Merasakan Suasana Tri Hita Karana di Agrowisata

Oleh I Made Agus Wiguna, Angkatan 2015

agro

Suasana spiritual berpadu dengan pesona alam dan perkebunan di Bagus Agro Pelaga.

Pengalamam yang kami dapatkan pada hari itu sangat berharga di mana konsep Pariwisata Budaya berbasis kerakyatan yang berlandaskan Tri Hita Karana dapat kami lihat dan rasakan langsung di Bagus Agrow Pelaga.

Kunjungan ke Bagus Agro berlangsung Jumat 28 Agustus 2015. Kami rombongan mahasiswa Magister Kajian Pariwisata Unud angkatan 2014 dan 2015 ditemani para dosen melakukan studi lapangan ke Bagus Agrowisata  sebagai salah satu bagian dari matrikulasi bagi mahasiswa baru angkatan 2015.

Para rombongan telah berkumpul di Gedung Pasca Sarjana Unud pada jam 07.00 pagi. Dimulai dengan persembahyangan bersama di pura merajan kampus, rombongan melakukan foto bersama didepan gedung pasca sarjana Unud dan kemudian mulai memasuki bus pariwisata yang telah siap sedia mengantarkan ke Bagus Agrowisata Pelaga.

Perjalanan dimulai dari pukul 07.30 pagi dan tiba dengan selamat di Bagus Agro Pelaga pada pukul 09.30.

Juice Menyegarkan

Rombongan disambut dengan welcome drink berupa mix juice strawberry dan tamarillo yang menyegarkan di cuaca yang dingin Desa Pelaga. Bapak Bagus Sudibya selaku pemilik beserta keluarga memberikan sambutan kemudian memperkenalkan kami pada ‘Agro Manager’ Bapak Sumerta yang nantinya akan menjadi pemandu kami di Bagus Agro Pelaga.

Perjalananpun dimulai, kami diajak berkeliling dan dijelaskan tentang Bagus Agrowisata Plaga yang dipenuhi oleh tanaman – tanaman yang tumbuh tanpa menggunakan bahan kimia sehingga menjadi bahan makanan organik yang siap digunakan untuk keperluan restoran hotel. Tanaman tanaman yang dapat dijumpai antara lain asparagus, jeruk, sayur hijau, brokoli, dan sayur kol ungu.

Kami diperkenalkan oleh salah satu pekerja yang bernama Pak Isman. Dijelaskan bahwa 80% pekerja yang dipekerjakan di Bagus Agrowisata Pelaga ini diambil dari tenaga kerja lokal.

Di areal perbukitan seluas 18 hektar ini telah disulap menjadi sebuah Agrowisata yang sengaja disiapkan oleh pemiliknya untuk melayani para wisatawan dengan fasilitas-fasilitas, seperti 14 villas, restaurant, meeting room ditambah dengan areal pertanian yang luas.

Kami berhenti di salah satu areal pertanian yang ditumbuhi dengan tanaman asparagus. Tanaman yang berasal dari Eropa ini bernama latin Asparagus Officinalis yang cocok tumbuh pada suhu 25oC di tanah pasir atau pasir berdebu.

Hasil Asparagus

Bapak Sumerta sebagai Agro Manager menjelaskan bahwa asparagus ini merupakan salah satu komoditi utama di Desa Pelaga ini. Dijelaskan bahwa dengan memiliki areal pertanian seluas ½ hektar saja mampu mendapatkan penghasilan sebesar Rp 15 juta per bulan. Bisa dibayangkan apabila luas tanah yang dimiliki berhektar-hektar tentu saja penghasilan yang didapatkan akan sangat jauh lebih besar.

Bibit asparagus didapatkan dari Taiwan dan sumber air diambil dari perairan desa. Untuk pendistribusian disalurkan ke seluruh Bagus Group yang ada di Bali. Contohnya disalurkan ke Bagus Jati yang berlokasi didaerah Tegallalang, Gianyar. Ada pula koperasi yang direkomendasi oleh Pemerintah Kabupaten Badung sebagai saluran distribusi penjualan hasil panen.

Budi Daya Mawar

Selain sayur-sayuran, di Bagus Agrowisata Pelaga terdapat juga pembudidayaan mawar yang menghasilkan 3 (tiga) jenis bunga mawar, yaitu: Mawar Merah, Mawar Merah Muda (pink) dan Mawar putih. Dari ketiga mawar tersebut yang merupakan favorit dan paling laris di pasaran adalah mawar putih. Harga mawar pertangkai dijual seharga lima ribu rupiah. Masalah yang sering melanda pembudidayaan mawar ini adalah ‘Embun Tepung’ yang mengakibatkan kerusakan pada kelopak bunga, tapi kendala ini bisa diatasi dengan menyediakan insect net yang melindungi tanaman bunga mawar dari masalah tersebut.

Di sebelah areal tanaman bunga mawar terdapat areal untuk tanaman bassil, paprika dan strawberry yang juga dilindungi dengan insect net sebagai pelindung dari hama. Kemudian kami berjalan menuruni jalan perbukitan yang sedikit terjal ke sebuah bangunan yang digunakan untuk pengolahan kopi secara tradisional dimana terdapat kompor yang menggunakan kayu bakar sebagai sumber apinya.

Bapak Sumerta juga menjelaskan bahwa di areal Bagus Agrowisata Pelaga yang seluas 18 hektar ini juga terdapat 3 buah Pura, yaitu: Pura Desa, Puseh, dan Pura Beji lengkap dengan pesiramannya. Sebagaimana kita tahu Pura adalah tempat suci Agama Hindu yang selalu dijaga kesuciannya.

Tri Hita Karana dan Agrowisata

Setelah puas berkeliling kami kembali berjalan keatas menuju meeting room tempat Bapak Bagus Sudibya beserta keluarga dan para dosen Unud telah menunggu untuk presentasi. Waktu menunjukkan pukul 11.00 ketika Pak Bagus Sudibya memulai presentasinya yang berjudul ”Bagus Agro Pelaga, an agricultural tourism destination”.

Konsep Tri Hita Karana dapat dilihat dan dirasakan di Bagus Agrowisata Pelaga ini, di mana hubungan antara manusia dengan manusia (80% pekerjanya merupakan tenaga kerja lokal), hubungan manusia dengan alam (keasrian lingkungan areal bagus agrowisata) dan hubungan manusia dengan Tuhannya (terdapat 3 buah Pura diareal ini dimana Pura adalah tempat suci umat Hindu tang selalu dijaga kesakralannya).

Presentasi berlangsung selama satu jam hingga pukul 12 siang, kemudian Kepala Prodi Magister Kajian Pariwisata Pak Darma Putra selaku moderator memberikan kesempatan kepada Pak Al Puwa, Direktur KCB Tour & Travel, yang kebetulan teman akrab Bagus Sudibya, untuk memberikan sambutan selama kurang lebih 2,5 menit kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan ditutup dengan penyampaian kesan dan pesan dari Karyasiswa S2 Pariwisata yang diwakili oleh Bala Putra.

Pukul 12.30 siang rombongan diajak untuk menikmati santap siang yang bahan makanannya didapat dari hasil panen Bagus Agrowisata Pelaga.

Seusai santap siang, rombongan melakukan sesi foto bersama, kemudian menuju bus untuk kembali menuju kampus Pascasarjana Unud di Denpasar. ***

Email aguswiguna@yahoo.com