Peserta Kuliah ‘Cultural Tourism in Southeast Asia’ Kunjungi Kawasan Nusa Dua

Peserta kuliah collaborative course “Cultural Tourism in Southeast Asia” melakukan kunjungan ke Indonesia Tourism Development Coorporation (ITDC) Nusa Dua, Kamis, 13 Juli 2017. Mahasiswa yang terdiri dari 22 orang itu diterima oleh Direktur Pengembangan Bisnis ITDC Edwin Darmasetiawan di ruang pertemuan ITDC.

Dalam kunjungan itu, mahasiswa peserta collaborative course didampingi dua dosen yaitu Dr. Paul Green dari University of Melbourne dan Prof. I Nyoman Darma Putra. Kuliah kolaborasi ini merupakan kerja sama antara Unud dengan University of Melbourne, Australia, berlangsung 10-21 Juli 2017.

Dalam kunjungan itu, mahasiswa menerima penjelasan mengenai program ITDC mulai dari pembangunan resort Nusa Dua sampai dengan Resort Mandalika di Lombok. Setelah diskusi, mahasiswa mengunjungi sistem pengolahan air limbah ITDC dan kawasan publik tempat menyaksikan water blow.

Tiba di Kantor ITDC.

Tugas Membangun Mandalika

Menurut Edwin Darmasetiawan, setelah berhasil mengembangan kawasan wisata Nusa Dua dengan sistem resort terintegrasi, ITDC mendapat tugas dari pemerintah untuk membangun resort Mandalika di Lombok dan beberapa lagi di tempat lain.

“Kami menerapkan pengalaman membangun Nusa Dua di Mandalika untuk membangun kawasan wisata terintegrasi,” ujar Edwin Darmasetiawan yang juga mahasiswa Program Doktor Pariwisata Universitas Udayana.

Suasana diskusi di ITDC.

Menurutnya, sistemnya kurang lebih sama, namun karakter resort Mandalika disesuaikan dengan kondisi lapangan dengan penanda yang khas. Resort Mandalika akan ditandai dengan ikon populer yang berupa sirkuit motor GP. Blok atau lot tanah disediakan ITDC untuk disewa oleh investor.

“Kalau di Nusa Dua masa sewanya terbuka sampai 50 tahun, di Mandalika sampai 80 tahun,” ujarnya.

Lokasi Nusa Dua dekat dengan bandar udara, demikian juga halnya dengn Mandalika.

Bagan rencana kawasan Mandalika.

“Jarak tempuh sekitar 30 menit,” ujar Edwin. Keindahan pantai dan alam serta budaya di kedua tempat merupakan pendukung pembangunan kawasan sehingga menarik bagi investor.

Nusa Dua menetapkan bahwa pembangunan hotel hanya dibenarkan di atas 35 persen dari total lahan, sisanya adalah untuk taman atau kawasan hijau.

“Siapa pun masuk ke kawasan tidak akan melihat bangunan, karena ditutupi oleh kehijauan,” ujar Edwin. Bangunan juga tidak boleh melebihi ketinggian pohon kelapa (15 meter) sesuai dengan regulasi ketinggian bangunan Pemprov Bali.

Rencana Resort Mandalika di Lombok

Sudah Dikontrak

Sejak dibangun, proses pengembangan Mandalika menghadapi banyak tantangan namun sampai sekarang berjalan lancar terbukti dari semua lot tanah untuk pembangunan sudah disewa investor.

Menjawab pertanyaan mahasiswa, Edwin menjelaskan bahwa investor ada yang berasal dari Amerika, Perancis, USA, Korea, Cina, dan tentu saja Indonesia.

Direktur Pengembangan Bisnis ITDC, Edwin Darmasetiawan (kiri) dan Dr. Pual Green saat diskusi.,

“Beberapa lot sudah dibangun hotel seperti Club Med dan Pulman, yang lainnya dalam proses,” ujar Edwin. Keduanya ini memang milik ITDC yang dihadirkan sebagai pionir, untuk memotivasi investor lain segera membangun.

Sampai tahun 2019, di kawasan Mandalika sudah akan ada sekitar 1500 kamar.

“Kalau satu kamar memerlukan 2 karyawan, berarti akan terserap tenaga kerja 3000 orang untuk akomodasi saja, yang lain tentu banyak lagi,” ujar Edwin.

Water blow di Nusa Dua.

Pengolahan Limbah Hotel

Usai diskusi, dua staff ITDC Regina dan Hendra mengajak mahasiswa untuk melihat lagoon tempat pengolahan air limbah hotel. Limbah hotel di hotel-hotel kawasan Nusa Dua dialirkan denga pipa ke lagoon dan di sana diolah menjadi air bersih untuk dipakai menyiram tanaman.

Penjelasan mengenai pengolahan air limbah.

Dengan sistem ini, limbah air tidak dibuang percuma, tidak menjadi penyebab polusi, tetapi diolah untuk menyiram hotel sehingga kebun di areal kawasan dan hotel sangat hijau.

Lagoon pengolahan air limbah.

Dari lagoon, mahasiswa diajak melihat kawasan public amenities khususnya tempat publik bisa piknik antara lain dengan menyaksikan water blow, muncratan air laut ke atas setelah gelombang memukul tebing. Indah sekali.

Tempat ini menunjukkan bahwa kawasan wisata Nusa Dua yang dikenal sebagai resort tertutup (enclave) sesungguhnya terbuka untuk masyarakat (dp).