Pengalaman Riset: Kanom, Dapat Inspirasi dari Kondisi Kuta Lombok

Dokumentasi Wawancara dan pengisian Kusesioner dengan   Wisatan asal Amerika (USA)

Wawancara dan pengisian kuesioner dengan wisatawan asal Amerika.

Kanom melakukan penelitian lapangan untuk tesisnya di Kuta Lombok dengan tekun, senang, dan sungguh. Riset lancar, penulisan draft tesis berlangsung dua minggu, dan ujian-ujian bergulir lancar. Berikut adalah sharing pengalaman penelitiannya.

Kuta adalah sebuah desa yang terletak di bagian selatan Pulau Lombok, tepatnya di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa ini merupakan tempat saya lahir dan mengenal pariwisata.

Selain popular dengan Kuta Lombok, Desa Kuta juga popular dengan Kawasan Mandalika Lombok yang juga popular dengan Mandalika Resort. Mandalika merupakan salah satu identitas yang melekat pada Desa ini dan sebagai representasi Sang Putri nan cantik jelita dari kerajaan “Sekar Kuning” sebagaimana diceritakan dalam sebuah legenda Sasak di Kuta Lombok yang setiap tahunnya dirayakan dalam bentuk pesta rakyat “Bau Nyale”.

Daya Tarik Tersendiri

Keindahan alam, bahasa, tradisi serta budaya masyarakat lokal yang sangat unik merupakan daya tarik tersendiri bagi Kuta Lombok dan kepariwisataanya. Adanya daya tarik wisata tersebut menarik wisatawan untuk berkunjung di Kuta Lombok terutama wisatawan asing.

Kegiatan kepariwisataan juga mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat setempat termasuk gejala bahasa, hal tersebut sesuai dengan temuan dalam riset saya sebelumnya tentang “Codeswitching Among The Sasak Community At Kuta Central Lombok” (2011). Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya codeswitching tersebut adalah hadirnya bahasa asing yang digunakan wisatawan dari berbagai daerah dan negara asal dengan budaya yang berbeda pula, dan kehadiran wisatawan tersebut karena adanya kegitan kepariwisataan di Kuta Lombok.

Dokumentasi Wawancara dengan Anggota DPRD Kabupaten Lombok   Tengah

Dokumentasi Wawancara dengan Anggota DPRD Kabupaten Lombok Tengah

Dampak pengganda (multiplier effect) dari kegiatan kepariwisataan di Kuta Lombok tidak hanya terasa pada terjadinya gejala bahasa tersebut namun pula pada peningkataan ekonomi masyarakat setempat serta sebagai pendorong pembangunan untuk meningkatkan penerimaan devisa.

Kuta Lombok merupakan salah satu kawasan dari sembilan Kawasan Pariwisata di Lombok (Perda No. 9 tahun 1989 tentang penetapan 15 kawasan pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat). Meskipun demikian, secara umum kepariwisataan Kuta Lombok masih perlu pengembangan dan penataan yang lebih baik.

 Sumber Motivasi

Kondisi tersebut merupakan salah satu yang memotivasi saya untuk melanjutkan pendidikan dan memilih Magister Pariwisata, Program Studi Magister Kajian Pariwisata, dengan kosentrasi Perencanaan dan Pengembangan Kawasan Pariwisata pada Program Pascasarjana Universitas Udayana, pada tahun 2012 dan tamat tahun 2015.

Sesuai dengan kosentrasi yang pilih dan ketertarikan saya di bidang riset, saya sangat memutuskan melakukan riset terkait pengembangan kawasan wisata Kuta Lombok. Saya ingin menganalisis pengembangan Kuta Lombok sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan.

Setelah judul tersebut disetujui dan dinyatakan layak untuk dilanjutkan oleh tim penguji serta dikeluarkannya surat izin untuk melakukan riset oleh Program Studi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana.

Berbekal surat izin tersebut, saya langsung balik ke Lombok untuk mengumpulkan data terkait riset di lapangan (lokasi penelitian), namun sebelumnya saya melalukan konfirmasi dan mohon izin penelitian dan pengumpulan data pada instansi-instansi terkait di lingkup Pemerintah Provinsi Nusa Tengara Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Camat Pujut hingga Kepala Desa Kuta serta yang terkait lainnya dalam riset tersebut.

 Suka-duka di Lapangan

Selama pengumpulan data di lapangan seperti melakukan observasi lapangan, wawancara mendalam serta penyembaran kuesioner pada para wisatawan yang berkunjung di Kuta Lombok, tentu terdapat suka dan dukanya, namun secara umum riset yang saya lakukan cukup menyenangkan.

Adapun yang selalu menjadi kendala saya selama melakukan riset tersbut adalah terkait kurangnya dana saja, selebihnya berjalan dengan lancar. Rute Kuta Lombok – Denpasar merupakan rute yang tetap saya lalui selama menempuh studi dan riset tersebut. Kerasnya angin, kuatnya arus, tingginya gelombang di Selat Lombok merupakan hal yang biasa saya tempuh, termasuk ekstrimnya cuaca di jalan.

Wawancara-dengan-Kepala-Dinas-Kebudayaan-dan-Pariwisata-Lombok-Tengah

Wawancara-dengan-Kepala-Dinas-Kebudayaan-dan-Pariwisata-Lombok-Tengah

Menulis Dua Minggu

Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul saya langsung balik lagi ke Denpasar untuk mengolah, menganalisi, dan menyajikan data tersebut sesuai dengan tujuan dari riset tersebut. Di bawah bimbingan Prof. Ir. Made Sudiana Mahendra, MAppSc., Ph.D., dan Dr. Ir. Syamsul Alam Paturusi, MSP, dalam waktu selama dua minggu saya ternyata mampu menyelesaikan draft tesis. Dalam waktu seminggu disetujui untuk diseminarkan dan selanjutnya dinyatakan layak oleh tim penguji.

Mengingat lika-liku dalam melakukan riset tersebut cukup memakan banyak waktu, fikiran, tenaga serta biaya dan sebagainya, idealnya pemerintah maupun pihak terkait lebih menghargai dan dapat mengaplikasikan hasil-hasil riset yang telah dilakukan guna pengembangan pariwisata berkelanjutan, sehingga hasil riset tersebut tidak hanya sebatas koleksi di Perpustakaan saja, sehingga ke depannya pariwisata semakin baik. ***

Kanom mengolah tesisnya menjadi artikel “Strategi Pengembangan Kuta Lombok sebagai Destinasi Pariwisata Berkelanjutan” dimuat jurnal Jumpa, Vol. 1. No. 2, Januari 2015, pp. 25-42.

Email: kanom08_1986@yahoo.com