Menyaksikan Malam Obituari Maestro Tari Bali Oka Blangsinga pada Hari Tari Dunia

Catatan Tomi Agfianto, Angkatan 2016

Tari Kebyar duduk yang biasa ditarikan Oka Blasinga, malam itu dipentaskan cucunya, Gek Nia (foto-foto Tomi).

Pariwisata budaya yang menjadi label Bali, banyak berutang budi pada seniman. Dari para penari, penabuh, pelukislah, citra pariwisata budaya Bali tumbuh unik dan kuat.  Jasa mereka pantas diapresiasi.

Malam itu, Sabtu 29 April 2017, bertepatan dengan peringatan Hari Tari Dunia, penulis beruntung bisa menghadiri dan menikmati pertunjukan tari dalam acara “Obituari Maestro Tari Ida Bagus Oka Blangsinga” di Bentara Budaya Bali. Pada malam kenangan untuk maestro itu, diputar film dokumenter Oka Blansinga, berdurasi sekitar 15 menit.

Oka Blangsinga adalah seorang yang sangat ahli di bidang seni tari dan berkat kegemarannya dalam tari mengantarkan beliau dikenal oleh dunia internasional. Berbagai penghargaan beliau capai semasa hidupnya. Undangan kenegaraan tidak pernah terlewatkan untuk beliau. Pentas-pentas Sang Maestro adalah bagian penting dari promosi pariwisata Bali.

Oka Blasinga, foto dokumen.

Tahun 1950-an, Oka Blangsinga secara regulr menari di Hotel Segara Village, Sanur, dalam acara ‘Bali Night’. Pementasan itu, menjadi model dari pertunjukan seni dalma konteks pariwisata. Jasa Oka Blasinga tercatat di berbagai lini, apalagi dia menari sampai usia uzur. Penampilannya selalu memukau.

Tumbuh Sejak Kecil

Kegemarannya menari sudah tumbuh sejak beliau duduk di Sekolah Dasar milik Belanda waktu itu di Kabupaten Tabanan. Gus Aji sapaan beliau, terinspirasi oleh I Ketut Marya (Mario), sang legendaris tari bali klasik dari tabanan, sewaktu tampil dipanggung.

Dengan sangat antusias Oka, panggilan sewaktu kecilnya, mengamati dan menghafalkan setiap gerak yang dibawakan. Tetapi sangat disayangkan belum sampai beliau berguru pada sang legendaris, Jepang menduduki Pulau Bali dan membubarkan sekolah dasar yang beliau ikuti dan mengharuskannya untuk kembali ke Gianyar. Dengan bekal apa yang beliau lihat akhirnya Gus Aji belajar otodidak di rumahnya.

Sebagai Penari yang karismatik, Ida Bagus Oka Blangsinga, selalu berpesan terhadap generasi muda yang ingin berkiprah di dunia tari bali klasik untuk tidak mencampur aduk setiap gerakan-gerakan tari yang sudah menjadi pakemnya. Jangan sesekali mencampurkan unsur kontemporer atau gerakan tari lain yang tidak merepresentasikan budaya bali agar ciri khas bali selalu tampak pada tarian tersebut.

Agar Berkarisma

Beliau juga menekankan agar selalu ingat kepada Tuhan YME di setiap kegiatan menari dengan cara mengirimkan doa dan membakar dupa perlengkapan doa agar si penari bisa mentaksu (berkarisma) pada saat membawakan tariannya.

“Inilah yang dewasa ini mulai pudar dan ditinggalkan oleh generasi muda apabila mereka tampil, jarang sekali mereka meminta ijin kepada Tuhan,” ujarnya.

Salah satu karya cipta sang Maestro adalah Tari Kebyar Duduk gaya Blangsinga yang secara langsung pada malam obituari itu ditampilkan oleh cucu beliau yaitu Gek Nia. Tari ini mengambil tema pewayangan Ramayana dengan cerita prajurit Prabu Rama yaitu Angkara duta dalam kepiawaiannya melepaskan diri saat ditawan oleh Raja Rahwana.

Seperti nama tarian itu sendiri 75% tarian tersebut dibawakan dengan posisi duduk dan meliuk-liukan badan dan memainkan pergerakan mata yang detail. Selain tari kebyar duduk dalam pertunjukan itupun menampilkan Tari Baris dengan cerita keahlian prajurit perang masa kerajaan di Bali yang dibawakan langsung oleh murid dari Sang Maestro Ida Bagus Oka Blangsinga.

Tari Baris, memeriahkan malam obituari.

Hari Tari Dunia

Acara ini pun bertepatan dengan hari Tari Dunia yang diperingati setiap tanggal 29 April sekaligus menginformasikan bahwa saat ini keluarga besar Griya Blangsinga telah mendedikasikan dirinya dalam tradisi seni tari dengan membentuk Yayasan Ida Bagus  Oka Blangsinga dimana yayasan tersebut bergerak dibidang pelestarian budaya tari bali klasik dan membuka kursus tari bagi generasi muda apabila ingin mempelajarinya.

Salah satu daya tarik wisata Bali adalah kebudayaan yang tetap harmonis dan terjaga meskipun moderenitas sudah tidak bisa dicegah lagi. Penulis berharap semoga budaya dan tradisi yang sudah ada sejak jaman dahulu mampu menjadi identitas bangsa dan mampu bersaing dalam kanca internasional sekaligus mampu memberikan sumbangsihnya dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing di Indonesia.

Selamat Hari Tari Dunia – 29 April 2017