Laporan Program Pengabdian: Desa Kutuh Kelola Potensi Wisata untuk Sejahterakan Masyarakat

Catatan Yudhi Wirayuda, Angkatan 2015

Panggung pertunjukan sedang digarap sebagai bagian dari Gunung Payung Cultural Park (Foto-foto Yudhi Wirayuda)

Panggung pertunjukan sedang digarap sebagai bagian dari Gunung Payung Cultural Park (Foto-foto Yudhi Wirayuda)

Desa Kutuh Kecamatan Kuta Selatan, Badung, berusaha keras memanfaaatkan potensi desanya untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Demikian disampaikan Bendesa Desa Adat Kutuh Dr. Drs.  I Made Wena M.Si., dalam diskusi pariwisata berbasis masyarakat di Wantilan Pura Gunung Payung di desa setempat, Jumat, 30 September 2016. Diskusi itu terlaksana sebagai rangkaian dari program pengabdian pada masyarakat Program Studi S-2 Kajian Pariwisata Unud, diikuti 55 orang termasuk dosen dan mahasiswa. Acara juga dihadiri pengurus dan warga Desa Kutuh.

Desa Kutuh berada di dekat pantai yang dipenuhi dengan bukit karang. Setelah berhasil membelah bukit karang untuk membuka akses ke Pantai Pandawa sehingga pantai ini menjadi daya tarik wisata yang sangat populer, kini Desa Kutuh dibawah pimpinan Bendesa Dr. Made Wena mengembangkan Pura Gunung Payung Cultural Park.

Daya tarik wisata ini dikembangkan secara terintegrasi dengan mengembangkan unit usaha wisata pendukung lain seperti, unit transportasi, layanan kesehatan, wisata alam, dan wisata kuliner sehingga sebuah kompleks pariwisata yang lengkap  ini diharapkan  mengakomodir berbagai  pangsa pasar  wisatawan.

Peosna laut dan tebing Desa Kutuh yang hening dan eksotik.

Peosna laut dan tebing Desa Kutuh yang hening dan eksotik.

Menggandeng Swasta

Dengan menggandeng PT Bali Raga Wisata (PT BRW), proyek pembangunan Pura Gunung Payung Cultural Park (GPCP) diharapkan dapat menyaingi Garuda Wisnu Kencana (GWK) dan BTDC (sekarang lebih dikenal dengan nama PT ITDC [Indonesia  Tourism Development  Corporation). Kerja sama dengan swasta dilakukan dengan sistem kerja sama yang telah tertuang dalam sebuah  MoU.

Proyek rintisan Gunung Payung Cultural Park telah dilengkapi dengan lapangan golf 16 Hole ini dibangun dengan memanfaatkan  lahan tanah duwe (milik sakral) pura seluas 14 Ha  dari 16 Ha yang ada. Direncanakan soft opening untuk akhir tahun 2016 ini. Hadirnya  Monumen Padma Bhuwana dengan delapan pintu sebagai akses masuk sesuai arah mata angin juga turut  melengkapi kompleks destinasi wisata berbasis masyarakat ini.

Berbagai fasilitas penunjang terlihat sedang dikebut dikerjakan  berupa akses jalan pantai sedang dibangun. Pembangunan open stage ini nantinya  akan digunakan sebagai tempat pementasan tari kecak dengan dukungan sinar laser tiga dimensi, sebuah terobosan baru yang belum dimilki destinasi wisata lain akan  terwujud disini, karena nantinya wisatawan akan diajak merasakan sensasi api walapun hanya sebuah ilusi.

Sebagai bentuk tanggung jawab akan dibukanya Gunung Payung Cultural Park ini, diharapkan juga dukungan dari akademisi untuk ikut membantu dalam upaya pembinaan dan pelatihan masyarakat Desa Adat Kutuh terutama dalam mengubah paradigma masyarakat yang dulunya bergelut sebagai petani rumput laut hingga saat ini hidup larut  dalam sektor pariwisata terutama mereka yang langsung bersentuhan dengan wisatawan . Usaha tersebut sangat dibutuhkan agar interaksi antara wisatawan dan operator wisatawan dapat terjalin dengan baik dalam usaha menciptakan citra sebuah destinasi wisata baru.

Kantor LPD Desa Adat Kutuh.

Kantor LPD Desa Adat Kutuh.

Payung Hukum

Ketika sebuah destinasi wisata dibuka untuk kepentingan umum dan bertujuan untuk mencari keuntungan maka sangat diperlukan sebuah payung hukum sebagai landasan  pembentukan usahanya, dengan diterbitkannya Awig-awig  Desa Adat Kutuh  berdasarkan Keputusan Desa Bendesa Adat Kutuh  Nomor : 12/KEP.DAK/XII/2014 dapat dikatakan sah secara hukum. Namun, alangkah baiknya apabila legal aspek sebuah usaha dilengkapi disesuaikan dengan ketentuan Perda yang berlaku sebab Perda secara konstitusi salah satunya mengatur tentang usaha-usaha yang dimiliki oleh desa adat. contohnya LPD.

Terlepas dari ketentuan legalitas sebuah usaha, yang tak kalah  menarik adalah ketika Ir AAG Raka Dalem seorang pemerhati di bidang ekowisata, memberikan pemaparan mengenai konsep yang berorientasi  pada pelestarian alam “Ada batas-batas tertentu yang dapat dilakukan dalam pengeloalan dan pemanfaatan alam, karena tidak semua wisatawan tertarik pada destinasi wisata buatan manusia, ada banyak pula wisatawan yang ingin berkunjung karena keaslian alam dari destinasi yang dikunjunginya,” ucapnya.

Di sisi lain beliau juga mengajak masyarakat Desa Adat Kutuh untk mencoba menerapkan Waste Water Garden, sebuah konsep yang muncul dari konsep teba dimiliki masyarakat Bali yaitu dengan didahului dengan pengolahan limbah dari hotel-hotel dan bangunan pendukung di areal Gunung Payung Cultural Park ini dialirkan kembali pada pada taman-tamannya. “Hal itu justru menjadi daya tarik sendiri bagi destinasi wisata ini pada akhirnya,”  imbuhnya.

Peserta diskusi

Peserta diskusi

Diskusi yang awalnya yang dibuka oleh Prof. I Nyoman Darma Putra ini, diikuti pula  oleh   pula oleh Karyasiswa Magister Kajian Pariwisata angkatan 2016 dan beberapa dari orang perwakilan dari angkatan 2015 termasuk penulis, akhirnya ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dari prodi S-2 Kajian Pariwisata Unud dengan memberikan buku Pariwisata Berbasis Masyarakat Model Bali yang artikel yang meneliti Community Based Tourism di Bali (Yudhi Wirayuda).