Kuliah Lapang Community Based Tourism di Biorock, Yayasan Karang Lestari, Pemuteran, Buleleng

Pengembangan pariwisata massal (mass tourism) telah disadari menimbulkan beberapa dampak negatif terutama bagi destinasi pariwisata dalam spektrum yang luas baik menyangkut perilaku destruktif wisatawan, ketidakmampuan daya dukung destinasi dengan ekploitasi berlabel aktivitas pariwisata, kebocoran ekonomi yang parah, eksklusifitas yang didominasi pemodal,  sampai ancaman terhadap keberlanjutan destinasi.

Oleh karenanya, perkembangan pembangunan kepariwisataan diarahkan pada nuansa environmentaly sound, economically viable, dan sociocultutally acceptable apa yang lumrah dikenal sebagai sustainable tourism. Bermacam model pengembangan kepariwisataan dirancang untuk tujuan tersebut misalnya ekowisata (environmentaly sound), pariwisata berbasis masyarakat (socio-economic-culturally acceptable), dan model-model pengembangan pariwisata lainnya.

Model pendekatan community based tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat juga menjadi kajian mata kuliah wajib dalam Program Kelas Internasional Magister Pariwisata UNUD yang dimotori oleh Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra dan Dr. I Ketut Surya Diarta, MA. Kelas internasional ini selama dua hari (tanggal 1 sd 2 Desember 2018) mengadakan kuliah lapang CBT di Program Biorock, Yayasan Karang Lestari, Desa Pemuteran, Buleleng dengan didampingi dosen pembimbing Dr. I Ketut Surya Diarta, MA.

Hari pertama kuliah lapang CBT diisi dengan tatap muka dan diskusi dengan penanggung jawab Yayasan Karang Lestari (Bpk I Komang Astika) dan Pimpinan Pecalang Segara Pemuteran (Bpk I Made Gunaksa). Pada kesempatan tersebut pihak Yayasan menceritakan asal muasal program CBT yang diinisiasi oleh Bpk I Gusti Agung Prana seorang social-entrepreneurship di bidang pariwisata yang tersentuh melihat kerusakan parah terumbu karang akibat praktek penangkapan ikan illegal dengan potassium, bom ikan, bahkan diambil sebagai bahan kapur atau langsung dijual beserta ikan hiasnya. Hal ini akibat kemiskinan dan lahan pertanian yang tidak produktif karena tandus.

Lewat Yayasan Karang Lestari yang didirikannya dan kerjasamanya dengan Desa Adat, Desa Dinasi dan masyarakat Desa Pemuteran melalui serangkaian pertemuan, mulai menyadari akan kondisi tersebut sehingga dimulailah program restorasi dan konservasi terumbu karang pada sekitar tahun 1990. Usaha pertama dengan membuat struktur besi yang ditanami terumbu karang dan dialiri listrik searah untuk mempercepat proses pertumbuhan terumbu karang yang dikenal sebagai teknologi Biorock. Sampai akhir tahun 2018 sudah terpasang kurang lebih 130 struktur terumbu karang buatan dengan sebaran seluas hampir  5 kilometer persegi sebagai daerah konservasi. Teknologi Biorock ini ternyata mempercepat tumbuhnya terumbu karang hampir lima kali lipat dari pertumbuhan alaminya sekaligus lebih tahan terhadap efek pemanasan global.

Tumbuhnya terumbu karang kemudian mengundang banyak ikan-ikan berdatangan dan juga mengundang ikan-ikan besar datang yang menyebabkan nelayan mendapatkan tangkapannya. Terumbu karang yang berwarna-warni sendiri menjadi lokasi diving dan snorkeling yang sangat eksotis dan terkenal ke seluruh dunia sehingga menarik kedatangan wisatawan dalam negeri dan mancanegara. Pelan-pelan masyarakat Pemuteran menyadari potensi pariwisat ini dan berkembang menjadi daya tarik ekowisata terumbu karang berbasis masyarakat.

Dalam kegiatan diskusi terungkap beberapa best practice tahapan pengembangan yang dilakukan oleh Yayasan Karang Lestari. Proses implementasi CBT melalui ekowisata terumbu karang di Pemuteran mengalami tiga fase yaitu:

  • Fase resistensi, ditandai penolakan atau pengabaian program oleh masyarakat karena adanya larangan mencari terumbu karang, memancing, atau mengebom ikan di wilayah konservasi oleh Pecalang Segara,
  • Fase adaptasi, ditandai oleh adanya pertimbangan matang mengenai berbagai aspek yaitu resiko ekonomi, resiko sosial, resiko budaya, dan resiko dari sisi keunggulan kompetitif pengembangan ekowisata terumbu karang dan prospek jangka panjang sebagau daya tarik wisata yang menguntungkan masyarakat lokal, dan
  • fase transformasi, ditandai oleh adanya perubahan pola pikir (mindset) masyarakat lokal dari pelaku perusakan terumbu karang (destructor) menjadi penyelamat lingkungan (conservator) juga ditandai dengan dukungan penuh terhadap ekowisata terumbu karang karena terbukti mampu mengundang wisatawan sehingga perekomnomian masyarakat meningkat.

Masyarakat lokal sekarang menikmati buah retorasi dan konservasi terumbu karang yang berkembang menjadi ekowisata terumbu krang berbasis masyarakat lokal. Keberhasilan ini juda didukung adanya pengawasan wilayah konservasi oleh Pecalang Segara yang dibentuk oleh Desa Adat Pemuteran.

Kegiatan hari kedua pada pagi hari sampai siang diisi dengan kegiatan snorkeling, diving, dan bottom glass boat tour di sekitaran wilayah restorasi dan konservasi terumbu karang sambal menikmati keindahan terumbu karang dan menjelang siang pengamatan berbagai kegiatan ekonomi yang muncul akibat berkembangan ekowisata terumbu karang ini seperti bermuculannya homestay yang dimiliki warga lokal, restoran, penyewaan alat snorkeling dan diving, perahu wisata, warung makan, dan sebagainya.

Bagi mahasiswa sendiri kegiatan ini sangat menginspirasi seperti Yogi mahasiswa asal Lombok yang sebenarnya pernah melakukan aktivitas sejenis tapi kurang berhasil sehingga kuliah lapang ini membuka wawasan dan kiat-kiat yang dilakukan oleh Yayasan Karang Lestari dan diharap ada kerjasama program penyelamatan pesisir dan ekosistem laut di Lombok. Demikian juga Nelman, mahasiswa Papua yang sangat antusias terhadap model pengembangan ekowisata berbasis masyarakat lokal karena secara potensi sumber daya alam laut Papua sangat luar biasa tetapi belum bisa dimanfaatkan untuk peningkatan perekonomian masyarakat dan Nelman sudah bertekat apa yang akan dilakukannya setelah lulus nanti untuk membantu masyarakat Papua melalui pengembangan kepariwisataan. Kegiatan Kuliah Lapang ini berakhir sekitar Pkl 14.00 Wita dan kembali ke Kampus Denpasar dengan singgah di salah satu rumah mahasiswa sambil berpesta durian dan manga. Semua mahasiswa selamat tiba di kampus tanpa kekurangan apapun dan dengan pengalaman yang sangat berkesan dan bermanfaat.