Penghijauan S-2 Kajian Pariwisata Unud di UNESCO World Heritage Taman Ayun

Penglingsir Puri Mengwi AA Gde Agung (kiri) dan Kaprodi Prof I Nyoman Darma Putra (kanan) menjelang penanaman pohon bunga pertama.

Penglingsir Puri Mengwi AA Gde Agung (kiri) dan Kaprodi Prof I Nyoman Darma Putra (kanan) menjelang penanaman pohon bunga pertama (Foto-foto Ary Bestari).

Prodi S-2 Kajian Pariwisata Unud melaksanakan kegiatan pengabdian pada masyarakat dengan penghijauan di kawasan UNESCO World Heritage Taman Ayun, Sabtu, 21 November.

Sekitar 75 mahasiswa, alumni, dan dosen yang ikut dalam kegiatan tersebut disambut penglingsir (tetua) Puri Mengwi, Anak Agung Gde Agung dan Anak Agung Prana.

IMG_9348

Persiapan menjelang penghijauan.

IMG_9349

Bibit-bibit bunga yang siap ditanam.

DSCF1093

Dr. AA Suryawan (no. 5) menanam pohon.

Mereka membawa sekitar 100 tanaman penunjang upacara seperti pohon cempaka, sandat, wanasari, dan majagau. Tanaman yang merupakan bantuan Dinas Perkebunan Provinsi Bali dan pembibitan Bali Shanti Denpasar itu ditanam di sisi timur Pura Taman Ayun.

Penanaman perdana dilaksanakan oleh Penglingsir Puri Mengwi Anak Agung Gde Agung bersama Ketua Prodi S-2 Kajian Pariwisata Prof. I Nyoman Darma Putra, dilanjutkan oleh dosen dan mahasiswa lainnya.

Dosen pendamping yang hadir saat itu adalah Prof. AAN Anom Kumbara, Dr. IB Pujaastawa, Dr. AAN Suryawan Wiranatha, Dr. Nyoman Sudiartha, Dr. Syamsul A. Paturusi, Dr. Nyoman Sunarta, dan Dr. IB Surya.

Diskusi Penataan Daya Tarik Wisata

Usai kegiatan penghijauan dan peninjauan, peserta diundang Anak Agung Gde Agung untuk duduk bersila di balai panjang untuk mendiskusikan topik penataan World Heritage Taman Ayun sebagai daya tarik wisata.

DSCF1114

Diskusi penataan dan pengelolaan Pura Taman Ayun sebagai daya tarik wisata.

IMG_9373

Mahasiswa tekun menimak presentasi dalam diskusi.

Suasana diskusi di bale panjang.

Pak Syamsul (kiri) menyerahkan buah tangan berupa lukisan tangannya tentang Puru Taman Ayun kepada AA Gde Adung (tengah) disaksikan Darma Putra.

Pada kesempatan itu, Anak Agung Gde Agung menjelaskan bahwa Pura Taman Ayun dibangun oleh leluhurnya pada abad ke-17 tepatnya tahun 1634. “Kami generasi ke-14 yang menjunjung dan merawat Pura ini,” ujar AA Gde Agung, mantan Bupati Badung dua periode (2005-2015).

Menurutnya, Pura Taman Ayun memiliki tiga fungis utama, yaitu fungsi sosial religius, fungsi pemersatu, dan fungsi sosial ekonomi. Fungsi sosial religious jelas tampak dari fungsi Pura Taman Ayun tempat pelaksanaan upacara keagamaan, sedangkan fungsi pemersatu terletak pada hadirnya sejumlah meru yang merupakan stana dewa dari berbagai pura utama di Bali seperti Besakih dan Batur.

“Dulu, keterbatasan transportasi membuat orang kesulitan bersembahyang jauh, maka banyak warga yang datang bersembahyang ke Taman Ayun, ada peran pemersatu di sini,” tambahnya.

“Fungsi sosial ekonomi tampak pada peran pura dalam tata irigasi yang mengairi ratusan hektar sawah para petani,” ujarnya.

Dulum tambah Gde Agung, peran Pura untuk pariwisata tidak ada, namun sejalan dengan perkembangan hal itu tampak kuat sekarang. “Peran sosial ekonomi-nya bertambah lewat ekonomi pariwisata,” ujarnya.

World Heritage UNESCO

Tahun 2012, Pura Taman Ayun dinobatkan oleh UNESCO sebagai bagian dari warisna budaya dunia Bali dengan label Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy.

AA Gde Agung selaku Bupati Badung (saat itu) dan tim dari Indonesia lainnya hadir dalam sidang di Rusia ketika keputusan itu diambil. “Syukurlah Bali akhirnya ditetapkan masuk dalam UNESCO World Heritage, termasuk Taman Ayun,” katanya.

Sejak itu Taman Ayun masuk di web UNESCO dan itu adalah promosi. Papan dan logo World Heritage UNESCO dipasang di depan Pura Taman Ayun.

Jauh sebelum masuk UNESCO World Heritage, Pura Taman Ayun sudah memiliki perencanaan penataan yang baku, yakni mempertahankan zona inti (kawasan kesucian pura).

“Kalau rusak karena umur, kami renovasi seperti aslinya, kayu warna alami tanpa hiasan prada warna-warni,” katanya. Jika di bagian luar, yang berkaitan dengan parkir dan wilayah pedagang, sebagai zona luar, itu bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan.

Taman Ayun sudah menjadi objek wisata terkenal sejak lama, bahkan tahun 1970-an. Kini, popularitasnya bertambah, dan kunjungan tiap hari rata-rata 1000 orang. Tiket masuk untuk wisatawan asing adalah Rp 15.000, domestik Rp 10.000. Pendapatan dari pariwisata itu dikirim ke khas Pemkab Badung untuk dipotong 25%, lalu dikembalikan kepada Pura 75%.

DSC_7197(1)

Foto bersama mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata dengan Penglingsir Puri Mengwi, Anak Agung Gde Agung (Foto Krisna Artha).

Museum Digital

Ke depan, AA Gde Agung berminat membangun ‘museum digital’ di Taman Ayun untuk menyajikan aktivitas seni budaya di Taman Ayun. Wisatawan yang datang saat upacara, tentu bisa menikmati bagaimana tradisi Bali berjalan, kalau mereka datang hari-hari biasa, jika tidak ada upacara, video di musuem digital bisa mereka simak.

Diskusi yang dipandu Kaprodi Prof. Darma Putra berlangsung dialogis, banyak pertanyaan dan saran yang disampaikan mahasiswa kepada AA Gde Agung sebagai tanda apresiasi mereka atas penerimaan dan ceramah AA Gde Agung dan Agung Prana kepada mahasiswa.

Sebagai penutup, Sekretaris Prodi Dr. Syamsul  menyerahkan buah tangan berupa lukisan Pura Taman Ayun karyanya sendiri. “Bagus sekali. Akan saya simpan di perpustakaan kami atau nanti masuk ke Digital Museum,” ujar Gde Agung tersenyum.  (*)