Kuliah Umum Prof. I Gde Pitana di Unud: Pariwisata Salah Satu dari Lima Prioritas

IMG_2897

Prof. I Gde Pitana saat meluncurkan buku “Pariwisata Berbasis Masyarakat Model Bali” sebelum memberikan kuliah umum di S-2 Kajian Pariwisata Unud (Rabu, 20/4/2016). Foto Darma Putra.

Silakan unduh: Paparan Deputi BP3M – Kuliah Umum UNUD

Pemerintah Indonesia mulai memprioritaskan pembangunan pariwisata dan bertekad untuk bisa maju melampaui pencapaian industri kepariwisataan negara tetangga.

Demikian disampaikan Deputi Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran Mancanegara Prof. Dr. I Gde Pitana,M.Sc. dalam kuliah umumnya di S-2 Kajian Pariwisata Unud, Rabu (20 April 2016). Acara kuliah umum diawali dengan peluncuran buku Pariwisata Berbasis Masyarakat Model Bali yang disunting I Nyoman Darma Putra dan diterbitkan S-2 Kajian Pariwisata Unud.

Acara dibuka oleh Direktur Pascasarjana Unud Prof Dr. dr AA Raka Sudewi, Dekan Fakultas Pariwisata Unud Made Sendra, Sekretaris Prodi Doktor Pariwisata Unud Dr. Agung Suryawan, para dosen, mahasiswa, dan kalangan umum. Dihadiri sekitar 225 peserta, acara berlangsung penuh makna dengan tanya jawab yang intens selama dua jam penuh.

Prof. I Gde Pitana saat memberikan kuliah umum di s-2 Kajian Pariwisata Unud (Foto Putu Indra Tirtayasa)

Prof. I Gde Pitana saat memberikan kuliah umum di s-2 Kajian Pariwisata Unud (Foto Putu Indrayana Tirtayasa)

Sektor Prioritas

Pitana menyampaikan bahwa pariwisata termasuk salah satu dari lima prioritas Kabinet Kerja Presiden Jokowi. Kelima prioritas tersebut adalah pembangunan infrastruktur, maritim, energi, pangan, dan pariwisata.

Prioritas itu dilakukan dalam tindakan nyata dengan mengeluarkan berbagai kebijakan pendukung mulai dari menyediakan dana promosi yang lebih besar dari sebelumnya, kebijakan bebas visa kunjungan sebulan bagi 169 negara, pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata, penyederhanaan izin kapal pesiar ke Indonesia, pembangunan 10 destinasi baru, dan peningkatan biaya promosi.

“Dengan prioritas ini, kita yakin perkembangan pariwisata Indonesia akan pesat,” kata guru besar pariwisata Unud itu.

“Tahun 2020, sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia,” tambah Prof. Pitana.

Dia menambahkan, banyak negara di dunia termasuk negara tetangga seperti Thailand yang sudah sejak lama memprioritaskan pembangunan pariwisatanya. “Kita baru melakukannya, dan kita punya mimpi untuk melampaui pencapaian negara tetangga,” kata Pitana optimistik.

Peserta dalam tanya jawab saat kuliah umum (Foto Putu Indrayana Tirtayasa).

Peserta dalam tanya jawab saat kuliah umum dengan Prof Pitana (baju putih) (Foto Putu Indra Tirtayasa).

Dalam tanya jawab muncul berbagai pertanyaan kritis tentang strategi promosi ditigal yang dilakukan Kementerian dan juga masalah basi seperti sampah di objek wisata tau pantai.

“Untuk promosi digital, Indonesia sudah melakukan secara agresif, misalnya membeli kata di mesin pencari Google sehingga kalau ada warga dunia yang mencari kata diving atau ecotourism mereka akan disodorkan diving di Indonesia dan harapan kita mereka akan ke Indonesia,” ujar Pitana mantap.

Untuk masalah sampah dan infrasttruktur yang masih kurang, Prof. Pitana menyarankan agar mengirim info masalah sampah ke ‘inbox’ Pitana dan ke Dinas Pariwisata Daerah untuk ditangani. “Kalau diposting di sosial media, hal buruk itu akan menyebar dan dapat menganggu jalannya industri pariwisata dan menutup periuk nasi banyak orang termasuk sopir taksi,” katanya.

 Trend Meningkat

Selama ini, menurut Pitana, trend pendapatan negara dari pariwisata terus meningkat. Jika dibandingkan dengan pendapatan minyak dan gas, batubara, dan kelapa sawit, pendapatan pariwisata memang amsih di bawah sektor itu.

“Realitas sekarang penting, tapi trend juga penting kita perhatikan,” ujarnya Dengan optimistik, Pitana menyampaikan bahwa tahun 2020 pariwisata akan menjadi penyumbang terbesar devisa negara (lihat Foto Grafik).

oil

Di akhir kuliahnya, Prof Pitana mengajak kalangan penelitia dan akademisi untuk berkiprah di bidangnya dengan melakukan penelitian dan publikasi mengenai pariwisata.

“Jika kegiatan itu mengandung kata kunci secara kombinatif sesuai dengan tupoksi saya, yaitu pemasaran pariwisata mancanegara, kami akan mendukung secara finansial,” katanya. (*)