Perjalanan Kedonganan – Banyuwangi: Dari Pelabuhan Ikan Menuju Pelabuhan Wisatawan

Catatan Diah Sastri Pitanatri, Alumni Angkatan 2014

The journey is the destination ~ Dan Eldon

Dermaga Kedongnan, siap-siap naik kapal wisata ke Banyuwangi. Penulis di tengah. (Foto Santi Diwyarthi)

Setiap mendengar kata “Kedonganan” maka yang pertama kali muncul di benak saya adalah pasar ikan dan café seafood pinggir pantai deat Jimbaran, Bali.

Tidak pernah terpatri dalam imaji jika ternyata Kedonganan juga dapat difungsikan sebagai pelabuhan kapal wisata. Pelabuhannya pun baru pertama kali saya dengar, yakni “Dermaga Watu Nunggul” yang diresmikan oleh Bupati Badung pada bulan Januari 2014 lalu.

Selama tiga tahun, pelabuhan ini difungsikan sebagai tempat bongkar muat ikan sehingga mempermudah akses nelayan untuk kembali ke daratan. Kini pelabuhan ini memiliki fungsi baru yakni sebagai fasilitas pendukung perjalanan wisatawan dari Bali ke Banyuwangi, Jawa Timur.

Prasasti peresmian dermaga.

Nah, pada Rabu, 28 Desember 2017 lalu, saya bersama rekan-rekan dosen dari Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali (STPNB), awak media dan beberapa perwakilan travel agent berkesempatan untuk mengikuti pelayaran perdana Banyuwangi-Bali via Kedonganan.

Karena merupakan pelayaran perdana, pengalaman yang saya alami pun cukup “nano-nano” yang tidak mungkin saya terlupakan.

Kapal wisata.

Dua-setengah-jam saja

Sebagai orang yang sangat jarang naik kapal laut, pelayaran perdana Banyuwangi Bali via Kedonganan ditempuh dalam waktu yang relatif singkat. Jika dibandingkan dengan perjalanan melalui Gilimanuk yang rentan macet, tentu ini merupakan alternatif yang layak untuk dicoba.

Bagaimana tidak, dengan menggunakan kapal ini, kami hanya menempuh sekitar 2 jam perjalanan dari Dermaga Watu Nunggul menuju Dermaga Pantai Boom Banyuwangi. Jika lewat jalur darat, rute itu biasanya ditempuh sampai sekitar empat-lima jam jalur darat plus penyeberangan dengan kapal ferry yang sering harus antre untuk menyeberang.

Peserta tur.

Kapal yang dipergunakan bernama Marina Srikandi fast boat dengan kapasitas sekitar 150 orang. Penumpang dapat memilih apakah ingin duduk manis di dek bawah dengan full AC dan flat screen TV atau duduk di dek atas menikmati semilir angin sambil diiringi lagu yang kata awak kapalnya bisa di-request atau istilah kerennya palugada (apa lu mau gue ada).

Pilihan saya tentu opsi kedua, meskipun angginnya “semriwing” namun view dan musiknya lebih asik (yang penting ingat minum tolak angin saja, pasti aman) :D.

Kue Kotak

Selama pelayaran, kami juga disuguhi snack box (kue kotak) yang belakangan saya ketahui merupakan SOP dari setiap pelayaran. Melirik kanan-kiri saya perhatikan kapal ini cukup representatif jika ditinjau dari ketersediaan life vest yang banyak, obat-obatan, bahkan kresek hitam jika ada yang mabuk perjalanan. Toilet juga ada dua dan sukup bersih untuk ukuran kapal ferry.

Sampai di dermaga Boom, kami disambut langsung oleh Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko dan Ketua Bidang Promosi dan Pemasaran Luar Negeri Asosiasi Tour and Travel Indonesia (ASITA), Bapak Edi Sunyoto.

Edi Sunyoto (kanan) dari ASITA

Dalam pemaparannya, disampaikan bahwa rute ini menjadi “nafas baru” bagi pengembangan pariwisata Banyuwangi. Besar harapan rute ini ramai oleh pengunjung dengan pelayaran rutin setiap hari.

