Mahasiswa Kajian Pariwisata Unud Mendalami Pariwisata Berbasis Masyarakat di Monkey Forest Ubud

Wisatawan rileks bercanda dengan monyet di Monkey Forest Ubud (Foto-foto Diah Suthari)

Wisatawan rileks bercanda dengan monyet di Monkey Forest Ubud (Foto-foto Diah Suthari)

Mahasiswa Program Studi Magister Kajian Pariwisata Unud melakukan studi lapangan ke Monkey Forest, Ubud, Sabtu 19 November 2016. Tujuannya adalah untuk mengenal community based tourism (pariwisata berbasis masyarakat) atau CBT model Ubud. Sebelumnya, mahasiswa juga pergi ke Desa Kutuh, Kuta Selatan, mendalami model CBT Pantai Pandawa.

Studi lapangan ke Monkey Forest diikuti 40 mahasiswa termasuk empat mahasiswa internasional dari Jerman, dibimbing oleh dosen Prof. I Nyoman Darma Putra. Di ke Monkey Forest, mahasiswa mendapat kesempatan berdiskusi dengan Nyoman Buana, General Manager Monkey Forest Ubud.

Nyoman Buana menjelaskan sejarah ringkas Mandala Suci Wenara Wana (lebih dikenal dengan nama Monkey Forest) adalah warisan dari abad ke-11, sebagai tempat perburuan raja di era Dalem Balingkang. Pesan leluhur adalah agar hutan ini dijaga lestari.

General Manager Monkey Forest Ubud, Nyoman Buana memberikan penjelasan tentang Community Based Tourism model Monkey Forest Ubud.

General Manager Monkey Forest Ubud, Nyoman Buana memberikan penjelasan tentang Community Based Tourism model Monkey Forest Ubud.

Filosofi Tri Hita Karana

Nyoman Buana menjelaskan bahwa Monkey Forest dikelola dengan filosofi Tri Hita Karana yaitu menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan karena di kawasan ini ada tiga tempat suci, dengan masyarakat sebagai pemilik daya tarik wisata, dan dengan alam (hutan dan monyet).

Awalnya, Monkey Forest Ubud mulai dikunjungi wisatawan adalah sekitar tahun 1970-an, seiring dengan mulainya tourist rame datang ke Ubud. Melihat potensi ekonomi yang ada, menurut Nyoman Buana, dibentuklah Badan Pengelola pada tahun 1988. “Pemerintah tidak ikut campur tetapi memberikan pengelolaan sepenuhnya kepada kami,” ujar Nyoman Buana. Pegawai yang bekerja berasal dari warga Desa Padangtegal. Total karyawan adalah 90-an orang.

Pura Dalem Agung Padangtegal di latar belakang.

Pura Dalem Agung Padangtegal di latar belakang.

Luas hutan Monkey Forest sekitar 12,5 hektar dengan populasi kera 678 ekor. “Kera makan tiga kali sehari utamanya ketela, pisang, jagung, juga buah-buah sesuai musim,” ujar Nyoman Buana. Dua kali seminggu, monyet mendapat hidangan ‘salad’ berupa daun pepaya. Pengunjung dilarang memberikan makanan yang dibawa dari luar.

Pengelola menata landscape jalan setapak dengan baik sehingga wisatawan bisa santai melenggang sambil melihat monyet di kiri-kanan. Jalan setapak dijaga bersih petugas penyapu. Toilet disiapkan dalam keadaan bersih. “Untuk memuaskan pengunjung dan agar kami bisa bersaing,” ujar Nyoman Buana, mengomentari strategi pengelolaannya.

Pengelola menjaga dengan baik agar tidak sampai ada tamu komplin, agar tidak ada yang menulis hal negatif di internet. “Syukurlah, sejauh ini, komentar tamu di sosial media sangat positif,” ujar Nyoman Buana.

Penataan asri alami jalan setapak Moneky Forest membuat wisatawan nyaman berkunjung.

Penataan asri alami jalan setapak Monkey Forest membuat wisatawan nyaman berkunjung.

Pengunjung Tiap Hari

Monkey Forest Ubud dikunjungi antara 1000-2000 wisatawan setiap hari. Tahun 2015 total pengunjung mencapai 383.803 turis, sebagian besar (95%) adalah wisatawan asing. Tahun 2016, sampai bulan Oktober, angka kunjungan sudah mencapai 481.083 orang.

Mulai tahun 2016 ini, harga tiket masuk ditetapkan Rp 40.000, sudah termasuk ongkos parkir. Dengan pengelolaan yang baik, daya tarik wisata ini bisa mendapat income milyaran rupiah per tahun.

Pendapatan itu disetor ke khas desa, setelah dipotong untuk pajak pemerintah sebesar 12% dan biaya operasi. Biaya operasi selain gaji pegawai, juga biaya untuk makanan kera setiap hari.

Hasil pengelola daya tarik wisata juga digunakan untuk pembangunan desa dan kesejahteraan masyarakat, mulai dari dana untuk upacara (piodalan), bantuan dana bagi warga untuk pelaksanaan kremasi (senilai harga satu ton beras), dana beasiswa bagi yang memilih program studi tertentu seperti fakultas kedokteran hewan, pertanian, kehutanan, perkebunan, dan MIPA khususnya jurusan biologi, untuk kemudian akan ditampung bekerja sebagai pengelola.

Desa Pakraman juga menyediakan fasilitas klinik kesehatan gratis untuk masyarakat. Dananya diambil dari hasil pengelolaan Monkey Forest.

Daya tarik Monkey Forest Ubud memiliki beberapa strong point, yaitu lokasinya terletak di daerah wisata, monyet relatif jinak tidak agresif, pepohonan beragam sekitar 186 jenis yang membuat hutan indah.

Turis riang bercanda dengan monyet, sementara petugas menyiapkan makan siang berupa ketela.

Turis riang bercanda dengan monyet, sementara petugas menyiapkan makan siang berupa ketela.

Contoh CBT

Perwakilan mahasiswa Ida Ayu Dyana Prawerti menyampaikan terima kasih kepada pengelola yang telah berbagi informasi dan model pengembangan pariwisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism, CBT) model Monkey Forest Ubud.

Dosen pembimbing Nyoman Darma Putra mendorong mahasiswa untuk menulis tesis tentang  Moneky Forest. “Banyak aspek bisa ditulis, mulai dari kepuasan pengunjung, manajemen model CBT, Moneky Forest sebagai ekowisata, strategi pengembangan, dan seterusnya,” ujar Darma Putra.

Mahasiwa Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud sesaat setelah menggali pengetahuan tentang CBT di Monkey Foret Ubud.

Mahasiwa Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud sesaat setelah menggali pengetahuan tentang CBT di Monkey Foret Ubud.

Darma Putra mengutip penjelasan Nyoman Buana bahwa pengelola secara sadar mengembangkan Monkey Forest selain sebagai daya tarik wisata juga sebagai media pendidikan.

“Sudah ada sarjana asing riset di Monkey Forest untuk meraih gelar doktor, saatnya mahasiswa Unud juga datang meneliti, untuk mempelajari berbagai aspek daya tarik wisata Monkey Forest,” uajr Darma Putra, yang belum lama lalu menyunting buku Pariwisata Berbasis Masyarakat Model Bali (2015).