Magister Kajian Pariwisata Unud “Study Tour” ke Komodo

Gerbang Pulau Komodo.

Gerbang Pulau Komodo.

Sebanyak sepuluh orang mahasiswa magister (S-2) Kajian Pariwisata Universitas Udayana mengadakan study tour ke Kepulauan Komodo, 15-17 April 2015. Rombongan dipimpin oleh dua dosen yaitu I Nyoman Darma Putra dan Syamsul Alam Paturusi.

Study Tour ini merupakan bagian dari mata kuliah wajib Travelling. “Pulau Komodo dipilih sebagai tujuan study tour karena pulau merupakan destinasi wisata yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan alam dunia,” Darma Putra.

Pilihan study tour lainnya adalah ke luar negeri, diisi dengan kunjungan ke warisan budaya UNESCO, atau diisi dengan seminar, seperti yang dilakukan ke Korea September 2014.

Perjalanan ke Komodo dari Bali ditempuh dengan penerbangan selama sekitar 85 menit dari Bandara Ngurah Rai menuju Bandara Komodo di Labuan Bajo. Dalam penerbangan, pesawat melewati udara dari mana tiga gunung bisa dilihat yaitu Gunung Agung, Gunung Rinjani, dan Gunung Tambora.

Keindahan sudah terasa dalam perjalanan.

Wisaatwan berfoto di depan seekor komodo di Pulau Komodo.

Wisatawan berfoto di depan seekor komodo di Pulau Komodo (Foto-foto Darma Putra).

Dari bandara Komodo di Kabupaten Manggarai Barat (ibu kotanya Labuan Bajo), rombongan menuju pelabuhan Labuan Bajo untuk kemudian naik perahu ke kawasan kepulauan Komodo. Jaraknya dekat sekali, sekitar 4 km.

Tur ini ditangani oleh Ignas Suradin, anak muda Flores alumnus Fakultas Pariwisata Universitas Udayana. Jiwa wirausahanya tebal sekali, begitu juga profesionalismenya sehingga perjalanan study tour berjalan mulus dan menyenangkan.

Perjalanan Laut yang Nyaman

di Labuan Bajo, rombongan sudah dinanti oleh kapal, yang akan membawa mereka tur selama dua hari satu malam, termasuk tidur di kapal.

Ombak laut yang tenang membuat perjalanan saat itu berlangsung lancar dan nyaman. Pulau-pulau di sekitar laut yang hijau nampak indah.

“Pemandangannya luar biasa. Bukit dari pulau bercokol hijau. Lautnya bersih, pantai bersih bening,” tambah Darma Putra.

Kapal wisata menanti di Labuan Bajo untuk petualangan dua hari satu malam.

Kapal wisata menanti di Labuan Bajo untuk petualangan dua hari satu malam.

Pemberhentian pertama, mahasiswa mendapat kesempatan untuk rekreasi di pantai termasuk berenang dan snorkling. “Indah sekali alam bawah laut,” ujar Pika, salah seorang mahasiswa yang banyak menghabiskan waktu di pantai di desa kelahirannya di Karangasem, Bali.

Ketika mahasiswa rekreasi, kapten kapal dan awaknya menyiapkan makan siang. “Sajian makannya enak dan berkualitas. Ayam goreng kecap, dan telur rebus bumbu cabe sedap sekali,” cetus Pika.

Sore hari, rombongan menuju Pulau Rinca, tempat sekitar 2406 biawak komodo hidup secara liar. Di pulau Rinca juga ada monyet dan ular.

Bukit kepulauan yang indah.

Bukit kepulauan yang indah.

Dalam menelusuri jalur trekking di Rinca, mahasiswa diantar oleh pemandu lokal. Di Pulau Rinca, rombongan bisa melihat tujuh ekor komodo yang bermalas-malas di bawah rumah panggung, yang merupakan dapur. “Ada bau daging dari dapur, makanya komodo berkumpul di sana,” ujar seorang pemandu.

Komodo di Pulau Rinca.

Komodo di Pulau Rinca.

Rombongan mengambil jalur trekking yang medium, memasuki belukar dan sabana, dalam ketinggian. Dari bukit ini, pemandangan laut di bawah sangat memesona. “Kalau saat sunset, indahnya luar biasa,” cetus Meus, pemandu.

Sebelum senja turun, rombongan meninggalkan Pulau Rinca menuju Pulau Kalong, tempat belasan ribu kalong beterbangan ke luar dari sarang untuk mencari makan-malam ke Pulau Flores. Kelelawar ukuran agak besar itu bisa terbang sejauh 90 km untuk mencari makan, dan kembali menjelang fajar menyingsing. Setiap sore mereka bepergian, untuk kembali menjelang pagi.

Ketika kalong-kalong berterbangan semburat ramai, langit kepulauan Komodo yang indah dengan suasana sunset menjadi tampak magis ketika kalong-kalong hitam membentuk formasi sambung-menyambung beterbangan.

Kalong beterbangan senaj hari mencari makan dan kembali menjelang pagi.

Kalong beterbangan senja hari mencari makan dan kembali menjelang pagi.

Ada sekitar 20 boat yang berayun-ayun di permukaan laut tempat rombongan menonton kalong. Tiap-tiap boat itu berisi turis antara 4-15 orang. Atraksi kalong terbang senja itu ternyata sangat populer, dinanti-nanti turis yang adventure tour ke Komodo.

Bermalam di Kapal

Malam pertama, rombongan mahasiswa menginap di dalam boat. Kamar-kamar di dalam boat yang ditumpangi rombongan cukup bersih, agak mewah karena ber-AC. Satu kamar berisi tempat tidur untuk dua orang. “Kamar mandi bersih. Pastilah wisatawan puas menikmati tur ke Komodo,” kata Gian, mahasiswa.

