Pengalaman Mengikuti Program ASEM Joint Curriculum di University of Applied Science Hochschule Stralsund, Germany

Catatan Yudha Eka Nugraha, Mahasiswa Kajian Pariwisata 2016

Penulis saat Presentasi Mengenai Topik Hotel Business Plan.

Kesempatan mengikuti kuliah lewat program ASEM (Asia-Europe Meeting) joint curriculum di University of Applied Science Hochschule Stralsund (HOST), Germany, merupakan kesempatan baik untuk belajar di negeri maju.

Kami berempat, Tomi Agfianto, Yuliska Labawo, Esther Lia Margaretha, dan saya sendiri Yudha Eka Nugraha, adalah mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata, Fakultas Pariwisata Unud, yang mendapat kesempatan untuk mengikuti program joint curriculum di Jerman, dengan beasiswa Direktorat Pembelajaran, Ditjen Belmawa, Kemenristekdikti.

Dalam berkuliah, mahasiswa harus aktif dalam mencari dan belajar dari berbagai perspektif untuk semakin dalam memahami dan memberikan tanggapan pada suatu fenomena kepariwisataan di lapangan.

Belajar di HOST

Selama satu bulan sudah, kami belajar di HOST. Satu bulan memang waktu yang sangat sebentar, namun di sini saya banyak belajar terutama dalam hal penyesuaian diri.

Menurut saya, penyesuaian diri merupakan proses yang sangat penting bagi manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan yang disesuaikan dengan keadaan lingkungan. Penyesuaian diri pada tiap individu berbeda-beda, maka pada tulisan ini akan melihat penyesuaian diri dalam pandangan saya pribadi terhadap kehidupan sehari-hari, perkuliahan, dan metode pembelajaran selama menempuh pendidikan di HOST, Germany.

Bersama Prof. Auerbach, Pengajar Mata Kuliah Sales. Dari kiri: Tomi Agfianto, Yuliska Labawo, Prof. Auerbach, Esther Lia, dan Yudha Eka (penulis).

Kehidupan Sehari-hari

Kami menempati asrama mahasiswa selama menempuh pendidikan di HOST. Masing-masing dari kami mendapatkan satu kamar dengan fasilitas tempat tidur, kamar mandi, meja belajar, dan telepon. Tempat tinggal kami berada dalam satu gedung sehingga memudahkan kami berempat untuk saling berkomunikasi.

Di awal kedatangan, saya masih memanfaatkan fasilitas kantin untuk makan. Terdapat satu kantin pusat di HOST yang menyediakan makanan porsi besar yang bila dikonsumsi bisa tahan lapar seharian.

Bantuan temen sekelas dalam menggubakan fasilitas kampus yang canggih.

 

Namun, kebiasaan seperti ini tentu merupakan tindakan pemborosan. Oleh karena itu, saya dan teman-teman mencari supermarket terdekat yang dapat menjadi pilihan untuk belanja sehingga makanan bisa saya olah sendiri di asrama.

Beruntungnya, di asrama yang saya tempati memiliki satu buah dapur bersama, sehingga hal ini akan memudahkan saya untuk mengolah makanan untuk kebutuhan sehari-hari. Supermarket terlengkap dan terdekat berada 1.4 km dari asrama, saya mencapainya dengan berjalan kaki dan membeli segala kebutuhan sehari-hari di tempat tersebut, supermarket tersebut bernama Aldi.

Kartu mahasiswa dari Universitas Udayana dan Stralsund University.

Satu kebutuhan terpenuhi, kebutuhan selanjutnya adalah kebutuhan telekomunikasi. Telekomunikasi termasuk dengan jaringan internet hampir sama pentingnya dengan makanan. Saya membutuhkannya untuk terhubung dengan dunia luar seperti misalnya dalam mengakses social media untuk memberikan kabar dan kegiatan apa saja yang saya lakukan selama menempuh pendidikan di HOST, Jerman.

