Mahasiswa Kajian Pariwisata Unud Studi tentang Pariwisata Berbasis Masyarakat ke Monkey Forest Ubud

Kunjungan ke Monkey Forest, Jumat, 1 Desember 2017.

Mahasiswa Program Studi Magister Kajian Pariwisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana, melakukan studi lapangan ke daya tarik wisata Monkey Forest, Ubud, Jumat, 1 Desember 2017.

Kunjungan ini bertujuan untuk mendalami ihwal Community Based Tourism (Pariwisata Berbasis Masyarakat) atau CBT.

Sebanyak 44 mahasiswa ikut dalam studi lapangan tersebut didampingi Kaprodi Magister Kajian Pariwisata, Prof. I Nyoman Darma Putra. Dalam kunjungan itu, rombongan mendapat ceramah dan berdiskusi dengan General Manager Monkey Forest, I Nyoman Buana.

General Manager Monkey Forest I Nyoman Buana (kiri) dan Kaprodi Magister Kajian Pariwisata Unud Prof. I Nyoman Darma Putra.

“Mahasiswa kami ingin mendengar langsung, pejelasan model community based tourism di Monkey Forest,” ujar Darma Putra, yang tahun sebelumnya juga mengajak mahasiswa ke Monkey Forest.

Ceramah dan Diskusi

Dalam ceramahnya, I Nyoman Buana menjelaskan sejarah berdirinya Monkey Forest, perkembangannya menjadi daya tarik wisata, dan berbagai kendala yang dihadapi dan solusi yang dijadikan dasar pengembangan, serta peran masyarakat dalam pengelolaan Monkey Forest.

Monyet di Monkey Forest Ubud.

Monkey Forest adalah daya tarik wisata yang dimiliki dan dikelola oleh Desa Adat Padangtegal, Ubud. Karyawan adalah warga setempat dan hasil pengelolaan diserahkan kepada desa adat untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah tidak ikut serta dalam pengelolaan, sepenuhnya ditangani masyarakat lewat manajemen yang dibentuk.

Mahasiswa yang ikut studi lapangan ke Monkey Forest.

Tujuh Ratusan Ekor

Nyoman Buana menyampaikan bahwa menurut sensus yang dilaksanakan Juli 2017, jumlah monyet di Monkey Forest adalah 731 ekor. Luas hutan Monkey Forest termasuk tempat parkir adalah 12,5 ha.

Monyet di Monkey Forest, menurut Nyoman Buana, termasuk monyet berekor panjang.

GM Monkey Forest I Nyoman Buana saat memberikan ceramah.

“Bukan ekornya yang panjang dalam arti sebenarnya tetapi ukuran ekornya lebih panjang dibandingkan panjang tubuhnya,” ujar Nyoman Buana. Monyet di sini bernama Latin macca fascicularis.

Kunjungan Wisatawan

Karena lokasinya yang strategis di daerah wisata Ubud, Monkey Forest memikat kunjungan banyak wisatawan. Rata-rata kunjungan dalam satu hari adalah 3000 orang, kalau musim ramai bisa 4000 per hari, dan pernah saat liburan Lebaran dan Imlek yang datang berdekatan, pengunjung mencapai 5000 orang.

Wisatawan yang berkunjung ke Monkey Forest.

Harga tiket masuk dibedakan menurut turis asing, domestik, turis lokal Bali (dibuktikan dengan KTP), pelajar, dan anak-anak. Untuk turis internadional dan domestik tiketnya Rp 50,000; anak-anak Rp 40,000, untuk pengunjung ber-KTP Bali Rp 30,000.

Tiket tersebut sudah termasuk ongkos parkir, asuransi, dan semua jenis hospitalitas selama wisatawan berkunjung di Monkey Forest.

“Kalau ada tamu yang kaca matanya diambil monyet, pemandu kami yang akan mengambilkannya. Kebijakan kami, karyawan tidak boleh menerima tip,” ujar Nyoman Buana.

Mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata, Yuta Gocho, asal Jepang saat diskusi.

Di dalam Monkey Forest tidak dibolehkan jasa fotografer keliling agar tamu tidak terganggu. “Lagi pula turis sudah bawa kamera masing-masing,” ujarnya.

Milik Masyarakat

Pendapatan dari Monkey Forest digunakan untuk pengelolaan/manajemen, membayar pajak ke pemerintah Kabupaten Gianyar 12,5%, dan selebihnya diserahkan kepada desa adat sebagai pemilik daya tarik wisata.

“Desa menggunakan untuk membiayai upacara, membantu warga melaksanakan kremasi, dan juga untuk beasiswa warga,” ujar I Nyoman Buana.

Cika saat tanya jawab.

Monkey Forest mempekerjakan warga lokal sekitar 146 karyawan. Mereka diseleksi sesuai dengan kebutuhan dan keterampilan.

“Kami juga mendorong dan membiayai karyawan untuk belajar bahasa asing, Inggris dan lainnya untuk kepentingan pelayanan,” ujar Nyoman Buana.

Topik Diskusi

Dalam diskusi, mahasiswa membahas berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan wisata Monkey Forest berbasisw masyarakat. Ada juga yang bertanya mengenai perilaku kera, perilaku wisatawan, dan strategi pengembangan Monkey Forest untuk dapat bersaing dengan daya tarik wisata sejenis lainnya di Bali.

Yuni Sulpia saat tanya jawab.

Menjawab berbagai pertanyaan dalam diskusi yang berlangsung dua jam penuh, Nyoman Buana menyampaikan usaha-usahanya selaku bagian dari manajemen dalam meningkatkan fasilitas dan layanan.

“Kami juga menjaga kera-kera dengan baik. Makan pagi, siang, malam kami suguhkan baut monyet agar mereka happy,” ujar Nyoman Buana, alumnus Fakultas Pertanian Unud.

Rahman saat tanya jawab.

Dalam hal fasilitas, Monkey Forest Ubud tampak tampil prima dan berkualitas, seperti bisa diamati dari lobi, ruang tiket, fasilitas toilet, dan fasilitas lain di dalam objek.

Fasilitas toilet yang berkualitas tinggi.

Terima Kasih

Wakil mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata, I Nengah Laba menyampaikan terima kepada pihak manajemen Monkey Forest Ubud atas berbagai pengetahuan tentang pariwisata berbasis masyarakat (CBT) yang diberikan.

“Kami mendapat banyak pengetahuan. Apa yang kami pelajari mengenai CBT di kampus benar-benar diterapkan dalam pengelolaan Monkey Forest Ubud,” ujar Nengah Laba.

Penyerahan kenang-kenangan dari Kaprodi Prof Darma Putra kepada GM Monkey Forest I Nyoman Buana.

Kenangan Buku dan Lukisan

Sebagai tanda terima kasih, Kaprodi Prof. Darma Putra, menyerahkan kenang-kenangan berupa lukisan Monkey Forest yang dibuat oleh arsitek Prof. Syamsul Alam Paturusi sekaligus sekretaris Prodi Magister Kajian Pariwisata.

Selain itu, Darma Putra menyerahkan kenangan buku tentang Ubud berjudul Wisata Kuliner Atribut Baru Destinasi Ubud (2016) karya berdua Diah Sastri Pitanatri dan I Nyoman Darma Putra (dp)