Angkatan 2014: Kunjungan ke Jatiluwih, Subak Warisan Budaya Dunia UNESCO

Mahasiswa baru Angkatan 2014 mengadakan kunjungan ke Jatiluwih, Agustus 2014

Mahasiswa baru Angkatan 2014 mengadakan kunjungan ke Jatiluwih, Sabtu, 30 Agustus 2014

Usai matrikulasi, mahasiswa baru Kajian Pariwisata Unud Angkatan 2014 mengadakan kunjungan ke Subak Jatiluwih, bagian dari Warisan Budaya Dunia UNESCO. Kunjungan ini mendapat liputan koran, Radar Bali.

Usai matrikulasi, mahasiswa baru Kajian Pariwisata Unud Angkatan 2014 mengadakan kunjungan ke Subak Jatiluwih, bagian dari Warisan Budaya Dunia UNESCO. Kunjungan ini mendapat liputan koran, Radar Bali.

Berikut adalah salah satu liputan media online tentang kunjungan mahasiswa S-2 Kajian Pariwisata ke Jatiluwih.

WARISAN BUDAYA DUNIA: Pengelolaan Jatiluwih Mulai Dirasakan Masyarakat

Bisnis.com, TABANAN–Pengelolaan objek wisata Jatiluwih yang menjadi bagian dari warisan budaya dunia Unesco mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat.

Ketua Program Studi Kajian Pariwisata Universitas Udayana Prof I Nyoman Darma Putra mengatakan masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas keseluruhan objek wisata Jatiluwih, tetapi pembentukan badan pengelola objek wisata telah mulai melakukan penataan ke arah positif.

“Tampaknya pengelola telah mampu menunjukkan manfaat ekonomi objek wisata kepada masyarakat termasuk petani sehingga ke depannya hal positif ini bisa menimbulkan kesadaran untuk pengembangan Jatiluwih sebagai sumber daya ekonomi pariwisata masyarakat menjadi lebih baik seperti objek wisata Tanah Lot,” ujar Darma seusai mengajak mahasiswa baru S-2 Pariwisata berkunjung ke Jatiluwih, Sabtu (30/8/2014).

Para mahasiswa dan dosen yang berjumlah 45 melakukan pengamatan dan berdiskusi dengan pekaseh, bendesa adat, kepala desa, dan badan pengelola daya tarik wisata Jatiluwih.

Kata dia kunjungan ke objek wisata bentang sawah nan indah yang telah masuk dalam daftar warisan budaya dunia Unesco itu bagi mahasiswa Kajian Pariwisata sangat penting. Mahasiswa bisa mempelajari perkembangan objek wisata, dan juga menyumbangkan gagasan untuk pengembangan.

Saat diskusi dalam kunjungan tersebut terungkap berbagai perkembangan positif dan kendala dalam pengelolaan Jatiluwih ke depan. Mahasiswa juga memberikan saran untuk pengelolaan Jatiluwih agar lebih menarik.

Meningkat Tajam

Menjawab pertanyaan mahasiswa, pengelola Jatiluwih, Driana Rika mengatakan jumlah kunjungan wisatawan ke destinasi ini meningkat tajam dibandingkan sebelum Jatiluwih menjadi Wrisan Budaya Dunia Unesco. Sampai Juli 2014, jumlah kunjungan sudah mencapai 78.839 orang, kebanyakan tamu Jepang dan Eropa.

Meningkatnya angka kunjungan mendongkrak pendapatan pengelola. Sampai Juli 2014, pengelola sudah mengantongi Rp 1,4 miliar. Pendapatan itu diperoleh dari karcis masuk, parkir, dan pendaptan lain seperti shooting pre-wedding. Tiket masuk untuk turis asing Rp20.000, untuk domestik Rp15.000.000, parkir kendaraan roda empat Rp5.000.

“Dalam setengah tahun pendapatan kita sudah segitu, sebelumnya jumlah sebegitu dicapai dalam bertahun-tahun,” ujar Rika.

Pendapatan dari objek wisata Jatiluwih dibagi berdasarkan persentase antara pemerintah dan masyarakat petani dan warga desa adat. “Sejauh ini, bantuan untuk petani dialokasikan untuk dana kesehatan atau pengobatan. Untuk warga desa, mereka merasakan hasil objek wisata karena tidak perlu lagi membayar urunan untuk upacara adat di desa,” ujar Rika.

Pekaseh Subak Jatiluwih Nyoman Sutama menyampaikan popularitas Jatiluwih terjadi selain karena objek sawah yang menarik juga karena status Warisan Budaya Dunia yang diberikan Unesco. “Sejumlah wartawan televisi dari Jepang seperti Kyodo News dan NHK datang kemari dan menyiarkan subak kami di negerinya, sejak itu kunjungan meningkat,” ujar Sutama.

Popularitas Jatiluwih menimbulkan masalah mendesak yakni kesulitan menyediakan lahan parkir. Berdasarkan pengamatan, kendaraan wisatawan terpaksa parkir di tepi jalan yang sempit. Fasilitas parkir restoran hanya menampung satu-dua kendaraan. “Lahan yang berupa sawah tidak tidak boleh diotak-atik menjadi apa pun termasuk tempat parkir,” tambah Sutama.

Wisatawan yang berkunjung ke Jatiluwih bisa menikmati keindahan bentangan alam persawahan dari duduk di restoran, atau melakukan tracking melintasi pematang. Atas pertanyaan mahasiswa S-2 Pariwisata Unud apakah pengelola merancang program untuk turis yang datang agar bisa mendapatkan pengalaman bertani, Nyoman Sutama mengatakan ‘ya’ misalnya yang ringan-ringan seperti mengajak turis ikut memotong padi menggunakan ani-ani. “Kalau turun berlumpur, mungkin tidak,” tambah Sutama.

Untuk meningkatkan daya tarik objek wisata, dalam waktu dekat pengelola bekerja sama dengan petani untuk melakukan membajak sawah dengan sapi/kerbau secara massal. “Membuat event yang menambah daya tarik wisata tidak begitu sulit, tetapi menampung kendaraan pengunjung dalam parkir yang luas, itu kendala,” katanya.

Pemkab Tabanan sedang berusaha untuk mendapatkan areal untuk parkir dan jika itu terealisasi akan memecahkan masalah parkir dan dapat meningkatkan turis berkunjung ke Jatiluwih.

Sumber: http://bali.bisnis.com/read/20140831/20/46627/warisan-budaya-dunia-pengelolaan-jatiluwih-mulai-dirasakan-masyarakat