Pantai Ngrumput, Keindahan yang belum Terjamah

Catatan Novi Tani, Angkatan 2016

Rekreasi di pantai indah (Foto-foto Novi).

Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta merupakan salah satu tempat yang sangat terkenal dengan wisata alamnya. Deretan air terjun, goa, bukit, gunung serta pantai tersusun rapi di sepanjang wilayah Kabupaten tersebut.

Berada di sebelah Selatan Kabupaten Gunung Kidul, gugusan pantai di wilayah ini memiliki gelombang yang cukup besar, namun karena diapiti oleh batu-batu karang yang besar, pantai ini aman untuk mandi serta untuk melakukan aktivitas air lainnya.

Saya dan kawan-kawan memilih pantai Ngrumput untuk camping dalam rangka liburan kali ini karena keberadaannya yang masih tersembunyi serta terletak di antara perbukitan yang hijau.

Perjalanan ke Pantai

Sore pukul 15.00 WIB tanggal 26 Januari 2017, kami bertolak dari kota Yogyakarta menuju Pantai Ngrumput yang terletak di Desa Ngestisari, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Dengan bermodalkan tiga unit sepeda motor, perjalanan kami terasa lengang karena bebas dari kemacetan di sepanjang jalan Wonosari.

Setelah menempuh perjalanan sejauh _+ 61km selama _+2 jam, kami pun tiba di pos retribusi. Di sana kami membayar biaya retribusi sebesar Rp 10.000,00 per orang. Dengan Rp 10.000,00 ini kami bisa mengakses 17 pantai di kawasan tersebut yang telah terdaftar sebagai Destinasi Wisata. Perjalanan pun dilanjutkan sejauh _+9 km.

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit kami tiba di parkiran pantai. Setelah memarkir motor, kami pun berjalan sejauh _+500 meter melewati jalan sempit menuju lokasi.

Suasana dan aktivitas di Pantai

Setibanya di sana, kami meletakkan tas dan barang-barang kami di tempat yang sudah kami sepakati bersama untuk mendirikan tenda, kemudian kami pun langsung menuju bibir pantai untuk menikmati suasana pantai di sore hari. Setelah puas menikmati pantai, kami kembali ke lokasi untuk mendirikan tenda.

Api unggun, penulis paling kanan.

Kami pun bergegas membuat api unggun sebagai sumber penerangan sekaligus untuk memanggang ayam, yang kami pilih sebagai lauk kami pada malam itu. Beberapa saat setelah menyiapkan makanan, kami menikmati makan malam kami. Usai dinner, kami bermain kartu remi dan bernyanyi bersama. Akhirnya kami beristirahat pada pukul 23.00 WIB ditemani deru ombak.

Keesokan paginya, kami terbangun pada pukul 05.30 WIB dan segera memanaskan air dan menyeduh kopi dalam gelas ditemani roti tawar. Mentari pagi muncul dari celah bukit saat kopi perlahan-lahan berkurang dari isi gelas kami. Nyanyian merdu sekelompok burung pantai semakin membawa suasana menjadi begitu nikmat.

Setelah bergelas-gelas kopi dan roti tandas, kami pun menuju lapangan yang sengaja dibuat oleh penjaga pantai di sekitar tenda untuk bermain voli pantai. Di sana kami menghabiskan waktu kira-kira 30 menit untuk bermain voli bersama.

Usai olah raga, kami menuju ke bibir pantai untuk memanjakkan diri dibawah terik matahari pagi sambil berenang di laut. Dengan hati penuh sukacita kami mandi, melompat, mengubur diri dalam pasir, mencari siput dan menaiki tebing batuan karang yang berada di sekitar pesisir pantai tersebut.

Gradasi warna yang air serta pasir yang basah terkena terpaan ombak, setengah basah, dan kering menambah indahnya pemandangan. Aktivitas di pantai hari itu diakhiri dengan memasak mie dan siput serta membongkar tenda.

Kemah di tenda.

Kelompok Sadar Wisata

Di sela bakar-bakar, saya menuju ke salah satu warung terdekat, nama warung itu “Warung Mbah Warso”. Di warung tersebut saya menemui sepasang kakek dan nenek muda yang masih berjaga. Jam di handphone menunjukkan pukul 20.00 WIB.

Saya kemudian bertanya mengenai pengelolaan pantai tersebut. Menurut keterangan dari pasangan ini, pantai Ngrumput dikelola oleh Pokdarwis Midodaren. anggota kelompok tersebut berjumlah kira-kira 40 oran dan semuanya sudah berkeluarga, baik yang masih muda maupun paruh baya.

Kelompok tersebut menangani dua destinasi wisata, yakni pantai Ngrumput dan Bukit Kosakora. Untuk naik ke bukit Kosakora dikenai tambahan biaya sebesar Rp 2.000,00.

Setiap tenda yang didirikan di kawasan pantai ini dikenai biaya kebersihan sebesar Rp 10.000,00 per tenda sepaket dengan wadah yang digunakan sebagai alas untuk bakar-bakar di pantai. Mereka sangat menjaga kelestarian lingkungan mereka ya. Luar biasa. Selain itu mereka juga menyediakan kayu bakar dengan harga jual Rp 10.000,00 per ikat.

Foto bersama pasangan Mbah Warso, nara sumber.

Dana untuk Kebersihan

Saat mandi keesokan paginya, kami menyaksikan sendiri ada petugas kebersihan yang sedang membersihkan pantai ketika salah satu kelompok pengunjung yang berkemah meninggalkan pantai. Dana kebersihan benar-benar dipergunakan dengan baik.

Pasangan Mbah Warso juga menambahkan bahwa biaya retribusi sebesar Rp 10.000,00 yang ditarik di pos retribusi semuanya masuk ke kantong Pemerintah Daerah Kabupaten Gunung Kidul.

Menurut saya biaya retribusi tersebut sudah digunakan dengan baik karena akses menuju ke sana sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya (karena saya pernah berkujung ke sini tahun-tahun sebelumnya).

Di sana terdapat properti yang berbentuk love yang dihiasi dengan bunga-bunga di sepanjang bentuk love tersebut. Untuk berfoto di properti tersebut dikenai biaya sebesar Rp 2.000,00. Menurut Pasangan Mbah Warso, properti tersebut merupakan milik pribadi.

Keadaan jalan menuju pantai dari parkiran

Pendapatan

Para pedagang, pemilik kamar mandi dan pemilik lahan parkir di kawasan tersebut semuanya merupakan anggota pokdarwis, tidak terkecuali pasangan Mbah Warso. Menurut Mbak Warso dalam seminggu mereka memperoleh pendapatan + Rp 300.000,00 jika pantai lagi ramai.

Jika pantainya lagi sepi, warung mereka kadang tidak mendapat sepeser pun dalam sehari. Pasangan tersebut mengaku bahwa banyak pengunjung yang mengira bahwa di pantai tersebut tidak terdapat warung karena minimnya informasi yang diperoleh.

Pasangan ini mengharapkan banyak pengunjung yang mengetahui keberadaan mereka sehingga bisa memberikan sedikit rezeki untuk mereka. Semoga info tersebut sampai ke mata calon pengunjung pantai Ngrumput. Amin. ***