Lokakarya Kurikulum Magister Terapan Pariwisata di Poltek Negeri Bali

Dari kiri: Putu Mertha Astawa (Pembantu Direktur I Poltek Negeri Bali), I Ketut Jaman, I Nyoman Darma Putra, dan Gde Mudana.

Dari kiri: Putu Mertha Astawa (Pembantu Direktur I Poltek Negeri Bali), I Ketut Jaman (Praktisi Pariwisata), I Nyoman Darma Putra (Kaprodi S-2 Kajian Pariwisata Unud), dan Gde Mudana (Panitia Pelaksana Lokakarya) (Foto Dok Ketut Jaman).

Ketua Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud, Prof. I Nyoman Darma Putra diundang sebagai narasumber dalam lokakarya kurikulum program  studi master (S2) terapan pariwisata di Politeknik Negeri Bali, Jumat, 29 Mei 2015.  Narasumber satu lagi adalah I Ketut Jaman, seorang praktisi pariwisata yang menekuni bisnis MICE.

Pembantu Direktur I Poltek Negeri Bali, I Putu Mertha Astawa, SE,MM, menyatakan bahwa pihaknya bertekad untuk membuka program magister di Poltek karena minat mahasiswa untuk menekuni pendidikan program S-2 terapan pariwisata kian tumbuh. Perkembangan pariwisata Bali, tambahnya, juga membutuhkan tenaga-tenaga level manajemen yang terampil dan handal.

“Lokakarya ini untuk menyusun naskah akademik dan rancangan kurikulum sehingga bisa diajukan ke Pusat,” ujarnya, saat membuka lokakarya yang diikuti 20 peserta, utamanya dosen.

Draft naskah akademik yang berisi alasan, visi misi, profil lulusan dan kurikulum disusun oleh sebuah tim yang diketuai Dr. I Gd Mudana. Program studi magister terapan pariwisata Poltek merancang tiga peminatan (konsentrasi) yaitu “Convention and Event Management”, “Hotel and Hospitality Management”, dan “Travel and Transportation Management”

Peserta lokakarya.

Peserta lokakarya (Foto Dok. Ketut Jaman).

Perkuat Aspek Terapan

I Nyoman Darma Putra menyambut baik tekad Poltek Negeri Bali membuka program magister terapan pariwisata karena Bali dan juga Indonesia memerlukan tenaga ahli di bidang pariwisata terapan. “Agar profil lulusan sebagai ahli dalam pariwisata terapan dapat tercapai, aspek terapan dalam kurikulum dan proses belajar mesti diperkuat,” ujar Darma.

Darma juga menyarankan untuk dimasukkan mata kuliah penunjang yaitu “Teknik Menulis” karena lulusan juga diharapkan terampil menulis, tak hanya menulis artikel, proposal, dan tesis tetapi juga menulis proposal untuk penawaran (bidding) dalam berbisnis.

Hal senada juga disampaikan I Ketut Jaman, Direktur PT Melali MICE Bali. Dia menyarankan agar perbedaan program master terapan pariwisata dengan program master kajian pariwisata lebih jelas dan tegas, maka nama-nama mata kuliah dan isinya harus lebih berorientasi aplikatif. “Kesan aplikatif itu idealnya sudah terasa sejak dari nama mata kuliah dan peminatan,” ujar Ketut Jaman.

Gde Mudana menyampaikan bahwa lokakarya tahap awal ini akan dilanjutkan untuk menyempurnakan naskah akademik pengajuan pembentukan program studi magister terapan pariwisata.  (*)