Pengabdian Masyarakat Pascasarjana Unud Diisi dengan Penyuluhan Ekowisata

sembung 3

Ir. AA Gde Raka Dalem, M.Sc. sedang memberikan penyuluhan ekowisata di Subak Sembung Peguyangan.

Prodi Magister Kajian Pariwisata dan Doktor Pariwisata berpartisipasi dalam program pengabdian pada masyarakat terpadu yang dilaksanakan oleh Program Pascasarjana Unud di Subak Sembung, Peguyangan, Denpasar, Jumat, 19 Agustus 2016.

Pengabdian yang dilaksanakan dalam rangka 24 tahun usia Pascasarjana Unud itu dibuka oleh Istri Walikota Denpasar Nyonya Selly Mantra didampingi Direktur Pascasarjana Unud Prof. AA Raka Sudewi. Acara diisi dengan penamaman pohon buah seperti jeruk dan pepaya, dan penyuluhan tentang tiga hal yaitu ekowisata dan lingkungan, praktik pertanian yang baik, dan neurotoksitas (keracunan saraf akibat polusi).

Kegiatan pengabdian didukung seluruh program studi doktor dan magister Pascasarjana di lingkungan Unud, dengan Ketua Panitia Dr. I Gde Wijana. Hadir pada saat itu adalah Asdir I Prof. Made Budiarsa, Asdir II Prof. Made Sudiana Mahendra, dan ketua-ketua prodi.

sembung direktur

Direktur Pascasarjana Unud Prof. AA Raka Sudewi didampingi Asdir I Prof. Sudiana Mahendra (kiri) diwawancarai wartawan di sela kegiatan pengabdian.

Prodi Magister Kajian Pariwisata dan Doktor Pariwisata bekerja sama dengan Prodi Lingkungan memberikan penyuluhan ekowisata kepada warga petani Subak Sembung yang mengembangkan rekreasi memancing. 

Acara penyuluhan ekowisata diisi ahli ekowisata Unud oleh Ir. Anak Agung Gde Raka Dalem,M.Sc. dan dipandu oleh Kaprodi Magister Kajian Pariwisata Prof. I Nyoman Darma Putra.

Rekreasi Mancing

Acara penyuluhan ekowisata diawali dengan penjelasan ringkas oleh anggota subak pengelola kolam pancing I Nyoman Suparta (55). Dia menuturkan bahwa areal ruang rekreasi yang ditawarkan adalah 45 are, berada di pojok persawahan Subak Sembung.

Di tempat itu terdapat satu kolam lele berukuran 5×15 meter dan beberapa kolam ikan nila. Peserta rekreasi datang ke sana untuk memancing. Pengunjung bisa menyewa alat pancing seharga Rp 10 ribu dan setiap ekor ikan terpancing ditimbang dengan harga Rp 35.000-Rp 40.000 per kilo.

“Selama ini pengunjung datang secara berkelompok,” ujar Suparta. Kelompok pengunjung yang datang dari sekolah TK dan SD, juga dari SMP/SMA.

sembung 7

Subak Sembung Peguyangan, ada pojok ekowisatanya.

Sepekan sebelumnya, menurut Suparta, hadir peserta konferensi Organization of World Heritage City (OWHC) dari berbagai negara. Mereka ada di Bali untuk membahas strategi pengolahan warisan dunia atau pusaka.

Mulai Berkembang

Menurut Raka Dalem, areal ekowisata Subak Sembung mulai berkembang dalam dua tahun terakhir. Ekowisata mesti memenuhi tiga kriteria yaitu lingkungan lestari, mendukung nilai sosial budaya setempat, dan memiliki manfaat ekonomi.

“Segalanya lebih indah kalau ada manfaat ekonominya,” ujar Raka Dalem yang sudah melakukan survei di Subak Sembung sejak 2014.

Untuk menjaga kelanjutan ekowisata, ujar Raka Dalem, ekosistem lingkungan harus diperhatikan dengan baik misalnya menghindari penggunaan pestisida dan alat beracun lainnya.

sembung 2

Kawasan rekreasi ekowisata kolam pancing.

“Fasilitas untuk rekreasi juga perlu diperhatikan, misalnya toilet dan keamanan pengunjung,” ujar Raka Dalem.

Ceramah Hukum Adat

Acara pengabdian diisi dengan ceramah hukum adat dari Prof. I Wayan P. Windia yang menyajikan beberapa masalah dalam pelayanan adat. Intinya, Windia menyampaikan seorang tokoh desa atau pemangku untuk hati-hati memberikan pelayanan adat.

“Jangan sampai pemangku digiring untuk melaksanakan upacara pernikahan warga yang pernikahannya sendiri bermasalah,” ujar Windia dengan tegas namun rileks.

sembung w

Prof. Wayan P. Windia (kiri) memberikan ceramah adat, didampingi Prof. Komang Budaarsa.

Begitu juga kalau melakukan uoacara untuk pembangunan di atas sebidang tanah, jangan sampai upacara jalan tapi kelak tanah itu bermasalah. Saat itu, Prof. Windia membagikan buku adat yang ditulisnya kepada warga setempat.

Program pengabdian ditutup oleh Direktur Pascasarjana Prof. Raka Sudewi.