Ojek Kampung Waerebo: Saat Sepi Rp 100 Ribuan, Saat Rame Rp 600 Ribuan

Catatan Novi Tani, Angkatan 2016

Penulis, di depan rumah adat Waerebo yang anggun.

Siapa yang tidak mengenal Waerebo, Manggarai Barat, Pulau Flores? Kampung ini rasanya tidak asing asing lagi terdengar di telinga orang Indonesia, khususnya kaum muda yang suka akan budaya dan travelling. Sejalan dengan mengalirnya wisatawan berkunjung ke sebuah desa di Pulau Bunga ini, masyarakat setempat mulai merasakan manfaatnya. Selain dari pendapatan sewa rumah, juga pendapatan tukang ojek.

Untuk melengkapi kisah-kisah perjalanan kawan-kawan kami mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana (misalnya klick negeri di atas awan dan Waerebo yang Memukau ), berikut sepintas riwayat rumah adat Waerebo dan manfaat yang dirasakan masyarakat termasuk tukang objek (bukan Go-Jek) dengan pendapatan antara Rp 100 ribuan sampai Rp 600 ribuan, sesuai musim.

Kampung ini terletak di dataran tinggi Kabupaten Manggarai Barat dan semakin fenomenal setelah memperoleh penghargaan tertinggi, Award of Excellence atas konservasi rumah tradisional mbaru niang, dalam konservasi warisan budaya 2012 United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) kawasan Asia Pasifik.

Beruntungnya kami, mahasiswa S2 Kajian Pariwisata Universitas Udayana beserta dosen pembimbing kami, Pak Dr. Syamsul Paturusi memperoleh kesempatan juga untuk melawat kampung unik tersebut setelah mengunjungi Taman Nasional Komodo yang masih terletak di Pulau Flores juga.

Perjalanan menuju Waerebo, dari Belakang ke depan Ander, Ulfa, Noni, Ego.

Setelah mengunjungi Taman Nasional Komodo dan kembali ke Labuan Bajo sore harinya, kami terpecah ke dalam tiga kelompok, yakni kelompok yang kembali menuju Denpasar, Kelompok yang menginap di Labuan Bajo untuk keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Waerebo, dan kelompok terakhir adalah kelompok yang pada malam itu juga langsung menuju ke Ruteng dan melanjutkan perjalanan ke Waerebo keesokan harinya.

Kelompok ini terdiri dari lima anggota, yaitu Ulfa, Nonny, Eggo, Ander, dan saya sendiri.

Perjalanan ke Waerebo

Perjalanan ke Waerebo dimulai pada pukul 12.30 Wita dari Kota Ruteng. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan alam yang begitu menawan. Hijaunya persawahan yang membentang di kaki gunung dan sejuknya udara pegunungan membawa kesan tersendiri bagi perjalanan kami. Janganlah mengharapkan perjalanan dengan rute yang biasa seperti di Jawa dan Bali jika mengunjungi Flores. Jalanan berlubang dan sempit juga berkelok serta tanjakan dan turunan yang curam menjadi pemandangan yang biasa di sana.

Menyambut matahari pagi bersama anak-anak Desa Waerebo.

Di tengah perjalanan, di jalanan berbatu bekas sungai, kami dihentikan oleh sekelompok anak kecil, kira-kira kelas satu sampai tiga Sekolah Dasar dan mereka meminta uang (istilah keren orang Flores: pajak) karena mereka sudah merapikan batu agar bisa dilewati mobil. Sang sopir pun memberikan uang sebesar Rp. 2.000 setelah sedikit basa basi dengan anak-anak tersebut. Mereka dengan girang hati sambil mengucapkan terima kasih menerima uang tersebut.

Wajah salah satu ruas jalan menuju Waerebo dan anak kecil yang meminta uang pajak.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam kami pun tiba di kampung Denge dan dilanjutkan dengan ojek menuju pos satu. Dari pos ini, kami lalu menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, ditemani guide lokal (sebut saja Kraeng Roni). Selama perjalanan kami mencecari sang guide dengan berbagai pertanyaan. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 2 jam dan melewati pos 3, kami pun tiba di kampung tersebut. Perasaan gembira bercampur haru pun menyelimuti wajah dan hati kami berlima. Akhirnya kami bisa menaklukan perjalanan menuju ke tempat ini.

Upacara Penerimaan

Sebagai simbol bahwa ada tamu yang akan masuk ke kampung, salah satu dari kami diminta oleh sang guide untuk membunyikan kentungan di pos tiga. Kentungan pun dibunyikan oleh Ulfa. Kami pun langsung menuju kampung dan masuk ke salah satu Mbaru Niang. Di sana kami diterima secara adat oleh salah satu kepala suku di sana.

Menurut sang guide, dengan penerimaan adat ini kami didoakan oleh sang ketua adat agar selamat selamat di kampung tersebut hingga perjalanan pulang. Setelah upacara penerimaan tersebut kami sempat melakukan sedikit sesi tanya jawab dengan salah satu penghuni rumah adat tersebut (bukan ketua adat) yang mengerti bahasa Indonesia.

Bersama teman-teman MKP 2016 di pelataran kampung.

Setelah itu kami di antar ke rumah penginapan yang berupa rumah Mbaru Niang juga untuk minum kopi dan persiapan makan malam lalu dilanjutkan dengan sedikit bersenda gurau dengan teman-teman kami yang sudah tiba dahulu serta wisatawan lainnya kemudian istirahat.

