Perjalanan ke Desa Adat Waerebo Penuh Petualangan yang Memukau

Catatan Perjalanan Yuliska Labawo, MKP 2016

Berfoto bersama ketua adat sebelum kembali pulang.

Setelah berhasil meng-explored Pulau Komodo, Pulau Padar dan sekitarnya selama dua hari, 14—16 Maret 2017 (Klick Pulau Padar), kami dari mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata, Fakultas Pariwisata Unud, meneruskan perjalanan ke Desa Adat Waerebo, Manggarai, Flores. Perjalanan ke Waerebo yang melampaui medan petualangan ini sungguh memukau.

Berikut adalah catatan perjalanan kami yang mengagumkan ke desa di atas bukit yang indah, unik, yang mendapatkan UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation 2012.

Dari 19 mahasiswa teman seperjalanan, sebanyak 13 orang yang melanjutkan ke Waerebo. Rombongan ke Waerebo, terbagi ke dalam dua kelompok. Lima orang telah mendahului berangkat ke Ruteng.

Kami yang sisanya delapan orang, termasuk Pak Syamsul yang adalah dosen kami sekaligus  ketua rombongan, memilih menginap semalam di Labuan bajo untuk memulihkan tenaga. Kami berangkat 18 Maret.

Panorama Desa Adat Waerebo. Unik dan indah.

Menyewa Mobil

Kami berangkat menyewa dua mobil, berjalan beriringan. Mobil yang kami sewa adalah tipe Suzuki Ertiga dan Daihatsu Xenia milik Pak Robert. Robert sudah biasa memandu tamu yang dari Labuan Bajo menuju ke Desa Waerebo.

Perjalanan di mulai pada pukul 07:30, jalanan menuju ke Warebo berkelok-kelok dan banyak ruas yang rusak. Menariknya, dalam perjalanan, kami beberapa kali bertemu dengan mobil yang mengangkut penumpang. Mobil itu adalah jenis truck yang dimodifikasi khusus untuk mengangkut penumpang. Kebanyakan penumpangnya adalah pelajar. Di dalam truk itu ada kursi. Mungkin ini adalah alat angkut lokal mereka dari satu desa ke desa yang lain.

Pukul 12. 15 beristirhat di desa Beak Onde, untuk makan siang. Makanan siang kami sudah disiapkan dalam Box Lunch, kami bukan berhenti makan di warung tapi di tepi sungai menikmati makan siang yang terasa nikmat di bawah alam yang udaranya masih bersih, sangat bebas polusi.

Pukul 14:15  kami sudah tiba di Desa Denge. Di sini kami berhenti untuk memulai lagi perjalanan kami ke Desa Waerebo yang tidak memiliki alat transportasi selain jalan kaki. Kami sudah disambut ojek yang akan membawa kami ke titik di mana akan dimulai pendakian. biaya sewa ojek adalah Rp. 30.000.  Kami menyewa tongkat yang disewakan seharga Rp. 10.000 per orang. Dahulu sebelum ada ojek, para tamu harus menempuh perjalanan sekitar 10 kilo berjalan kaki.

Trekking menuju desa.

Jalur Trekking, Jasa Porter

Setelah semua terkumpul kami memulai perjalanan pada pukul 14:30, jalur yang dilewati berbukit dan hutan. Selama trekking, sebagian dari kami menggunakan jasa porter yang akan membawa barang-barang kami, jasa porter ini sebesar Rp. 200.000,- bisa untuk empat orang. Sayangnya harga tiba-tiba saja berubah ketika pembayaran. Mereka minta tambahan biaya karena banyaknya  tas yang dibawa.

Selama trekking, kami terkadang berhenti sejenak karena ada pemandangan indah seperti air terjun mini dalam hutan. Bahkan, di pemberhentian  kami juga bertemu turis asing yang sama-sama akan menginap di Desa Adat Waerebo yang kami tuju. Di Pos 2, kami tiba-tiba bisa mendapatkan signal telepon sehingga bisa mengirim dan menerima pesan dan meng-up date status media sosial.

Pukul 17.15  mendekati desa Warebo, kami akan berhenti di Pos 3 dan memasuki upacara Waelu. Porter yang bersama dengan kami membunyikan kentongan yang ada di rumah kasih Ibu sebagai tanda atau pemberitahuan ada tamu yang akan memasuki kampung.

