahuan dan kompetensi saya di bidang pariwisata,” ujarnya (*).