Jumpa pers Bupati Banyuwangi.

Jelajah Banyuwangi

Saat di Banyuwangi, kami berkesempatan untuk mengunjungi beberapa objek pantai yang sedang “hits” dikalangan traveller. Salah satu yang kami kunjungi adalah Pantai Bunder Bangsring.

Dari salah seorang penjaga, disampaikan bahwa pantai ini dikelola oleh kelompok nelayan desa setempat yang bernama Bangsring Underwater atau disingkat Bunder. Singkatan dari nama kelompok tersebut yang membuat pantai ini sering disebut Pantai Bunder (Pantai Bangsring Underwater).

Penangkaran hiu.

Salah satu keunikan dari pantai ini adalah penangkaran bayi ikan hiu di mana wisatawan diperbolehkan untuk berenang bersama hiu dengan catatan tubuh kita tidak ada yang luka atau sedang datang bulan.

Hiu-hiu yang berada di penakaran rumah apung berasal dari Hiu yang terluka karena tersangkut jarring nelayan yang sedang mencari ikan. Hiu yang terluka tersebut dibawa dan dipelihara disini dan jika sudah sembuh akan dilepaskan kembali.

Untuk menuju penangkaran hiu, kami harus menaiki boat berkapasitas 12 orang dengan jarak tempuh sekitar 5 menit. Jika bukan kegiatan fam-trip, maka biaya untuk sekali naik Rp10.000 per orang per satu kali jalan.

Rumah apung dan penangkaran hiu yang sudah akan dilepas.

Di sepanjang pantai juga telah banyak terdapat aktivitas-aktivitas warga untuk mendukung penyelenggaraan pariwisata seperti penyewaan perahu, snorkeling dan beberapa aktivitas water sport.

Saran Pengembangan

Tidak dapat dipungkiri, kemudahan aksesabilitas ini layak untuk dimanfaatkan untuk pengembangan destinasi pariwisata Banyuwangi sebagai salah satu “Bali Baru” dan destinasi prioritas Kementerian Pariwisata.

Konsep short getaway seperti Pulau Padar-Rumah Apung-Pulau Menjangan bisa dijadikan alternatif paket yang dapat ditawarkan kepada wisatawan.

Penyambutan di Banguwangi.

Dengan akses yang cepat semakin membuka peluang besarnya limpahan wisatawan menuju Banyuwangi. Di satu sisi juga menguntungkan Bali (terutama Badung) sehingga konsentrasi dan kepadatan dapat dilerai dengan baik. Apalagi posisi kedonganan yang dekat dengan daerah pariwisata berimplikasi untuk dapat mengurai kepadatan di daerah tersebut.

Dengan Bupati Banyuwangi.

Karena lama menanti clearance surat di Banyuwangi, rute pelayaran bali yang seharusnya menuju Pulau Menjangan tidak dapat terlaksana karena hari sudah menjelang senja. Pelayaran kembali dalam senja gelap tidak memungkinan kami menatap keindahan samudera seperti saat berlayar siang hari.

Infrastruktur

Sebagai catatan, diperlukan perbaikan yang terstruktur, masif dan meyeluruh, utamanya dari sisi kebersihan pelabuhan dan pantai Kedonganan.

Memang di pengujung tahun seperti saat ini banyak sampah kiriman yang berasal dari Pulau Jawa, namun wisatawan tidak akan peduli dari mana asalnya sampah.

Mereka hanya akan melihat pantai kita kurang bersih. Dulu, kondisi sampah menumpuk di pantai pernah menjadi olok-olok pemberitaan media internasional.

Akhir kata, potensi pariwisata yang terbentuk dari melalui konektivitas Kedonganan-Banyuwangi, layak untuk dikembangkan lebih lanjut. Jika dikelola dengan baik, maka perjalanan ini akan menjadi pengalaman yang menarik bagi wisatawan.

Saya sendiri merasakannya saat perjalanan pulang kembali ke Bali, menyaksikan pertunjukan langsung dari alam, dengan hembusan angin laut dan kerlap-kerlip lampu di kejauhan menjadi penutup sempurna dari kisah pelayaran wisata Beyond Bali ke Banyuwangi.***