Indah semua di sekeliling.

Terlihat Rumah

Dari kejauhan mata memandang rumah adat desa Waerebo sudah terlihat. Sesaat terlupakan lelahnya perjalanan yang ditempuh kurang lebih 5 kilo. Di antara teman kami sampai ada yang digigit lintah. Sungguh perjalanan yang sangat mengesankan.

Walau rumah sudah terlihat dari kejauhan, kami belum diperkenankan ambil foto terlebih dahulu sebelum diterima secara adat.

Setelah selesai membunyikan kentongan, kami langsung diantar menuju rumah utama atau disebut rumah Gendang.

Kami diterima oleh kepala rumah adat Mbaru Niang  Bapak Alex. Pak Alex menyambut kami dengan senang dan doa semoga kami dilindungi selama berada di desa adat Waerebo dan kami telah dianggap sebagai warga Waerebo yang dapat melakukan aktivitas apa saja termasuk foto-foto.

Berhenti untuk makan siang di perjalanan.

Dialog dengan Kepala Rumah Adat

Kami pun sempat bertanya jawab dengan ketua adat, mengenai warisan budaya desa Warebo. Pak Alex menjelaskan bahwa budaya menikah khususnya untuk anak perempuan harus keluar dari Waerebo dan untuk laki-laki di Waerebo harus menikah dengan mengambil orang dari luar desa adat waerebo karena tidak diperkenankan menikah sedarah atau yang masih ada hubungan keluarga

Waerebo adalah nama yang diberikan lewat mimpi dari leluhur. Nama tempat ini tidak memiliki makna khusus. Lewat mimpi dipesankan bahwa kampungmu nanti akan diberi nama waerebo. Pernah sekali dari pemerintah mau melepas nama kampung ini, tetapi mereka mempertahankan nama itu sehingga orang yang menentang itu seketika meninggal. Mayoritas mereka beragama Kristen katolik.

Menururt Pak Alex bentuk bangunan berbentuk kerucut artinya satu kesatuan. Dengan membuat kerucut, tidak dibutuhkan dinding atau pun papan dan mengurangi curah hujan sehingga air langsung turun. Dengan pengasapan dalam rumah, membuat atap lebih bertahan lama.

Mobil angkut di sepanjang menuju Waerebo.

Tujuh Rumah tidak Ditambah

Tujuh rumah yang ada di desa adat Waerebo tidak dapat ditambah lagi dengan bangunan rumah baru. Arsitektur rumah kerucut kampong Waerebo telah berumur 1080 tahun. Penghargaan diberikan untuk Mbaru Niang (rumah kerucut) kampung Waerebo dari UNESCO, yaitu Award of Excellence, anugerah tertinggi dalam UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation 2012. Penghargaan diserahkan di Bangkok, 27 Agustus 2012.

Anugerah ini adalah bentuk pengakuan terhadap arsiktetural tradisional yang tetap eksis dan dilestarikan oleh masyarakatnya. Penghargaan diberikan berdasarkan beberapa kriteria, termasuk bagaimana situs itu mencerminkan semangat lokal, kegunaan, kontribusinya terhadap lingkungan sekitar dan keberlangsungan budaya serta sejarah lokal.

Pelopor konservasi rumah Niang Waerebo sejak tahun 2008 adalah Yayasan Rumah Asuh pimpinan arsitek Yori Antar. Sukses merenovasi dan merekonstruksi empat dari tujuh Niang yang nyaris ambruk sedari 2008 hingga tahun 2011. Upaya Yori Antar mencuri perhatian UNESCO. Itulah cikal bakal penghargaan yang diberikan di Bangkok.

Bermalam di Waerebo.

Bermalam di Waerebo

Hari sudah mulai gelap kamipun segera menyelesaikan percakapan kami. Kami diantar ke rumah tamu atau yang disebut Mboru Niang yang disediakan untuk para wisatawan yang menginap di Desa Waerebo. Kami membayar sebesar Rp. 325.000 per malam termasuk makan dua kali.

Pukul 20:00 hidangan makan malam kami sudah disediakan. Dengan perut yang sudah lapar, makanan sederhana khas desa Warebo lahap kami makan.

