Model “Community Based Tourism” perlu Terus Disempurnakan

Prof. Dr. KG Bendesa memberikan komentar selaku pembahas dalam seminar (Foto Darma Putra)

Prof. Dr. KG Bendesa memberikan komentar selaku pembahas dalam seminar (Foto Darma Putra)

Diperlukan berbagai bentuk model pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat (community based tourism atau CBT) untuk mengembangkan potensi-potensi yang berbeda di Bali. Model-model yang ada perlu terus disempurnakan.

Demikian disampaikan Prof. KG Bendesa selaku pembahas dalam seminar bertema “Empat Model Community Based Tourism di Bali” yang dilaksanakan Prodi S-2 Kajian Pariwisata dan Konsorsium Riset Pariwisata Unud, Senin, 30 November, di Gedung Pascasarjana Unud Denpasar. Seminar diikuti sekitar 125 peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, dan umum.

Dalam seminar itu tampil empat pembicara membahas empat model CBT dari empat kabupaten masing-masing Dr. I Nyoman Tingkat menyajikan model CBT di Pantai Pandawa (Kabupaten Badung), Fatrisia Yulianie, M.Par tentang CBT di daya tarik wisata rice terrace Ceking (Gianyar), I Gusti Agung Prana tentang CBT di Desa Pemuteran (Buleleng), dan Prof. Darma Putra tentang CBT daya tarik wisata Tanah Lot (Tabanan).

Keempat model yang dibahas memang berbeda karena latar belakang munculnya daya tarik wisata berbeda, tingkat perkembangannya, income, keterlibatan masyarakat, dan sistem pengelolaannya berbeda-beda.

“Model yang ada terus perlu disempurnakan tapi meski demikian yang sempurna itu pun belum tentu cocok diterapkan begitu saja di tempat lain oleh karena perbedaan-perbedaan kondisi,” ujar Prof. Bendesa, Ketua Program Studi Doktor Pariwisata Unud.

Suasana seminar, di meja oembicara dari kiri ke kanan: Dr. Nyoman Tingkat, AA Prana, Dr. IB Pujaastawa, Prof. Darma Putra, dan Fatrisia Yulianie.

Suasana seminar, di meja pembicara dari kiri ke kanan: Dr. Nyoman Tingkat, I Gusti Agung Prana, Dr. IB Pujaastawa, Prof. Darma Putra, dan Fatrisia Yulianie.

Formula ‘KSA’

Menurut Prof. Bendesa ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan model CBT adalah formula ‘KSA’ yang terdiri dari knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan), dan attitude (sikap) masyarakat.

Di beberapa tempat yang mengembangkan CBT, menurut Prof. Bendesa, masih ada kelemahan komunitas dalam hal pengetahuan dan keterampilan mengenai pengelolaan pariwisata di daerahnya. “Tapi, kedua hal ini bisa dipelajari,” katanya.

Yang mengkhawatirkan, tambah Prof. Bendesa, adalah kalau attitude atau sikap masyarakat sulit ditata. “Bagaimana kalau ada konflik di masyarakat, tentu pengembangan pariwisata akan terganggu,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Anak Agung Prana, yakni pentingnya perilaku masyarakat dalam pengembangan pariwista yang ada. “Masyarakat wajib memelihara lingkungan, kalau perilaku ini diatur dalam ketentuan adat atau awig-awig, maka kesuksesan lebih terjamin tercapai,” katanya.

Agung Prana menyebutkan apa yang dilakukan di Pemuteran di mana awig-awig mengatur tentang perlunya masyarakat menghormati dan melestarikan lingkungan. Penjagaan alam ditandai dengan kewajiban menjaga karang laut, melalui penjagaan yang ketat.

“Masyarakat menjaga kelestarian kekayaan karang laut dengan membentuk pecalang laut yang diatur dalam awig-awig,” kata Agung Prana.

Perilaku Positif

Dalam seminar terungkap bahwa perilaku positif masyarakat terhadap perkembangan pariwisata tampak pada masyarakat Beraban dan sekitarnya yang mengelola daya tarik wisata Tanah Lot dan masyarakat Desa Kutuh yang mengelola daya tarik wisata pantai Pandawa.

“Masyarakat Beraban mendukung berbagai program pengembangan Tanah Lot seperti dalam festival layang-layang dan pentas kecak 5000 beberapa tahun lalu. Lingkungan sekitar objek juga bersih, indah, pengunjung bertambah, income meningkat,” ujar Darma, Kaprodi S-2 Kajian Pariwisata Unud.

Sikap positif di kalangan masyarakat Kutuh, menurut Nyoman Tingkat, mulai tumbuh menyusul fakta bahwa mereka mulai dapat menikmati penghasilan dari pariwisata. “Masyarakat tidak lagi membayar iuran untuk biaya upacara di pura yang ada di desa,” ujar Tingkat, sambil menambahkan di sana ada 14 pura yang hampir setiap bulan melaksanakan upacara secara bergiliran sesuai siklusnya.

Bea Siswa

Pengelola Pantai Pandawa juga memberikan beasiswa kepada siswa dan mahasiswa setempat, sebagai upaya untuk penguatan SDM lokal. “Ini adalah menumbuhkan sikap positif terhadap potensi pariwisata yang ada karena ke depannya generasi muda itulah yang akan merawatnya,” ujar Tingkat, salah seorang pengurus desa setempat.

Di Ceking, beberapa konflik yang sempat muncul sudah dicarikan solusi buktinya petani pemilik sawah berundak yang menjadi daya tarik wisata di sana sudah mulai mendapat income reguler setiap bulan.

“Sebelumnya hanya disepakati Rp 500 ribu per bulan per petani untuk tujuh petani, lalu dinaikkan menjadi Rp 2 juta per bulan,” ujar Fatrisia.

Simpulan dari seminar tertangkap dari pernyataan Agung Prana yang mengatakan bahwa pengelolaan daya tarik wisata berbasis masyarakat diarahkan pada pelibatan masyarakat agar masyarakat menikmati hasil pengelolaa sehingga tumbuh rasa memilliki (sense of belonging) pada daya tarik yang dikembangkan.

“Semua harus dilakukan secara tulus, sincere, seperti yang kami lakukan di Pemuteran,” tambah Agung Prana.