Menyelaraskan Branding Individu dengan Kolektif Pariwisata Bali

Catatan Ni Putu Diah Prabawati, Angkatan 2015, email: prabadiah@gmail.com

Dr. Nyoman Madiun (moderator), Ibu Made, dan Prof Darma Putra dalam seminar branding di Unud, dalam rangka perayaan Dies Natalis Unud ke-53 (Foto Ary Bestari)

Dr. Nyoman Madiun (moderator), Ibu Made, dan Prof Darma Putra dalam seminar branding di Unud, Jumar, 2 Oktober 2015, dalam rangka perayaan Dies Natalis Unud ke-53 (Foto Ary Bestari)

Jika menelisik kepada tema seminar dengan kata kunci branding, maka pertanyaan yang timbul adalah bagaimana menyelaraskan branding individu yang mencuat dari tiap-tiap usaha atau atraksi wisata yang ada, dengan branding kolektif pariwisata Bali.

Berbicara mengenai branding sangat erat kaitannya dengan pemasaran. Sasaran akhir dari proses pemasaran adalah kepuasan tamu. Di dalam pemasaran terdapat dua pemeran yaitu Actor pemasaran atau marketers yang dalam hal ini adalah Bali dan Client yaitu wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Terdapat dua strategi pemasaran. Pertama, sesuai dengan keinginan diri sendiri. Kedua, mampu menarik keinginan untuk datang, tertanam sesuatu di benak konsumen mengenai barang/destinasi yang ingin dikunjungi. Oleh karena itu, branding memiliki makna yang amat mendalam di benak tamu yang akan berdampak pada keputusan untuk membeli suatu barang/ jasa.

Usaha Lokal

Di Bali terdapat usaha-usaha lokal yang dirintis dan dimiliki oleh orang Bali asli, seperti salah satunya usaha di bidang kuliner yang tetap eksis menjadi salah satu tempat favorit para wisatawan internasional adalah Warung Made di Seminyak, Kuta.

Usaha yang dirintis oleh putri Bali ini yaitu Ibu Made Masih yang pada umur 60 tahun masih tetap menekuni usaha yang ia rintis dari nol sehingga menjadi sedemikian terkenal. Sesudah 46 tahun langsung bersentuhan dengan pariwisata tidak menjadikan ibu ini lupa akan adat Bali terlebih beliau menjalani kesaharian dalam berjualan menggunakan prinsip-prinsip budaya Bali.

Adapun resep dari kesuksesan beliau adalah Komitmen dan Konsisten. Bukan hal yang sulit bila dipikirkan tetapi merupakan hal yang sulit untuk di aplikasikan. Komitmen di implementasikan dengan tetap bertahan di gempuran pesaing dan Konsisten diaplikasikan dengan menjaga kualitas dari barang dan jasa.

Bertahan dengan slogan “Tamu adalah Raja” Ibu Made Masih masih turun tangan dengan langsung ikut melayani tamu sehingga ada kesan kekeluargaan dan sesekali memberikan diskon kepada tamu sebagai bentuk menyame braya.

Branding yang diimplementasikan oleh warung Made terlihat dari layout warung yang memiliki cirri khas sehingga memiliki gambaran yang jelas di benak tamu. Word of Mouth (WoM) masih menjadi pilihan Warung Made dalam melakukan proses promosi di tengah gempuran media sosial.

Tidak ada kekhawatiran dalam mengadapi MEA karena yakin dapat bersaing dan tetap memiliki konsistensi dan komitmen untuk memuaskan tamu. Wujudkan ramah tamah yang berbeda yang membuat tamu tersentuh agar kembali membeli dan menjadi advocate customer. Pesan dari Ibu Made Masih yaitu Go on with your belief.

“Ketiga di Dunia”

Mr. Joger yaitu Joseph dan Geradh, wirausaha ini sudah tidak diragukan lagi yaitu pabrik kata-kata ketiga di Dunia dengan kata-kata menyesatkan ke jalan yang benar. “Pabrik kata-kata pertama dan kedua tidak ada…” ujarnya bergurau.

Ada dua pasang sikap yang harus dilakukan yaitu: Japertuja adalah ‘jangan percaya begitu saja’ dan Jatipertuja adalah ‘Jangan tidak percaya begitu saja’.

Mr. Joger menjalankan bisnis dengan menggunakan happy oriented. Happy oriented ini dapat terbentuk jika kita sebagai manusia/pelaku melakukan/menjalankan sesuatu dengan penuh rasa syukur. Menjalankan bisnis tidak hanya sekedar untuk mencari profit tetapi akan sebuah asa untuk merdeka.

Kagumi Ganesha

Mr. Joger sangat menggumi Ganesha dan memuja beliau sebagai pelindung. Filosofisnya ganesa memiliki mata yang sipit sehingga dapat melihat dengan fokus, perut yang besar agar bisa menampung semua alam semesta. Tikus yang berada di bawah Ganesha mensimbolkan keserakahan yang mana kata terlalu akan dapat menjadi boomerang tersendiri bagi seseorang.

