Mahasiswa Baru Kajian Pariwisata Unud akan Studi Lapangan ke Warisan Budaya Dunia Jatiluwih

IMG_5532

Seorang pemandu wisata memberikan keterangan kepada wistawan di Jatiluwih (Foto Darma Putra, 2016)

Mahasiswa baru Prodi Magister Kajian Pariwisata Pascasarjana Universitas Udayana akan melakukan studi lapangan ke daya tarik warisan budaya dunia Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Jumat, 12 Agustus, selama sehari penuh. Kunjungan lapangan ini merupakan rangkaian dari progrma matrikulasi [JADWAL MATRIKULASI web doc]

Sekitar 60 orang akan ikut dalam studi lapangan ini terdiri dari 40 mahasiswa baru, mahasiswa lama, dosen, dan staff administrasi.

Kunjungan ke daya tarik wisata hamparan sawah berundak yang indah itu dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan matrikulasi untuk mahasiswa baru yang diberikan sebelum mulainya perkuliahan tahun ajaran baru, awal September.

Matrikulass merupakan kegiatan wajib mahasiswa untuk memperoleh penyetaraan pengetahuan tentang kepariwisataan sehingga mahasiswa siap untuk menerima perkuliahan.

“Matrikulasi diberikan selama seminggu, di akhiri dengan kunjungan ke lapangan sebagai aktivitas field study,” ujar Kaprodi Magister Kajian Pariwisata, Prof. I Nyoman Darma Putra, usai memimpin rapat panitia Matrikulasi, Senin (25 Juli 2016).

Dalam matrikulasi, mahasiswa juga diberikan ceramah tentnag proses pengusulan dan masa depan Warisan Budaya Dunia di Bali yang dilabel UNESCO dengan Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy.

IMG_5516

Hamparan sawah indah di Jatiluwih, bagian dari warisan budaya dunia UNESCO (foto Darma Putra, 016)

Pemilihan Jatiluwih

Pemilihan daya tarik wisata Jatiluwih sebagai objek untuk studi lapangan adalah karena daerah persawahan yang luas dengan paduan pemandangan gunung hijau merupakan warisan budaya dunia yang ditetapkan oleh UNESCO tahun 2012.

 Daerah yang masuk ke warisan budaya dunia lannskap budaya Bali adalah Subak dan Lanskap Catur Angga Batukaru di mana persawahan Jatiluwih termasuk di dalamnya, lalu Pura Taman Ayu ( Klick Taman Ayun), Lanskap dan Subak Daerah Aliran Sungai Pakerisan, Pura Ulun Danu Batur dan Danau Batur.

Sejak ditetapkan sebagai bagian dari warisan budaya dunia, kunjungan wisatawan ke daerah Jatiluwih meningkat tajam, demikian juga halnya dengan ke daerah lain seperti Pura Taman Ayun.

Kunjungan ke Jatiluwih meningkatkan pendapatan badan pengelola. Untuk pengelolaan yang baik, peningkatan angka kunjungan, dan pelayanan kunjungan ke Jatiluwih, di sana sudah dibentuk badan pengelola. Pendapatan dari daya tarik wisata ini dibagi untuk badan pengelola, biaya promosi, distribusi ke desa dan subak.

Ceramah dari Badan Pengelola

Selama di Jatiluwih, rombongan akan melakukan trekking di lintasan persawahan untuk menikmati pesona persawahan yang indah menawan. Acara dilanjutkan dengan ceramah dari dua narasumber setempat yaitu Manager Managemen Operasional DTW Jatiluwih I Nengah Sutirtayasa,S.E dan Pekaseh Subak Jatiluwih I Nyoman Sutama,B.Sc. Ceramah dilanjutkan dengan diskusi.

Rombongan berangkat dari kampus Unud Sudirman, pk. 07.00. Keberangkatan dipilih agak pagi agar trekking bisa dilaksanakan sebelum matahari menyengat.

 “Tapi, di Jatiluwih udaranya sejuk selalu, trekking jam berapa saja enak dan segar,” ujar Dr. Syamsul Alam Paturusi, Sekretaris Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud ( Kunjungan 2014).

Menurut Syamsul, dua tahun lalu, Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud juga melakukan studi lapangan ke Jatiluwih. Selain baik untuk rekreasi, juga bagus untuk menimba pengetahuan kepariwisataan, apalagi Jatiluwih adalah warisan budaya dunia.