Bermalam di kapal, kamar tidur ber-AC.

Bermalam di kapal, kamar tidur ber-AC.

Pagi hari, kapten kapal menyiapkan sarapan pagi berupa kopi, pisang goreng, dan roti panggang. Perjalanan pertama pagi itu adalah berlayar sekitar 1,5 jam menuju Pulau Komodo. Di Pulau ini, rombongan disambut oleh pemandu lokal, yang mengajak trekking sekitar dua jam. Dalam perjalanan, rombongan beruntung bisa melihat seekor komodo di habitatnya. Menurut perkiraan tahun 2014, di Pulau Komodo ada sekitar 2842 ekor biawak raksasa.

Rombongan mahasiswa dan turis asing lainnya yang trekking bersamaan, berhenti sekitar 20 menit menatap dan berfoto dengan latar belakang komodo yang sedang bermalas-malas. Komodo tersebut muntah dan kemballi memakan muntahannya, seperti bulu rusa.

“Mungkin dia sempat memangsa rusa belum lama ini,” ujar pemandu, yang senantiasa awas mengamati komodo itu sehingga tidak ganas dan tidak sampai menyerang. “Tenang-tenang, jaga jarak… silakan berfoto, tapi jangan terlalu dekat,” katanya kepada rombongan yang mengitari komodo itu dalam radius sekitar empat meter.

Trekking di Pulau Komodo dan di Pulau Rinca adalah perjalanan yang mengesankan karena alamnya indah. Di kedua pulau tersebut banyak savana, banyak pohon asem, silik, dan bekul. Dari Pulau Rinca, hamparan laut dan pulau-pulau dari kejauhan sangat memesona.

Treeking di Pulau Rinca.

Trekking di Pulau Rinca.

Seperti di Rinca, di Pulau Komodo pun ada beberapa ekor komodo yang bermalas-malas di dekan rumah panggung yang merupakan bangunan dapur.

Seusai trekking, rombongan kembali ke dermaga untuk naik boat. Dalam perjalanan itu, rombongan sempat melewati kios-kios suvenir yang menjual cendera mata seperti kaos, tenun ikat, dan patung komodo.

Suvenir di Pulau Komodo.

Suvenir di Pulau Komodo.

Dalam perjalanan kembali ke Labuan Bajo, rombongan singgah ke Pink Beach untuk berenang dan snorkling. Daerah ini disebut Pink Beach karena warna pasirnya yang pink-, lebih dari sekadar putih. Ada beberapa kapal yang mengangkut wisatawan yang juga lepas jangkar di dekat pantai pink ini. Penumpangnya berenang dan snorkling. “Di sini pun, alam bawaha laut indah sekali,” ujar Dian kagum.

Snorkling yang meriangkan hati.

Snorkling yang meriangkan hati.

Sebelum tengah hari, kapal kembali berlayar ke Labuan Bajo. Dalam perjalanan, rombongan disajikan makan siang yang sedap. “Makan usai berenang enak sekali apalagi memang masakannya enak,” kata Syamsul.

Makanan dalam perjalanan.

Makanan dalam perjalanan.

Malam hari, rombongan menginap di hotel berbintang, sedangkan makan malamnya di restoran lokal yang ternyata milik orang Bali. Masakannya juga enak.

Di Kantor Taman Nasional Komodo.

Di Kantor Taman Nasional Komodo.

Keesokannya, rombongan berkunjung ke Kantor Taman Nasional Komodo, untuk berdiskusi tentang Taman Nasional Komodo dari aspek pariwisata. Total komodo yang hidup di daerah taman nasional mencapai 5422 ekor, sebagian besar di Pulau Komodo dan Pulau Rinca.

Nama Pulau Komodo yang ditetapkan sebagai warisna budaya alam oleh UNESCO tahun 1991 menjadi lebih terkenal di dunia tahun 2007 lalu ketika dipromosikan lewat program New Seven Wonders bersama keajaiban alam lain di dunia. Walaupun inisiatif promo ini bermasalah, nama Komodo kian terkenal, dan banyak kapal pesiar mewah datang membawa turis ke tempat ini, dalam jalur pelayaran Australia ke Asia atau sebaliknya.

Tujuan terakhir kunjungan mahasiswa adalah ke Goa Batu Cermin, sebuah lorong purba yang menakjubkan. Wisatawan yang berkunjung ke goa ini diajak masuk ke dalam sejauh 250 meter, dalam ruang sempit dan lebar berselang-seling, tapi sangat gelap. Pemandu menyediakan pengunjung lampu senter dan helm di kepala untuk safety.

Goa Batu Cermin.

Goa Batu Cermin.

Di ujung lorong, tiba-tiba ada sinar terang, sinar yang dipantulkan oleh dinding goa yang mennjulang. Karena batu itu memantulkan cahaya itulah yang membuat goa ini dinamakan Goa Batu Cermin. Sebelum rombongan mahasiswa Unud masuk, ada rombongan turis lain sebanyak 15 orang yang ke luar, menandakan goa ini cukup dikenal dan memikat wisatawan.

Rombongan kembali ke Bali, naik pesawat selama 85 menit lagi, dari Bandara Komodo kembali ke Bandara ngurah Rai Bali. Dalam pesawat, banyak sekali wisatawan asing seperti dari Jerman dan Perancis. Banyak yang bertualang ke Flores, menyaksikan keindahan alam termasuk atau terutama binatang purba komodo (Teks dan Foto : Darma Putra)