Listrik di Desa Waerebo menyala hanya sampai pukul 22:00 penerangan kami selanjutnya hanya menggunakan lampu senter ataupun cahaya handphone.

Saya terpaksa mengurungkan niat untuk berjalan karena begitu gelap dan hanya bertaburkan bintang dilangit ditambah dengan udara yang begitu dingin bahkan menyentuh airnya terasa seperti air es.  Di sini saya dapat tidur tanpa menderita insomania karena suasana malam begitu tenanganya.

Warga menjemur kulit kayu manis.

Aktivitas Warga

Pukul 5:00 pagi saya sudah bangun. Tak sabar rasa ingin tahu saya atas apa yang dilakukan masyarakat Waerebo di pagi hari.  Saya berjalan menuju ke salah satu rumah adat di mana di depan rumahnya ada seorang Ibu yang sedang menumbuk kopi.

Ibu Melly menceritakan kalau perempuan di Desa Waerebo pekerjaan mereka berkebun kopi atau jagung dan menenun.

Menanam jagung untuk makan sendiri, sementara kopi untuk di jual. Harga jual untuk tamu hargnya Rp.100.000 tetapi harga normal kalau di pasar itu harga kopi Rp. 30.000.

Kegiatan lain yang saya jumpai pagi hari ada yang seorang Bapak yang sedang menjemur kayu manis. Menurut informasi, mereka mengambil kayu manis ini di kebun yang berjarak sekitar 5 kilo dari kampung mereka. Mereka mengatakan dengan adanya turis atau wisatawan berkunjung ke desa mereka, itu telah membantu perbaikan ekonomi mereka. Sebagian hasil tani mereka dibeli langsung oleh turis dengan harga yang lebih baik dari pada harga di pasaran.

Ojek yang membawa ke tempat mulai pendakian.

Mengenakan Sarung

Ada yang menarik perhatian saya di pagi hari di Desa Waerebo di mana satu-satu penduduk di Waerebo keluar dengan menggunakan sarung. Mungkin karena udara yang dingin membuat mereka membungkus diri dalam kain sarung.

Dalam benak saya pun terlintas pertanyaan, apakah 20 tahun ke depan wajah Desa Waerebo akan tetap mempertahankan keaslian budaya mereka. Apakah nanti perilaku wisatawan tidak akan mempengaruhi mereka, di mana anak-anak kecil di Desa Adat Waerebo sudah tidak asing lagi dengan teknologi. Bahkan, ada anak mereka yang sudah keluar kota kuliah.

Tanpa bermaksud membuat desa ini menjadi primitif selamanya, tetapi menjadi sebuah kekhawatiran apabila nanti bergeser nilai-nilai budaya yang ada karena seiring roda perubahan zaman.

Pemerintah Manggarai telah memperbaiki infrastruktur jalan yang dimulai dari SDK Denge sampai batas hutan Komunal tepatnya di Kali Wae Ronggo.

Sebagaimana telah dibuka akses kendaraan sepanjang 3 kilometer sampai batas hutan komunal dan hutan negara. Jalur jalan kaki yang ada tidak boleh diubah, dibiarkan begitu karena turis suka track yang begitu.

Wisata ke Desa Waerebo adalah salah satu wisata dengan jenis wisata minat khusus. Bagi Anda pecinta trekking dan alam, desa ini merupakan tantangan. Namun, bagi Anda yang sama sekali tidak pernah wisata trekking jalan kaki 5 kilo dengan pendakian, Anda bisa mempersiapkan diri jauh-jauh hari fisik sehingga dapat menikmati keindahan panorama alam dan kehidupan masyarakat desa Waerebo.

Rumah adat Waerebo dari dekat (Foto Syamsul Alam Paturusi).

Saatnya Pulang

Waktu terasa berputar begitu cepat pukul 08:00 kami harus mempersiapkan diri untuk pulang. Perjalanan yang sangat menyenangkan dan rasa bangga karena dapat menaklukkan jalanan menuju ke Desa Waerebo dengan kondisi tubuh yang tetap sehat.

Bangga juga telah menjadi bagian dari keindahan Indonesia yang mendapat pengakuan UNESCO.