Berusaha mengatasi masalah ini, saya dan teman-teman berniat membeli nomor lokal, namun tidak semudah itu, nomor tersebut hanya bisa didapatkan di pusat kota (Old Town) yang berjarak 3 km dari kampus.

Kami menjangkau tempat tersebut dengan berjalan kaki dikarenakan tidak ada lagi sepeda kampus yang tersedia. Kesempatan ini kami gunakan juga untuk menghafal area tempat tinggal kami yaitu di Stralsund.

Kemana pun, kami berjalan kaki dalam mencapai tempat yang kami butuhkan, seperti ke supermarket atau membeli kebutuhan lainnya di pusat kota. Kami selalu menggunakan pakaian tebal berlapis sekitar 3 sampai 4 pakaian. Dikarenakan kami datang waktu musim gugur akhir dan mulai memasuki musim dingin.

Suhu paling tinggi menunjukkan angka 11° dan paling rendah di 1°. Suhu dingin inilah yang menyebabkan kami menggunakan pakaian berlapis-lapis untuk menghindari dingin. Terutama kami berasal dari Indonesia yang merupakan negara tropis. Uap bahkan terkadang keluar dari mulut kami ketika bernafas menandakan suhu yang sangat dingin dan wajib menggunakan pakaian yang berlapis.

Setelah presentasi pertama di mata kuliah sales.

Perkuliahan

Pada kegiatan joint curriculum ini, mahasiswa dari Universitas Udayana mengambil beberapa mata kuliah yang diajarkan di program pariwisata di HOST, Jerman. Kami masuk ke dalam program studi bernama Tourism Development Strategy dengan enam mata kuliah yang diambil dari tiga modul besar dari peminatan bisnis. Berikut merupakan perincian mata kuliah yang diambil selama menempuh pendidikan di HOST,

  1. Modules: Global Business Development: (a) International Risk Management, (b) Political Economic of Tourism
  2. Modules: Strategic Human Resource Management: (a) Human Resource Management and Employer Branding; (b) Negotiation Strategies
  3. Modules: Managing Tourism Market : (a) Tourism Product Development , (b) Sales

Kegiatan perkuliahan untuk enam mata kuliah yang diambil dilakukan dari hari Senin sampai dengan Kamis. Kuliah akan dimulai pada pukul 8 sampai dengan jam 12. Beberapa hari juga ada yang berbeda waktu selesainya yaitu selesai pukul 3 sore. Perkuliahan dilakukan dalam satu ruangan yaitu di ruang 214 gedung nomor 21.

Selama mengikuti perkuliahan di kampus ini, banyak ilmu baru yang saya dapatkan. Terutama dalam membandingkan apa yang telah saya dapatkan selama berkuliah kajian pariwisata di Indonesia dan mulai mengambil perkuliahan di manajemen pariwisata di Jerman.

Perbedaan yang paling utama terletak pada pendekatan awal yang dianut oleh kedua jurusan yang bergerak di bidang pariwisata. Selama saya belajar di Universitas Udayana, pariwisata dipandang sebagai suatu bidang lebih diutamakan pada aspek konservasi dan keberlanjutan. Pariwisata bukan merupakan industri yang semata-mata hanya mengutamakan aspek ekonomi saja, namun aspek social budaya dan juga aspek lingkungan.

Berbeda dengan pendekatan yang saya terima dari pengalaman belajar selama di HOST Jerman. Pendekatan yang paling utama dari Tourism Development Strategy HOST adalah pendekatan ekonomi yang berfokus pada efisiensi untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal.

Foto bersama seluruh mahasiswa Jurusan Tourism Development Strategy, HOST.

Paling banyak dibahas adalah kasus dari hotel dan juga moda transportasi yang biasa digunakan untuk berwisata seperti pesawat terbang. Seperti contoh yang saya dapatkan dari belajar mata kuliah sales.