Peraturan di Kampung Waerebo

Saya sempat membaca di beberapa blog dan juga pemberitahuan dari beberapa teman bahwa selama di Kampung Waerebo tidak diperkenankan untuk memakai celana pendek dan baju yukensi. Ternyata menurut sang guide hal itu tidak dipermasalahkan. Yang menjadi masalah adalah ketika wisatawan memakai pakaian dalam saja (maaf menyebutnya, biasanya dilakukan oleh wisatawan internasional).

Selain itu, untuk menuju ke Kampung Waerebo, wisatawan harus didampingi oleh guide lokal, dimana mereka merupakan warga asli waerebo dan Denge. Wisatawan juga diharapkan untuk mendengarkan arahan dari guide demi keselamatan dan kenyamanan dalam perjalanan.

Nostalgia Penemuan Kampung Waerebo

Dituturkan oleh seorang Bapak di rumah Mbaru Niang (lupa namanya)  bahwa awalnya rumah Mbaru Niang sebenarnya sudah mengalami banyak kerusakan tetapi keadaan buruk tersebut lantas terselamatkan berkat Bapak Yori Antar dari Yayasan Kasih Ibu yang peduli terhadap warisan budaya tersebut.

Dikisahkan bahwa Bapak Yori dan tim biasanya merayakan 17 Agustus ke Kampung-Kampung, dan kebetulan tahun 2008/09 timnya ke Waerebo.

Diceritakan bahwa sebenarnya tujuan beliau dan tim adalah ke Sumba Barat Daya dan Bajawa. Dalam perjalanan ke Bajawa mereka menemukan gambar di sebuah rumah makan di Aimere. Tim bertanya ke pemilik rumah makan mengenai kampung ini dan mereka diarahkan ke Ruteng, lalu dilanjutkan ke Waerebo.

Desa Waerebo, di balik bukit di atas awan.

Kebetulan waktu itu Waerebo sedang didampingi oleh sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat, namanya Ekosia dari Amerika Serikat. Kebetulan juga waktu itu LSM tersebut mendatangkan mahasiswa dari Taiwan dan dosen arsitek, dan sedang merehab rumah Mbaru Niang ini.

Pak Yori penasaran lantaran orang dari luar Indonesia memiliki keinginan untuk membantu. Kemudian beliau bertanya,  tidak adakah orang Indonesia yang berniat membantu?

Beliau kemudian bergerak dan meminta masyarakat setempat untuk membuat proposal dan Pak Yori sendiri yang mencari donaturnya.  Kemudian dengan bantuan-bantuan dari donatur tersebut akhirnya pada tahun 2009 direhab satu rumah Mbaru Niang. Tahun 2009 direhab satu lagi, dan tahun 2011 dibangun tiga sekaligus. Dua rumah untuk penginapan serta satu lainnya untuk ditempati oleh keluarga warga Waerebo.

Pendapatan Warga Setempat

Di sini akan dibahas mengenai pendapatan warga di dua kampung, yakni Kampung Waerebo dan Denge karena kedua warga dari kedua kampung ini masih memiliki hubungan darah yang dekat dan sama-sama memperoleh keuntungan dari daya tarik rumah Mbaru Niang.

Warga Kampung Denge ada yang berprofesi sebagai tukang ojek, yang mengantar wisatawan dari tempat parkir mobil sampai ke pos satu. Menurut penuturan Bapak Andre, tukang ojek yang saya tumpangi, dalam sehari saat high season, dia memperoleh pendapatan sebesar 600 ribuan. Sedangkan pada hari itu, saat saya menumpang ojeknya, menurutnya sepi dan hanya memperoleh pendapatan sebesar 100 ribuan.

Ojek yang membawa ke tempat mulai pendakian.

Selain ojek, Warga Denge dan Waerebo juga memperoleh pendapatan dari menjadi guide. Untuk satu rombongan wisatawan, guide lokal memperoleh bayaran sebesar 200 ribu rupiah. Bayaran yang diperoleh guide tersebut seratus persen masuk ke kantongnya, tanpa menyerahkan sepersekiannya untuk pihak pengelola.

Menurut Kraeng Roni, siapa saja boleh menjadi guide, asalkan yang bersangkutan mau dan pastinya harus warga lokal. Pemilik homestay, Bapak Blasius yang mengatur para guide yang hendak mengantar tamu.

Pasukan lengkap backpacker berwefie ria bersama sang guide (yang mengenakan jaket merah) sambil menikmati kopi asli Waerebo.

Selain itu warga Kampung Waerebo memperoleh pendapatan dari menjual Kayumanis dan Kopi, yang merupakan komoditas utama mereka.

Pendapatan yang tidak kalah besarnya diperoleh dari sektor pariwisata, yakni retribusi yang dibayar oleh wisatawan saat berkunjung ke kampung tersebut, yakni sebesar 325 ribu per orang jika menginap, dan 200 ribu jika tidak menginap.

Kesempatan Meneliti

Di sela-sela pembicaraan kami mengenai Kampung Waerebo, saya tanyakan juga kepada Kraeng Roni mengenai kesempatan untuk melakukan penelitian di kampung tersebut. Kraeng Roni menjelaskan bahwa setahu dia belum ada mahasiswa pariwisata yang melakukan penelitian di kampung tersebut.

Jadi jika ada teman-teman yang berminat, silahkan mengajukan proposal untuk melakukan penelitian di sana.