Branding yang dibuat Mr. Joger yaitu kata-kata jorok, nakal, jenaka yang menggelitik sampai kritis. “Balinesia” merupakann branding yang dibuat oleh Mr. Joger yang berarti Bali tidak terpisahkan dari Indonesia.

Proses marketing dapat dilakukan dengan cara baik, legal dan senang. Hak cipta seseorang wajib kita hargai sebagai penghargaan atas karya. Bisnis yang melakukan kecurangan akan cepat turun dan tidak memunculkan ide kreatif melainkan meniru/ menjiplak karya seseorang tidak bisa diindahkan.

Seorang pengusaha tidak pernah takut untuk bersaing karena pengusaha yang benar-benar kreatif bersaing dengan dirinya sendiri. Nasihat hidup yang diberikan oleh Mr. Joger adalah ketika sebagai seorang orang tua kita berpikir untuk masa depan anak yang cerah dan lebih baik dengan cara bekerja keras akan tetapi kita sering sekali mengabaikan masa kini yang mana tidak akan pernah bisa ditebus dimasa yang akan datang.

Brand Bermakna Mendalam

Branding yang dipaparkan oleh Dr. Putu Saroyeni sangat menukik kepada penjabaran brand sebagai brand bounding atau brand identification. Sebuah brand memiliki arti yang sangat mendalam atas suatu produk.

Value suatu brand dapat lebih mahal dibandingkan dengan harga pokok atas barang/perusahaan. Prof. Gde Pitana memberikan ilustrasi tentang pentingnya nilai sebuah brand dengan menyebutkan sebuah sepatu yang branded, Nike, yang harga produksinya hanhya 40% daripada harga jual. Hal ini menunjukkan brand yang dibangun sangat kuat dan kemudian diakui oleh pasar memiliki ke khasan tersendiri dan merasa sangat bangga jika tampil menggunakan produk Nike.

Lebih jauh, Saroyeni menjelaskan bahwa sebuah Brand is not only name, a logo, a color scheme. Brand merupakan kombinasi kompleks dari suatu barang/ jasa/produk dan terdapat beberapa aspek di dalamnya yaitu: attribute, benefit, values, culture, personality dan user. Aspek-aspek ini saling memilki keterkaitan atas penciptaan suatu brand. Menciptakan brand adalah menyatakan “beda di lingkungan, tidak mudah dikenali, kegigihan dari keyakinan, berdiri di atas value kita”.

Diagonal Praktisi dan Akademisi

Prof. Dr. Pitana, M.S berusaha untuk menggabungkan pemikiran atas praktisi dan akademisi secara diagonal. Bali sebagai destinasi pariwisata lebih dikenal oleh wisatawan mancanegara dibandingkan Indonesia.

Mengapa demikian? Karena Bali sudah memiliki brandnya sendiri. Indonesia menduduki peringkat ke 36 di Brand kawasan Asia. Wisatawan yang berkunjung ke Bali kerap kali memberikan brand itu sendiri atas apa yang dirasakan selama di Bali.

Brand merupakan rasa yang kita rasakan. Branding memiliki Roh representasi dari jasa dan produk. Indonesia memiliki Branding “Wonderfull Indonesia” akan tetapi Indonesia kurang dikenal di pasar internasional.

Selama ini tidak memiliki identitas yang jelas. Kalah terkenal disbanding Bali. Jarang tampil di media internasional. Orang Indonesia saja sedikit yang tahu. Wonderful Indonesia akan berubah sesuai dengan bahasa lokal dimana ia akan dipromosikan. Tidak hanya Indonesia akan tetapi kota-kota tingkat dua juga memiliki brandnya tersendiri. Hal ini dikarenakan agar wisatawan lebih cepat untuk mengidentifikasi keunikan/keunggulan potensi wisatanya.

Terdapat beberapa gambaran yang konsumen dapat bayangkan jika ingin berkunjung ke suatu destinasi sepeti : SOLO dengan Soul of Java, Sparkling Surabaya, Bali dengan Shanti, Shanti, Shanthi.

Konsep PDB dalam marketing yang dapat diaplikasikan dalam membangun suatu brand yaitu : Positioning yang bersifat Strategi dengan fokus konsumen. Differentiation dengan sifat Taktikal yang berfokus pada produk. Branding yaitu sifatnya membangun suatu value/reputasi dengan fokus persepsi/citra. Branding menghubungkan antara strategi dan taktik serta antara konsumen dan produk.

Branding merupakan bagian dari promosi. Implementasi strategi placement berdasarkan konsep “POS” yaitu Paid, Owned, Social. Paid dengan target prospects, Owned dengan target customes, Social dengan target Advocates.

Aksioma yang terbentuk adalah Brand is most expensive. Marketing merupakan kebohongan yang diulang-ulang sehingga menjadi konsisten image di benak tamu. Mengubungkan secara diagonal berarti menggabungkan aspek mikro dan makro sehingga berelaborasi menjadi satu kesatuan membangun suatu branding.