Hampir setiap minggu kami dibagi dalam kelompok, untuk membuat strategi bisnis agar penjualan dalam perusahaan yang bergerak dalam bidang perhotelan dan penerbangan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya ketika tidak banyak orang melakukan wisata (low season).

Risk Management

Dalam mata kuliah lainnya seperti Risk Management, saya mendapatkan pengetahuan mengenai manajemen keuangan dan manajemen invesatasi. Mata kuliah ini mengajarkan saya bagaimana menghitung kemungkinan-kemungkinan jangka panjang untuk menghindari kerugian yang akan terjadi di masa depan.

Setiap pertemuan, saya diberikan sejumlah table perhitungan yang mengenai jumlah investasi sebuah perusahaan atau perorangan dan berapa jumlahnya setiap tahun di masa yang akan datang sampai dengan waktu yang belum atau sudah ditentukan oleh dosen. Mata kuliah ini juga mempelajari mengenai mengasuransikan berbagai produk terutama produk pariwisata untuk menghindarkan produsen dari kerugian dimasa yang akan datang.

Salah satu yang menarik adalah modul Human Resource Management yang terdiri dari HRM dan Employer Branding serta Negotiation Strategy yang secara garis besar sama-sama mengajarkan mengenai pemilihan strategi yang digunakan dalam melakukan suatu penjualan.

Selain itu juga dalam mata kuliah ini diajarkan bagaimana melakukan negosiasi ketika melakukan penjualan suatu produk atau jasa pariwisata.

Selanjutnya, saya juga mengambil Tourism Development Product, yaitu mata kuliah yang memberikan Saya pengetahuan mengenai produk pariwisata yang beraneka ragam dan sangat kompetitif sehingga perlu dikembangkan dengan spesifik dengan riset pasar yang komprehensif.

Metode Ajar

Secara garis besar, metode ajar yang diberikan selama menempuh pendidikan di HOST, Jerman memiliki kesamaan dengan metode yang diajarkan di Indonesia. Sebagian besar pembelajaran dilakukan dengan penjelasan dosen didepan kelas dan mahasiswa mengajukan pertanyaan ketika dibutuhkan.

Selain itu, mahasiswa juga diajak untuk aktif menyampaikan pendapat dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dosen selama perkuliahan.

Kegiatan seperti presentasi juga menjadi salah satu metode ajar yang digunakan untuk memperdalam pengetahuan mahasiswa. Mahasiswa dibagi kelompok menjadi 3 dalam satu kelas dan diberikan waktu sekitar 10 menit untuk mempersiapkan presentasi langsung didepan kelas.

Saya sendiri pernah mengambil bagian untuk turut berbicara dalam presentasi di depan kelas. Waktu itu presentasi mengenai pemaksimalan profit hotel ketika sedang dalam kondisi low season.

Mahasiswa diminta untuk mencari cara bagaimana prosedur marketing yang dapat digunakan untuk menarik turis untuk datang dan menghabiskan uangnya di hotel tersebut.

Selain kedua metode diatas, metode lain adalah dengan memberikan bahan ajar sebelum kelas dimulai. Biasanya, pengajar memberikan bahan ajar sebelum kelas dimulai, dua atau tiga hari sebelumnya, slide presentasi harus sudah di-upload di email mahasiswa untuk kemudian dibaca oleh mahasiswa sebelum datang ke kelas.

Bahan yang diberikan semuanya berstandar internasional dan berkualitas baik sehingga menimbulkan diskusi ketika dibahas di dalam kelas.

Sejauh ini, saya merasa beruntung mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu peserta dalam kegiatan joint curriculum Universitas Udayana dan University of Applied Science HOST, di Jerman.

Dari sini tentunya saya akan mendapatkan pemahaman yang luas dan mendalam dari berbagai aspek dalam kepariwisataan, tidak hanya dari aspek lingkungan dan sosial budaya saja, namun juga dari segi ekonomi yang bertanggung jawab (*).