Monkey Forest Ubud, Implementasi Kearifan Lokal menuju Keunggulan Global

Wisatawan berkunjung yang ke Monkey Forest, 1 Desember 2017 (Foto-foto Darma Putra).

Daya tarik wisata Monkey Forest Ubud atau juga dikenal dengan nama lokal Mandala Suci Wenara Wana merupakan salah satu contoh objek wisata yang dikelola dengan sistem community based tourism (CBT). Monkey Forest sepenuhnya dikelola oleh masyarakat Desa Padangtegal, Ubud, sebagai pemilik objek ini, dan tidak ada campur tangan pemerintah atau swasta.Nilai kearifan lokal seperti kebersamaan, berorientasi pada adat dan agama, dan nilai-nilai Tri Hita Karana (hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam) yang dijadikan dasar dalam pengelolaan membuat Monkey Forest berhasil maju menjadi salah satu daya tarik wisata terkemuka di Bali. Buktinya bisa dilihat dari angka kunjungan yang tinggi, fasilitas yang standar, dan berbagai penghargaan yang diterima.

General Manajer Nyoman Buana saat menerima kunjungan mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata, 1 Desember 2017.

Untuk kunjungan, rata-rata 4000 orang per hari, kalau ramai bisa mencapai 5000 wisatawan per hari. Dana yang diperoleh, direinvestasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan fasilitas. Bangunan lobi tempat penjualan tiket sangat bagus, fasilitas toiletnya hebat, begitu juga kebersihan di dalam objek. Semuanya berstandar internasional, mencerminkan keunggulan global.

Beberapa Prestasi

Untuk prestasi, bisa dilihat dari serangkaian penghargaan yang diterima, seperti Piagam Penghargaan dari Perhimpunan Objek Wisata Indonesia ”PUTRI” Tingkat I Bali Sebagai Juara II dalam Lomba Penataan Objek Wisata Alam Se-Bali Tahun 1992, Penghargaan dari Bupati Gianyar sebagai sepuluh besar penyumbang pajak pada Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari tahun 2006 – 2014, Bali Best Brand Awards katagori Best Hindu Tourism Management tahun 2011, Trophy dan Piagam “Sad Kertih” dari Gubernur Bali tahun 2011, Trophy dan Piagam “Kalpataru” dari Presiden RI tahun 2012, Tri Hita Karana award dari Bali Travel News tahun 2013, Desa Sadar Lingkungan Peringkat I Provinsi Bali tahun 2013, dan Desa Percontohan Pengelolaan Sampah Peringkat I Provinsi Bali tahun 2017.

Hutan Kera Sakral

Mandala Suci Wenara Wana sendiri memiliki arti Hutan Kera yang sakral. Disebut sebagai hutan kera sakral karena terdapat tiga pura yang berada di kawasan Monkey Forest Ubud yakni Pura Dalem Agung yang terletak di bagian barat daya yang merupakan bagian utama dari kawasan suci Monkey Forest, Pura Beji yang memiliki struktur “Tiga Mandala” dan Pura Prajapati sebagai tempat kremasi atau ngaben. Pura Beji yang terletak di dekat sungai kecil memiliki sebuah kolam yang dulunya digunakan sebagai tempat untuk menyucikan diri dan untuk menjadi tempat berlatih meditasi.

Monkey Forest Ubud sebagai kawasan suci dengan tatakelola yang berfilosofi Tri Hita Karana merupakan kombinasi yang sempurna dalam menciptakan keunggulan sebagai sebuah destinasi pariwisata. Kehidupan masyarakat yang religius mengindikasikan integritas masyarakat dan merupakan kompetensi terpenting yang harus dimiliki untuk menjadi sebuah pegangan atau petunjuk apa yang harus dilakukan karena adanya kepercayaan kepada Tuhan dan Alam Semesta.

Menyiapkan makanan kera.

Komitmen Selaras dengan Alam

Seperti halnya yang disampaikan Nyoman Buana selaku General Manager Monkey Forest Ubud pada saat menerima mahasiswa Prodi Kajian Magister Pariwisata, Fakultas Pariwisata Unud, Jumat (1/12/2017) bahwasannya masyarakat memiliki komitmen untuk hidup selaras dengan alam dengan tetap menjaga keberlangsungan alam dan nilai nilai budaya yang mereka miliki.

“Keberlangsungan alam dan nilai nilai budaya tersebut memberikan manfaat ekonomi dari kegiatan pariwisata secara berkelanjutan,” ujar Nyoman Buana.

Tata kelola Monkey Forest Ubud yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat lokal juga memberikan gambaran mengenai gaya kepemimpinan khas budaya lokal. Gaya kepemimpinan yang lebih tepat disebut sebagai gaya pemimpin fasilitatif yang ditandai dengan sikap mengayomi, pelibatan dan motivasi.

Kunjungan ke Monkey Forest, Jumat, 1 Desember 2017.

Seperti pada pandangan terhadap kepemimpinan Ki Hajar Dewantara yang menjadi akar budayanya : ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Pemimpin yang jeli membaca situasi akan bijak menempatkan peran dan kuasanya, menjadi panutan, memotivasi, dan memberikan dorongan.

Gambaran pemimpin ini saat ini tampak pada peran Nyoman Buana selaku bersama masyarakat Desa Padangtegal. Masyarakat yang turut terlibat secara langsung di dalam pengelolaan Monkey Forest tidak henti-hentinya dimotivasi, dibimbing, disediakan fasilitas kompetitif untuk meningkatkan kapasitasnya melalui pelatihan pelatihan penunjang kepariwisataan seperti kemampuan berkomunikasi bahasa asing, teknik guiding, dan pengembangan karakter dengan bekerja sama dengan John Robert Power.

Seorang wisatawan asing bercanda dengan kera di Monkey Forest.

Distribusi Manfaat

Manfaat lainnya dari pengelolaan objek wisata Monkey Forest didistribusikan pada tiga fokus utama yakni manfaat terkait parahyangan berupa biaya upacara, biaya perbaikan dan pembangunan pura, manfaat terkait pawongan seperti membuka lapangan kerja, memberikan kesempatan berusaha sebagai penyewa atau pemilik kios disekitar kawasan, penyertaan modal di LPD (Lembaga Perkreditan Desa, subsidi upacara ngaben, subsidi biaya rawat inap, beasiswa bagi putra-putri Desa Padangtegal yang ingin melanjutkan studi pada Fakultas Pertanian, Kehutanan, Kedokteran Hewan, Peternakan , memberikan kursus-kursus (bahasa Inggris dan komputer), klinik pengobatan desa; manfaat terkait palemahan berupa penataan kawasan desa, perluasan kawasan hutan. Hal ini sangat sesuai dengan filosofi tatakelola Monkey Forest Ubud.

Penataan asri alami jalan setapak Moneky Forest membuat wisatawan nyaman berkunjung.

Demikian implementasi kearifan lokal turut mengantarkan Monkey Forest Ubud sebagai destinasi pariwisata yang unggul di dalam hal pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dan memiliki daya saing global (Dewa Gede Kharisma).