Pengalaman Riset: Suka-duka Fatrisia Yulianie Gali Informasi di Ceking

Wisatawan mancanegara menikmati indahnya sawah berundak di Ceking, Gianyar.

Wisatawan mancanegara menikmati indahnya sawah berundak di Ceking, Gianyar.

Awalnya penuh masalah dan kerumitan, namun karena pantang putus-asa, akhirnya Fatrisia Yulianie berhasil menyelesaikan tesis berjudul “Partisipasi dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Ceking di Kabupaten Gianyar” (Juni 2015).

Berikut penuturan pengalaman riset mahasiswa Angkatan 2013 Program Magister Kajian Pariwisata itu mulai dari sumber inspirasinya meneliti objek wisata sawah berundak nan indah di Ceking, lalu trik mengatasi kebuntuan termasuk dalam mewawancarai pedagang yang semula enggan berkomentar, sampai akhirnya rasa syukur karena riset rampung.

Pemilihan daya tarik wisata Ceking sebagai objek dari penelitian saya berawal dari keisengan saya karena sering melewati daya tarik tersebut ketika akan pulang ke kampung halaman suami di Kintamani. Selain itu, karena keterbatasan waktu dan dana yang diperlukan jika saya meneliti di kampung halaman saya sendiri di Kalimantan Tengah.

Daya tarik wisata Ceking merupakan salah satu daya tarik wisata alam yang terdapat di Kabupaten Gianyar. Letak daya tarik wisata ini cukup strategis. Hal ini karena daya tarik tersebut terletak di jalur pariwisata yang sudah berkembang yaitu Ubud dan Kintamani.

Daya tarik wisata Ceking memiliki keindahan alam sawah berundak yang sangat menarik dan ramai dikunjungi oleh wisatawan. Keindahan alam ini bertambah dengan adanya aktivitas petani dalam mengolah dan memanfaatkan alam untuk bercocok tanam.

Wisatawan dapat menyaksikan keindahan panorama alam sawah berundak-undak secara langsung dan mengabadikannya dalam foto serta melakukan tracking menyusuri lahan persawahan.

IMG_20150216_141839

Fatrisia berfoto di sawah berundak nan indah. Riset sambil rekreasi.

Cari Masalah Banyak Membaca

Sebagai tahap awal, saya mencari tahu segala sesuatu tentang daya tarik wisata Ceking mulai dari membaca koran, majalah pariwisata, internet, sampai pada majalah ilmiah. Ternyata banyak hal menarik yang bisa saya teliti di daya tarik wisata Ceking.

Apalagi saya menemukan permasalahan yang sangat kompleks dari artikel-artikel yang saya baca. Saya menjadi sangat tertarik dan tertantang untuk meneliti dan membuktikan kebenaran dari beberapa artikel tersebut di antaranya petani yang sawahnya dijadikan sebagai daya tarik utama tidak mendapatkan kompensasi yang memuaskan kemudian pengelolaan ditangani oleh pihak lain yaitu Desa Pakraman Tegallalang sementara Desa Kedisan selaku pemilik potensi tidak terlibat di dalamnya.

 Suka Duka di Lapangan

Selama melakukan pengumpulan data di lapangan seperti ketika melakukan wawancara, observasi lapangan dan menyebarkan angket kepada wisatawan tentu tidak terlepas dari suka dan duka. Namun, pada akhirnya kegiatan penelitian tersebut menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan.

Berbekal perbendaharaan Bahasa Inggris dan Bahasa Bali yang pas-pasan saya dengan percaya diri memberanikan diri untuk terjun ke lapangan, walaupun di DTW Ceking tidak ada seorang pun yang saya kenal.

Pertama kali turun ke lapangan, saya hampir merasa putus asa karena sulitnya mendapatkan informasi yang disebabkan kurangnya keterbukaan BPOWC selaku badan pengelola. Ketidakterbukaan tersebut disebabkan karena pemberitaan media massa yang selalu memojokkan BPOWC.

Syukurlah akhirnya lancar karena jalan yang saua tempuh berikut. Awalnya saya melakukan pendekatan dengan petugas penjaga tiket masuk, dari situ saya memperoleh informasi untuk menghubungi ketua BPOWC dan selanjutnya dari ketua BPOWC saya disarankan untuk menghubungi Jero Penyarikan (Sekretaris) Desa Pakraman Tegallang yang merupakan penasihat BPOWC. Dari Jero Penyarikan inilah saya mendapatkan ‘lampu hijau’ untuk melakukan penelitian di DTW Ceking bahkan beliau tidak segan-segan memberikan banyak data dan menyuruh karyawan BPOWC membantu saya selama penelitian di lapangan.

Kesulitan lainnya adalah DTW Ceking terletak di perbatasan dua desa yang sering terjadi konflik akibat pembagian kontribusi pendapatan DTW Ceking yang tidak proposional. Selain di DTW Ceking saya juga harus mencari informasi di dua desa tersebut yaitu Desa Pakraman Tegallalang dan Desa Kedisan, sehingga ketika melakukan wawancara di kedua belah pihak saya lakukan dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Fatrisia dengan seorang narasumber.

Fatrisia dengan seorang narasumber.

Mendekati Pedagang

Begitu juga pada saat melakukan wawancara dengan petani dan para pengusaha pariwisata yang ada di sekitar DTW Ceking. Khusus pada saat mewawancarai pedagang, mulanya saya tidak mendapatkan informasi apa-apa karena pedagang enggan untuk diwawancarai. Tetapi, pada kesempatan selanjutnya saya ubah strategi saya pada melakukan saat wawancara. Pertanyaan yang saya akan ajukan ke pedagang saya hafalkan dan sebelum melakukan wawancara saya ajak pedagang tersebut mengobrol sambil membeli cenderamata yang dijualnya.

Dengan cara seperti itu saya bisa mendapatkan informasi yang saya inginkan. Trik ini juga juga saya praktekkan pada saat mewawancarai petani. Kesulitan juga saya dapatkan ketika mencari data di Disparda Kabupaten Gianyar karena saya harus melengkapi berbagai surat-menyurat. Saya harus bolak-balik dari Denpasar ke Gianyar lebih dari empat kali karena belum bertemu dengan informan yang saya inginkan.

Seiring berjalannya waktu, selama penelitian saya merasa banyak diberikan kemudahan. Saya diterima dengan baik oleh berbagai pihak baik Desa Pakraman Tegallalang, BPOWC, pengusaha pariwisata, wisatawan, petani, Desa Kedisan maupun Disparda Kabupaten Gianyar.

Itu artinya apabila kita menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekitar objek penelitian, maka tidak yang ada yang mustahil dalam melakukan penelitian.

Saya gembira karena penelitian rampung. Namun, saya akan lebih gembira lagi bila penelitian saya ini dapat mendorong pihak-pihak berkepentingan untuk kemajuan DTW Ceking. ***

Email: yulianie_f@yahoo.com